Kamis , 30 Maret 2017
Home » Berita Foto » Bupati Purwakarta Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Mi’raj di Rest Area 97 Cipularang

Bupati Purwakarta Hadiri Peringatan Maulid Nabi di Masjid Al-Mi’raj di Rest Area 97 Cipularang

Bupati Purwakarta
Bupati Purwakarta H.Dedi Mulyadi SH. Dalam kata sambutannya, menjelaskan perjalanan kisah Nabi Muhammad harus dijadikan panutan khususnya kepada Orangtua dalam mendidik Anaknya.

Purwakarta,Sidaknews.com – Bupati Purwakarta, H.Dedi Mulyadi,SH hadir dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H di Masjid Al-Mi’raj (26/1) di Rest Area KM 97 Tol Cipularang.

Acara sendiri diisi oleh ceramah dari Ustad Ahmad Al-Habsyi, Sekretaris Daerah Purwakarta Drs. H. Padil Karsoma, M.Si, Pejabat Eselon II dan III, yang juga turut hadir unsr Muspika Kecamatan Darangdan, keluarga besar DKM Masjid Al-Mi’raj serta kelompok pengajian baik dari Purwakarta maupun Bandung.

Dalam sambutannya, Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa perjalanan kisah Nabi Muhammad harus dijadikan panutan, terutama oleh para orang tua dalam mendidik anak.

“Ada satu hal yang harus diperhatikan dalam kisah perjalanan Rasul kita, Nabi Muhammad SAW, bagaimana beliau yang merupakan kekasih ALLAH SWT dalam perjalanan hidupnya diprihatinkan, sejak kecil sudah yatim piatu, tinggal bersama pamannya disana membantu pamannya dengan menggembala hewan ternak, mencari kayu bakar dan besar sedikit beliau berdagang dengan mendagangkan dagangan orang lain.

Kisah ini yang harus dijadikan panutuan atau pembelajaran orang tua dalam mendidik anaknya,karena untuk membentuk sebuah generasi yang kuat kita harus belajar dalam proses perjalanan kehidupan nabi kita.”, ujarnya.

Dedi pun menambahkan bahwa dalam falsafah sunda ada dua hal yang mengajarkan akan proses kesadaran diri, yang dimana menurutnya proses tersebut sangat berkaitan dengan kehidupan manusia.

IMG_7701“sadar itu adalah diri kita dimana kita harus mempunyai kesadaran dalam proses kehidupan dimana – mana saya mengkampanyekan falsafah sunda yaitu seut saringseut pageuh ikeut yang berarti pikiran cing carincing pageuh kancing rasa perasaan.

Inilah dua proses kesadaran manusia dalam kebudayaan sunda, atau menurut saya feminim dan maskulin, feminim bukanlah berarti perempuan tapi memiliki arti rasa dimana perasaan kita sebagai manusia dalam berhubungan dengan sesame maupun lingkungannya.

Sedangkan maskulin melambangkan kekuatan dimana kekuatannya yaitu dipikiran kita, maka dalam proses berkehidupan kita harus bisa menggabungkan rasa dan pikiran kita.”,ungkapnya.(ega nugraha)

Check Also

Peran Apoteker penting bagi masyarakat didalam Pelayanan

Pangkalpinang, sidaknews.com – Banyak Apotek yang ada hampir merata di Bangka Belitung sangat kurang memperhatikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *