Senin , 29 Mei 2017
Home » Berita Foto » Divonis 10 Bulan Penjara Kedua Terdakwa Tolak Vonis Hakim

Divonis 10 Bulan Penjara Kedua Terdakwa Tolak Vonis Hakim

Divonis 10 Bulan Penjara Kedua Terdakwa Tolak Vonis Hakim
Tony Usman (29) Dan Kasid (70), Dua Terdakwa Kasus Penambangan Pasir Ilegal.

Tanjungpinang, Sidaknews.com – Tony Usman (29) dan Kasid (70), menolak vonis 10 bulan penjara yang dijatuhkan majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Selasa (15/7). Keduanya menyatakan banding karena merasa tidak bersalah dalam kasus ini.

Ketua Majelis Hakim Parulian Lumbatoruan dalam amar putusannya menyatakan, berdasarkan fakta yang muncul dalam persidangan, kedua terdakwa terbukti mencuri pasir di lahan milik The Hok Tjui. Perbuatan keduanya memenuhi unsur pasal 363 KUHP tentang pencurian.

Sebelum menjatuhkan hukuman kepada para terdakwa, majelis hakim perlu mempertimbangkan tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum. Kedunya dituntut selama satu tahun penjara. Majelis hakim juga perlu mempertimbangkan beberapa hal. Hal yang memberatkan, para terdakwa merasa tidak bersalah. Hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan.

“Atas pertimbangan tersebut, majelis hakim menghukum terdakwa Tony Usman selama sepuluh bulan penjara. Sedangkan terdakwa Kasid divonis tujuh bulan penjara,” ujarnya.

Kedua terdakwa diminta berkonsultasi dengan penasehat hukumnya. Keduaya diberi tiga pilihan yaitu menerima, pikir-pikir selama tujuh hari, atau banding. Melalui penasehat hukumnya, Iwan Kesuma, kedua terdakwa menyatakan banding. Pernyataan itu sempat membuat JPU Mirian terkejut.

“Padahal, tuntutan yang diajukan satu tahun penjara. Majelis hakim memutuskan menghukum terdakwa sepuluh bulan penjara. Mereka menyatakan banding karena merasa tidak bersalah,” ujarnya.

Dalam dakwaan JPU Mirian, terdakwa Tony Usman mengajak terdakwa Kasid untuk mengambil pasir pada Mei 2013 lalu. Lahan yang disepakati ternyata milik The Hok Tjui. Para terdakwa mengambil pasir tanpa seizin dari The Hok Tjui. Dalam operasional tambang pasir itu, para terdakwa menggunakan tiga alat domping, satu unit mesin sedot air.

Pasir yang diambil sekitar 326,9 kubik dengan harga Rp.16.325.000. Target pasir yang disedot sekitar 600 kubik dengan harga Rp.30 juta. Penghisapan pasir dengan cara menggunakan papan paralon dan memasukkan pipa ke mesin penyedot. Pasir itu lalu disedot. Setelah dikumpulkan, pasir tersebut kemudian dijual para terdakwa. Hasil keuntungan dibagi.

Sementara itu, dalam sidang agenda mendengarkan pernyataan saksi, JPU Mirian menghadirkan empat orang saksi. Keempatnya yaitu The Hok Tjui, A Hok, Idris, dan Magak. Keempatnya bersaksi mengenai status lahan yang sudah dimiliki The Hok Thui sejak tahun 1990 an itu di Kampung Masiran, Desa Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang. Namun, kedua terdakwa membantah jika lahan yang ditambang itu merupakan lahan milik The Hok Tjui. Lahan yang dijadikan sebagai lokasi tambang pasir itu merupakan lahan milik Tony.

“Lahan itu milik saya. Lahan milik saksi jauh berada di belakang lahan saya,” ucap Tony membantah kesaksian The Hok Tjui.
Sedangkan Kasid mengaku diajak Tony menambang pasir. Ia yang bekerja mengawasi para pekerja. Tony hanya sebagai pemberi modal. “Saya yang menambang” imbuhnya. (IK)

Check Also

Suasana Ramadhan di Kota Peureulak Spontan Berubah, Pedagang Musiman Penuh Disepanjang Jalan

Aceh Timur, sidaknews.com – Kebiasaannya setiap tahun penjualan jajanan atau bukaan puasa penuh di jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *