Minggu , 26 Maret 2017
Home » Berita Foto » Dapur Arang Di Wilayah Barelang, Sembulang Dan Galang Tetap Beraktivitas

Dapur Arang Di Wilayah Barelang, Sembulang Dan Galang Tetap Beraktivitas

gbr.dapur arang milik bakar barelang¨Suhartini Kepala KP2K Tutup Mata Atas Pengrusakkan Hutan Mangrove

ntuk di ekspor keluar  negeri, jauh lebih menguntungkan di banding  mengimpor di dalam negeri, hal ini terlihat banyaknya para pencari kayu  yang di upah penggusaha  dapur  arang dengan memanfaatkan  masyarakat, dengan mengambil kayu dari  hutan mangrove tanpa memikirkan  dampak lingkungan dan kehidupan habitatnya, dan mengingat pula Batam adalah pulau yang kecil yang hanya di kelilingi lautan,  kalau sampai kegiatan dapur arang ini tidak ditutup akan  menjadikan  penggundulan pada hutan  mangrove.

Banyak  hal- hal yang  menjadi perubahan iklim, kita rasakan iklim di batam saat  ini  sangat  panas, dimana kita tiap hari tidak mendapatkan kesejukan baik dirumah maupun di luar, ini juga semua bisa di katakan faktor dari sebagian terjadinya pembiaran dari pihak instansi  pemerintah yang tidak bertanggung  jawab, sementara Pemko Batam sedang gencar-gencarnya mengajak seluruh masyarakat batam untuk melakukan penanaman seribu pohon, tetapi kalau Pemko Batam tidak melakukan P4R (Perencanaan, Pemanfaatan , Pengawasan, Pengendalian dan Rehabilitasi)  terhadap  pengerusakan hutan  lindung /mangrove tentu fungsi tanaman akan sulit terealisasi.

Ahui, salah satu pemilik dapur arang di sembulang menuturkan, bahwa kegiatan ini sudah lama saya tekuni, dan hasilnyapun sangat lumayan karena saya bukan jual di negeri sendiri (indonesia) melainkan saya ekspor keluar negeri, dan kayunya pun bukan saya cari sendiri , tapi saya beli dari masyarakat, kegiatan yang saya lakukan ini tidak pernah dapat larangan, bahkan, banyak wartawan, LSM dan oknum polisi yang  datang  kesini tiap bulannya, bahkan ada juga yang datang sekali seminggu, ada yang datang untuk minta bantu, selagi tidak ada larangan dan masalah pada dapur arang yang saya produksi apa salahnya, untuk bagi-bagi rezeki demi kelancaran usaha saya, didaerah ini banyak pengusaha dapur arang, bukan saya sendiri, kalau saya ini masih tergolong kecil coba lihat disekeliling daerah ini belum ada apa-apanya dapur arang saya ini menjawab melalui ponselnya.

Begitu pula dengan Bakar, yang memiliki usaha dapur arang di lokasi jembatan V (lima), dapur arang ini bisa dikatakan tergolong besar yang mampu mengekspor arang perharinya dalam satu kontainer yang berukuran 40 vit, sudah sangat jelas bahan bakunya di ambil dari hutan mangrove dan pulau-pulau kecil yang ada di propinsi Kepri ini, begitu pula dengan Apeng, yang mempunyai pengolahan dapur arang yang berlokasi daerah jembatan VI (enam) yang mampu mengekspor arang satu kontainer dalam dua hari dengan ukuran 40 vit, jika kegiatan dapur arang ini tidak segera di tindak siapa yang akan bertanggung jawab akan tenggelamnya pulau-pulau tersebut.

Menyangkut masalah dokumen pengiriman untuk pengeksporan arang, pihak bea dan cukai Halomoan, membenarkan, masalah dokumen tidak ada yang  salah, semua sudah sesuai dengan aturan, di batam ada 7 perusahaan  pengekspor  arang  yang resmi terdaftar, sudah  sesuai dengan nomor induk registrasi dan kepabeanan, masalah pelanggarannya dari mana di hasilkan kayunya itu bukan tugas kami, kalau dari hutan mangrove/hutan lindung maupun pulau-pulau kecil  tentu sudah ada yang membidangi pengawasannya, seperti  KP2K, Dishub, Pariwisata dan Pihak Kepolisian, karena itu bukan wewenang kami, yang jelas sampai ke kita sudah jadi arang untuk di ekspor tuturnya.

Berbeda dengan penuturan Suhartini, Kepala KP2K, mengenai masalah dapur arang  yang  bahan bakunya di ambil dari hutan mangrove oleh, Ahui, Apeng dan Bakar, Menjelaskan “laporan di buat kalau ketangkap tangan, laporan bisa di buat oleh siapa saja, kalau anda pas menemukan orang yang merusak bakau kalau mau buat laporan bisa saja, nanti setelah tata ruang di sahkan, perizinan dapur arang akan di benahi, dan nantinya  akan di berikan izin melalui program hutan kemasyarakatan melalui SmS selulernya.

Dalam hal ini Suhartini menampik dari tanggung jawabnya, sudah cukup jelas bahwa Hutan Mangrove ada di atur dalam perundangan bahwa hutan magrove adalah hutan kawasan kehutanan yang harus di lindungi dan di lestarikan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999, yang di pertegas dalam Keppres Nomor 32 Tahun 1990, mengamanatkan,          “ bahwa dinas kehutanan mendapat wewenang untuk menjaga kelestarian hutan magrove di perairan dalam hal ini dalam kawasan delta mahakam”

Pengambilan kayu bakau dari hasil hutan magrove untuk di jadikan arang yang di ekspor keluar negeri sudah merusak hutan dan habitat yang ada disana. Mereka tidak memikirkan dampak lingkungan  yang di terjadi ,hanya saja memamfaatkan hutan magrove  momperoleh keuntungan sebesar –besarnya.hal ini mereka melakukan ekspor pengiriman keluar negeri melalui  jasa kontainer Batam Indo, seharusnya dari dinas ke hutanan dan aparat dari kepolisian melakukan pangawasan  dan penegakan hukum di Provinsi Kepri, terkait pengerusakan hutan mangrove, sesuai dengan sanksi yang termuat dalam UU NO 41 Tahun 1999 yang berbunyi, “ barang siapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkanan atau  pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, di ancam dengan pidana penjara paling lama 10 Tahun dan denda paling banyak Rp.500.000.000.00 (lima ratus juta). (Rein)

Check Also

Presiden RI Joko Widodo, Menteri PU dan PR, Bupati Madina Drs Dahlan Hasan Nasution, Gubsu T Erry, Kadis PU madina Syahruddin ST saat melihat rencana pembangunan Asrama Haji di Mesjid Nur ala Nur.

Presiden Jokowi Resmikan Pembangunan Asrama Haji Mandailing Natal

Mandailing Natal, sidaknews.com – Dalam kunjungannya di Kabupaten Mandailing Natal Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>