Kamis , 30 Maret 2017
Home » Berita Foto » Berat Mata Memandang, Berat lagi Bahu Memikul, Pagar Yang Diharap Pagar Makan Tanaman

Berat Mata Memandang, Berat lagi Bahu Memikul, Pagar Yang Diharap Pagar Makan Tanaman

Oleh: Jendaita Pinem

Jendaita Pinem
Jendaita Pinem

Tanjungpinang,Sidaknews.com – Dengan terbuktinya Suban Hartono berperan sebagai Konspirator dalam merekayasa fakta pada Perkara Perdata Nomor: 04/PDT.G/2010/PN.TPI dan Perkara Pidana Nomor: 82/PID.B/2010/PN.TPI mengkibatkan terjadinya kejahatan Hukum secara sistematik namun begitu Suban Hartono tetap bebas tertawa menggoda Penegakan Hukum di Tanjungpinang karena ia selalu mendapat keistimewaan Hukum dan tidak pernah terjangkau hukum atau kebal hukum.

Hal itu sangat berbeda dengan nasib yang saya alami dimana saya (Jendaita Pinem) selaku karyawan yang disebut sebagai terdakwa III dalam Perkara Pidana Nomor: 82/PID.B/2010/PN.TPI dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak Pidana Penambangan Tanpa Ijin Usaha Pertambangan (IUP).

Dengan begitu saja walaupun saya tidak pernah melakukannya dan terus di campakkan kedalam Penjara tanpa melakukan penyelidikan secara menyeluruh dan terperinci mengenai benar tidaknya saya telah melakukan tindak Pidana Usaha Pertambangan.

Inilah yang asay anggap berat mata memendang berat lagi bahu memikul, karena jika diteliti secara jujur dan tidak memihak kepada kepentingan Suban hartono maka Putusan seharusnya menyatakan Suban Hartono telah terbukti bersalah merekayasa Fakta dan membuat keterangan palsu.

Tetapi malangnya saya yang tidak pernah melakukan kesalahan sebagaimana yang didakwakan Justru di Putuskan telah bersalah melakukan tindak Pidana Melakukan Usaha Penambangan tanpa Ijin Usaha Pertambangan (IUP).

Putusan ini menunjukkan suatu kezaliman apabila menjatuhkan Putusan terhadap saya bersalah didasarkan hanya pada Pendapat berdasarkan pandangan mata sesaat pada bekas galian yang didakwakan bukan berdasarkan rekomendasi dari hasil Penelitian Ahli dibidang Pertambangan dan ketentuan Undang-Undang yang mengatur tentang apa yang didakwakan.

Dari itu Hakim yang dianggap Wakil Tuhan di Pengadilan seakan telah mencabut nyawa saya sebelum ajal apabila Hakim Rustiono SH M.Hum dan T.Marbun SH MH dalam memeriksa dan Mengadili serta memutus kedua Perkara sanggup melanggar ketentuan Undang-Undang serta melanggar Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang patut diduga hanya untuk memenuhi pesanan Suban Hartono agar saya dinyatakan bersalah dan di penjara serta untuk mengabulkan GUGATAN Suban Hartono/PT Kemayan Bintan.

Akibatnya Fungsi Kejaksaan sebagai Pembela Negara dan Penuntut Umum telah berperan bagaikan “Pagar yang diharap pagar makan tanaman”.

Hal ini saya nyatakan apabila 2 (dua) alat Berat yang tidak termasuk dalam Daftar Penyitaan yang ditetapkan oleh Pengadilan Negeri Tanjung Pinang dirampas dengan begitu saja oleh Penuntut Umum dan Barang Bukti Berupa Bijih Bauksit yang bernilai Puluhan Milyar Rupiah dikembalikan oleh Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang kepada Suban Hartono/PT Kemayan Bintan melalui Ferry Lee Garcia yang dapat dipastikan bukan sebagai Pemiliknya.

Kejaksaan yang bertugas sebagai Pembela Negara dan Pununtut Umum seharusnya lebih mengetahui bahwa siapapun yang kalah atau yang menang dalam Perkara Pidana Nomor : 82/PID.B/2010/PN.TPI dan dalam Putusan Mahkamah Agung RI tetapi Barang Bukti Bijih Bauksit tersebut bukanlah Suban Hartono/PT Kemayan Bintan atau Ferry Lee Garcia menjadi Pemiliknya.

Terkecuali Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang telah mengubah ketentuan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Pasal 4 Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Pasal 46 KUHAP dan Pasal 231 ayat (1) KUHP, sepanjang Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang belum mengubah ketentuan undang-undang diatas maka pengembalian barang bukti Bijih Bauksit tersebut kepada Ferry Lee Garcia seakan telah mengubah maksud dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yaitu Langit, Air, Bumi dan yang terkandung didalam adalah dikuasai oleh Negara berubah menjadi milik Suban Hartono/PT Kwmayan Bintan .
Sepanjang Kejaksaan Negeri Tanjungpinang tidak dapat menyatakan bahwa maksud dari kelima-lima ketentuan Undang-Undang diatas telah diubah (digubal) maka Kejaksaan Negeri Tanjungpinang tidak mempunyai dasar Hukum dan telah melanggar ketentuan Undang-Undang dalam mengembalikan Barang Bukti Bijih Bauksit tersebut kepada Ferry Lee Garcia.

Maka dengan demikian Penuntut Umum dan oknum Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang terbukti telah melanggar dan menyalah gunakan Penetapan Penyitaan Pengadilan Negeri Tanjung Pinang Nomor: 430/Pen.Pid/2009PN.TPI, Tanggal 12 Oktober 2009.

Sehingga patut diduga Penuntut Umum dan Kejaksaan Negeri Tanjung Pinang mengembalikan barang bukti tersebut yang bernilai Puluhan Milyar Rupiah kepada Ferry Lee Garcia berdasarkan pesanan atau pendapat bukan diatur berdasarkan undang-undang.

Atau patut diduga berdasarkan Suap/sogok sehingga Super Visi KPK akan kita mohonkan agar turun tangan untuk turut mengawasi proses GUGATAN kembali Sdr Nguan Seng terhadap Suban Hartono/Kemayan Bintan karena diduga Suban Hartono Dkk tetap akan menghalalkan segala cara agar perbuatannya yang telah terbukti melawan hokum dan merugikan Negara untuk memperkaya diri sendiri dan orang lain tidak sampai terbongkar. (**)

Check Also

Tiga Pelaku Pengeroyokan Wartawan Berhasil Ditangkap Polda Sumut

Medan, sidaknews.com – Tiga orang tersangka pelakukasus pengeroyokan terhadap seorang wartawan Inews Tv bernama Adi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *