Home » Berita Foto » Dua “Aktor Utama” Kasus Korupsi di Disdik Natuna Divonis Berbeda

Dua “Aktor Utama” Kasus Korupsi di Disdik Natuna Divonis Berbeda

 

Terdakwa
Terdakwa Fredi Ferdianto alias Kim Tjhiu digelandang petugas usai menjalani persidangan di Pengadilan Tipikor (PN) Tanjungpinang.(Fhoto:Rindu Sianipar)

Tanjungpinang, Sidaknews.com – Setelah Jasman Harun, Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP) atas nama Agus Ferdian yang menjabat sebagai ketua PPHP, Idrawadi sebagai sekretaris dan Tasimun sebagai anggota yang sudah mendapat giliran menerima vonis dari hakim.

Dua orang yang dinilai sebagai “aktor utama” dalam kasus korupsi proyek pengadaan alat praktik dan peraga Disdik Natuna tahun 2011 ini yakni Fredi Ferdianto alias Kim Tjhiu selaku pemilik toko penyedia barang, Asmadi sebagai Direktur CV Segi Lima Group juga mendapat giliran menerima vonis.

Vonis tersebut diterima kedua terdakwa saat menjalani proses persidangan secara terpisah (displit) di Pengadilan Tipikor Tanjungpinang, Rabu (12/11/2014). Majelis hakim sendiri dipimpin Parulian Lumbantoruan.

Dalam amar putusan hakim, Asmadi yang mendapat giliran pertama menerima vonis. Ia divonis selama lima tahun penjara. Selain itu, kontraktor pelaksana yang memenangkan proyek pengadaan barang dan jasa di Disdik Natuna senilai Rp 5 miliar ini juga dikenakan hukuman denda Rp 200 juta subsider dua bulan kurungan.

Selain hukuman badan dan denda, hakim juga menghukum Asmadi dengan hukuman membayar uang pengganti kerugian negara senilai Rp 882 juta dan jika uang tersebut tidak dibayarkan dalam tenggang waktu satu bulan setelah putusan pengadilan.

“Maka bisa diganti dengan hukuman berupa pidana penjara selama satu tahun,” ujar hakim.

Hakim menilai Asmadi terbukti bersalah melanggar sebagaimana dalam dakwaan primer pasal 2

jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa Bambang Wijayanto yang sebelumnya menuntut terdakwa selama lima tahun dan enam bulan penjara dan hukuman denda senilai Rp 200 juta subsider satu tahun penjara.

Selain itu, jaksa juga menuntut Asmadi dengan hukuman membayar uang pengganti kerugian negara senilai Rp 882 juta dan jika uang tersebut tidak dibayarkan dalam tenggang waktu

satu bulan setelah putusan pengadilan maka bisa diganti dengan hukuman berupa pidana penjara selama satu tahun.

Menanggapi vonis yang lebih tinggi dari keempat terdakwa lainnya, Asmiadi yang saat itu berdiri sempat termenung sesaat di dekat kursi pesakitannya, hingga mengutarakan masih pikir-pikir, begitu juga dengan jaksa mengutarakan hal yang sama.

Sekedar diketahui, Asmiadi selama dalam proses persidangan sempat mengembalikan sebagian uang kerugian negara senilai Rp 40 juta. Hal ini dimaksudkan dapat menjadi pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman padanya.

Sementara itu, Fredi Ferdian divonis majelis hakim lebih tinggi dari semua terdakwa yakni selama enam tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan. Selain itu, ia juga dikenakan hukuman membayar uang pengganti kerugian negara senilai Rp 1,48 miliar.

“Dan jika uang tersebut tidak dibayarkan dalam kurun waktu satu bulan setelah putusan pengadilan, maka harta benda terdakwa akan disita. Dan bila tidak mencukupi akan diganti dengan hukuman badan selama satu tahun,” ujar hakim.

Hakim menilai terdakwa terbukti bersalah melanggar sebagaimana dalam dakwaan primer pasal 2 jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana yang telah diubah dengan UU Nomor 20 tahun 2001 tentang korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa selama enam tahun dan enam bulan penjara dan denda Rp 200 juta subsider satu tahun enam bulan penjara. Selain hukuman badan dan denda, ia juga dikenakan uang pengganti senilai Rp 1,48 miliar.

Terhadap putusan tersebut, terdakwa langsung mengatakan banding ke Pengadilan Tinggi Riau, sementara jaksa mengatakan masih pikir-pikir. Ada momen unik ketika Fredi menerima vonis, yakni ketika hakim sedang menanyakan tanggapan terdakwa terhadap vonis.

Hakim saat itu belum menyelesaikan pembicaraannya, Fredi sempat menyela pembicaraan hakim, namun hal ini tidak menggangu proses persidangan. “Saya banding!,” ujar terdakwa menegaskan sikapnya.

Sebagaimana diketahui, adapun modus yang dilakukan para terdakwa sesuai dalam dakwaan jaksa, yakni para terdakwa diduga melakukan manipulasi harga barang sehingga tidak sesuai dengan spek. Beberapa item barang yang disediakan juga banyak yang tidak sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI).

Adapun perkiraan kerugian negara yang timbul dalam kasus tersebut, menurut hasil audit  resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan berdasarkan hasil penelitian Kementrian Perindustrian berkisar Rp2,4 miliar. (Rindu Sianipar)

Check Also

Abdullah Puteh ketika menyampaikan orasi politiknya dihadapkan masyarakat Asam Peutek.

Abdullah Puteh: Jangan Takut Dengan Intimidasi

Langsa, sidaknews.com – Menjelang pemilihan Gubernur/wakil Gubernur dan Walikota/wakil Walikota pada 15 Februari nantinya, diminta …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>