Jumat , 26 Mei 2017
Home » Berita Foto » Agung Triyanto Bersaksi di Pengadilan, Bantah Terlibat Kasus BBM

Agung Triyanto Bersaksi di Pengadilan, Bantah Terlibat Kasus BBM

agung
Anggota DPRD Kota Tanjungpinang, Agung Triyanto saat memberikan keterangan sebagai saksi dalam kasus dugaan penyelewengan BBM bersubsidi di PN Tanjungpinang, Selasa (23/12). Foto: Rindu Sianipar

Tanjungpinang, sidaknews.com – Setelah sempat mangkir dua kali dari panggilan persidangan, akhirnya Agung Triyanto, Anggota DPRD Kota Tanjungpinang memenuhi panggilan Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (23/12).

Ia bersaksi untuk kasus dugaan penyelundupan BBM subsidi dengan terdakwa Syahgunandar cs. Pantauan di lapangan, Agung datang dengan kendaraan pribadi yang dikendarai supirnya.

Agung hadir dengan mengenakan kemeja putih dan celana jeans berwarna biru. Tidak ada komentar yang terlontar dari mulut Agung ketika ditanya soal kasus yang menyeret nama dirinya tersebut.

“Nantilah, kita lihat sidang saja,” kata Agung kepada wartawan sebelum sidang digelar.

Dalam keterangannya di hadapan majelis hakim yang dipimpin Fathul Mujib dan dua hakim anggota, ia membantah jika dirinya yang memerintahkan terdakwa membeli BBM subsidi dari Agen Penyalur Minyak Subsidi (APMS) CV Tiga Muda Bintan Perkasa (TMBP).

“Saya tidak pernah berkomunikasi dengan terdakwa terkait BBM,” kata Agung. Meski membantah, namun ia tidak menampik jika dirinya memang mengenal dua terdakwa yakni Syahgunandar dan Bimo karena kedua terdakwa ini merupakan anggota Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan TNI-Polri (FKPPI).

“Saya mengenal keduanya karena satu organisasi dengan saya,” ujar Agung yang juga Ketua FKPPI Provinsi Kepri ini. Saat hakim memperlihatkan puluhan isi Short Message Service (SMS) terkait proses aktivitas dugaan kasus penyelewengan BBM bersubsdi dari ponsel Syahgunandar dan Bimo yang menyebut namanya, Agung dengan tegas membantahnya.

“Saya tidak pernah mengirim SMS seperti itu ke terdakwa. Memang saya pernah beberapa kali berkomunikasi dengan terdakwa via telepon, tapi bukan hal BBM akan tetapi hal lain, seperti untuk kegiatan organisasi. Nomor ponsel tersebut juga bukan nomor saya, tak tahu siapa yang mengirimkan SMS itu sama saudara Syahgunandar dan Bimo,” ujar Agung.

Puluhan SMS yang diperlihatkan hakim tersebut menyebut, ada perintah seseorang (menggunakan kata sandi seperti “Agung baru” dan “Ketua I”) menyuruh para terdakwa untuk melakukan pembelian, pelansiran BBM. “Tapi dalam isi SMS ini, ada menyebut nama Agung baru, Ketua I untuk menyuruh terdakwa membeli dan melansir BBM,” ujar hakim.

Mendapat pernyataan dari hakim, lagi-lagi Agung membantah jika dirinya yang dimaksud sebagaimana dalam isi SMS di dalam ponsel terdakwa. Sementara itu, terkait kehadiran dirinya ke Makodim 0315/Bintan pasca penangkapan para terdakwa oleh Unit Intel Kodim 0315/Bintan, Agung mengakuinya.

Ia beralasan pergi ke markas tentara itu, karena mendapat informasi jika ada anggotanya di FKPPI mendapat masalah. “Saya waktu itu, mendapat laporan jika ada anggota saya bermasalah. Dan langsung ke Makodim. Tapi, ketika itu saya tidak tahu apa permasalahan yang dihadapi mereka (Syahgunandar dan Bimo).

Saya ketika itu datang berempat dengan teman saya,” katanya. Kedatangan dirinya, kata Agung, bukan untuk mengintervensi para penyidik TNI, akan tetapi hanya ingin koordinasi saja dengan pihak Kodim dan memberi dukungan moral pada anggota yang bermasalah. “Sebagai ketua organisasi saya respon saja, ketika mendengar ada anggota yang bermasalah dengan penegak hukum seperti TNI. Makanya, saya langsung datang ke sana (Makodim),” kata dia.

Selain Agung, dalam persidangan juga menghadirkan empat orang saksi penangkap dari Unit Intel Kodim 0315/Bintan yakni Lettu E.S Nasution, Serda Bisman, Sertu Yuda dan Kopral Khairuddin (fotografer). Nasution menjelaskan, jika dirinya bersama anggotanya melakukan penangkapan terhadap terdakwa ketika diduga sedang melakukan aktivitas penyelewengan BBM subsidi di sebuah pelabuhan di daerah Madong, Senggarang Tanjungpinang beberapa waktu lalu.

“Kita mendapat perintah dari komandan (Dandim 0315/Bintan) untuk melakukan penyelidikan karena beliau mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya dugaan aktivitas penyelewengan BBM di pelabuhan tersebut,” kata Nasution.

Usai mendapat perintah, lanjut saksi, dirinya memerintahkan anggotanya untuk menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan pemantauan terlebih dahulu (pulbaket-red). “Sebelum penangkapan, kita terlebih dahulu melakukan pemantauan,” kata Nasution. Nasution mengatakan, sebelum kasus ini diserahkan ke polisi, pihaknya sempat memeriksa terdakwa. Dalam pemeriksaan, Syahgunandar sempat menyebut jika Agung Triyanto adalah atasannya.

“Saudara Syahgunandar sempat menyebut nama Agung ketika ditanya siapa atasannya dalam pemeriksaan yang dilakukan anggota saya. Sedangkan Syahgunandar sendiri mengaku bertanggung jawab di lapangan saja,” ujar Nasution membeberkan keterangan Syahgunandar saat diperiksa di Makodim. Terkait keterangannya yang juga termuat dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) versi TNI tersebut, beberapa poin dibantah terdakwa, khususnya penyebutan nama Agung.

“Saya tidak pernah menyebut nama Agung,” kata Syahgunandar membantah keterangan di BAP versi TNI tersebut. Usai mendengarkan seluruh keterangan saksi, majelis hakim menutup persidangan dan akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda untuk mendengarkan keterangan saksi yang lain. (Rindu Sianipar)

Check Also

Desa Paya Bujok Beuramoe Khitan Anak Kurang Mampu

Langsa, sidaknews.com – Sedikitnya 20 orang anak dari keluarga yang kurang mampu di desa Paya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *