Kamis , 25 Mei 2017
Home » Berita Foto » Edy Subagio Resmi dilaporkan ke Polres Bintan

Edy Subagio Resmi dilaporkan ke Polres Bintan

Mantap Anggota Gapoktan  Agri Bangun Jaya bersama Hartanto Ketua BPD Toapaya Utara Kab.Bintan
Mantap Anggota Gapoktan Agri Bangun Jaya bersama Hartanto Ketua BPD Toapaya Utara Kab.Bintan

Terkait dengan adanya kasus Dugaan Penjualan Sapi bantuan Pemerintah Pusat tahun 2010 melalui dinas pertanian, Peternakan, kehutanan kabupaten Bintan sebanyak 35 ekor dengan total anggaran Rp.322.500.000,

“Diduga Sapi tersebut dijual sebanyak 21 ekor, dan raibnya Pupuk dari Gudang Buah Naga sebanyak 15 lori atau sekitar 30 Ton. “Diduga” kerugian negara mencapai Rp.363 juta.dan diduga merekayasa Tanda tangan anggota kelompok.

Bintan,(SNI) – Lembaga Swadaya Masyarakat ICTI-Ngo Investigation Coruuption Transparan Independen Kepri resmi melaporkan Edy Subagio ketua kelompok Tani Agri bangun jaya desa Toapaya Utara kabupaten Bintan ke Polres Bintan dengan nomor laporan ICTI-Ngo 118/LSM-ICTI/Tpi-III/13 tertanggal 12 Desember 2013, diduga Edy Subagio menjual 21 ekor Sapi, diantaranya 10 ekor sapi kepada pihak Pt.Pt.Bisnis indo nugraha pratama, dan selainnya sapi dijual kepada pihak lain.

Program bantuan pemerintah pusat melalui menteri pertanian sesuai dengan SK Menteri Pertanian Nomor.691/Kpts/KU.340/5/2008, dalam hal pembentukan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan kepengurusan Gapoktan tersebut harus di SK kan oleh Bupati. pada surat perjanjian pengelolaan managemen Kompos dan ternak sapi pada gabungan kelompok tani Agri bangun jaya, pada pasal 3 tentang bagi hasil, mengatakan sebagai berikut:

Pada Ternak sapi Sistim bagi hasil atas keungtungan Sapi pengembangan dengan cara Anak pertama untuk petani pemelihara, anak kedua untuk kelompok, anak ketiga untuk pemelihara, dan Anak ke empat untuk pengganti induk.dan Apabila satu induk beranak dua, satu ekor untuk pemelihara dan satu ekor untuk kelompok.

Sumber mata anggaran dari apbn-P tahun anggaran 2010 dari Dirjen Peternakan, yang didistribusikan melalui dinas Pertanian dan Peternakan kabupaten Bintan.

Bantuan sapi tersebut adalah bentuk Hibah dari pemerintah pusat untuk kelompok tani Agri Bangun jaya sebanyak 35 ekor dengan anggaran yang diberikan oleh dinas pertanian dan peternakan kabupaten Bintan sebesar Rp.322.500.000.

Dari keterangan yang sampaikan oleh Edisubagio ketua kelompok tani tersebut kepada media ini, bahwa “dia” ada mengakui menjual sapi kepada pihak Pt.Bisnis indo nugraha pratama, namun, sapi tersebut dia beli dari lokal sebelas ekor, dan mati satu ekor, Namun, Edi tidak bisa menunjukkan surat keterangan dari Karantina.

ketika sumber yang layak dipercaya mengatakan, bahwa sapi yang ada di pt.Bisnis indo nugraha pratama, itu adalah sapi diangkut dari kandang ternak kelompok tani, bahkan, saya sendiri sebagai mantan kelompok tani saat itu, ikut juga mengantar ke tempat tersebut.

“Dia” (Red) mengakuinya, bahwa Edi Subagio sebagai ketua kelompok tani, saat itu memerintahkan kita untuk ikut ke Pt.Pt.Bisnis indo nugraha pratama mengantar 10 ekor sapi.

Namun ditanya berapa harga dijual kepada pihak perusahaan tersebut, “Saya” tidak mengetahuinya, itu urusan Edi Subagio, kami hanya perintah saja.”Ungkapnya.

Dari hasil penelusuran LSM ICTI-Ngo Kepulauan Riau, Ketika dikonfirmasi salah seorang pekerja di Pt.Pt.Bisnis indo nugraha pratama, Adi membenarkan, bahwa, Sapi yang ada disini dibeli dari Edi Subagio dengan harga Rp.8 juta per ekor.

Ketika dikonfirmasi oleh Media ini Edisubagio, mengatakan, bahwa sapi bantuan pemerintah dengan jumlah 35 ekor, yang mati ada sekitar 24 ekor Sapi, Namun ketika ditanya lagi, apakah ada bukti atau surat dari petugas lapangan atau Ppl? Edi Subagio enggan menjawab, Namun jawabannya begitu gampang,”Kita” sudah kasih tau kepada petugas Ppl, namun gak pernah datang, dan klo mau kita lihat, ada kok kuburan sapi tersebut.”Ungkapnya.

Dari keterangan yang disampaikan oleh “Amir” salah satu warga yang turut mengantar sapi tersebut ke kebun cengkeh Singgiling, juga diikuti oleh Rosin salah satu anggota kelompok tani Ari bangun jaya mengatakan kepada media ini.

“Rosin” menjelaskan, dalam sepengetahuan saya, bahwa sapi tersebut diangkut dari kandang ternak Gapoktan Angri Bangun Jaya ke kebun cengkeh yang ada di Singgiling, dan yang mati dalam kandang, hanya ada 7 ekor saja, jika ada Edi Subagio mengatakan seperti itu, berarti itu adalah pembohongan, Saya sendiri baru berhenti kerja dari kelompok tersebut baru sekitar 6 bulan yang lalu.

Dari keterangan yang kami peroleh, jika sapi tersebut mati 7 ekor dan 7 ekor yang ada dikandang ternak Agri bangun jaya, maka dari total sapi yang dijual oleh Edy subagio adalah 35 ekor sapi dikurangi dengan 14 ekor sapi berarti ada sekitar 21 ekor sapi yang raib dari kandang tersebut.

Sementara ketika dikonfirmasi salah satu staf pihak dinas pertanian dan peternakan Bintan, mengatakan, jika ada sapi yang mati,pihak kelompok tani harus terlebih dahulu memberitahukan kepada petugas lapangan atau Ppl dari dinas peternakan, tentunya, petugas dapat mengetahuinya, apakah penyebab kematian sapi tersebut, baru bisa dikuburkan, jika tidak ada surat dari petugas Ppl, tentunya masalah tersebut dapat diragukan.”tandasnya”.

“Edi Subagio” juga mengatakan, bahwa surat kematian sapi tersebut mulai dari tahun 2010 sampai 2013 baru mau disampaikan kepada petugas PPl kabupaten Bintan, “Aneh” seharusnya surat tersebut sudah terlebih dahulu diketahui oleh petugas PPl.

Dari dasar keterangan yang diberikan oleh Edi Subagio, maka kita dari Lembaga ICTI-Ngo kepri mulai merasa curiga atas penyampaikan atau keterangan yang disampaikan oleh Edi Subagio “Ungkap Kuncus”.

Saat kedatangan Edi Subagio di kantor LSM ICTI-NGO Kepri, dimana tujuannya untuk mengklarifikasi masalah tersebut, Namun banyak kejanggalan – kejanggalan yang terlihat, seperti, bukti surat kematian Sapi yang ditunjukkannya, sebab, surat yang dia tunjukkan tampaknya diduga rekayasa, tampak terlihat dari kertas atau surat kematian sapi tersebut kertasnya baru.

Menurut Kuncus, jika Sapi tersebut mulai dari tahun 2010 sampai 2013 tentunya kertas itu pasti berbeda warnanya, dan satu hal lagi, soal tanda tangan anggota kelompok yang disebut sebagai pengaduh dan yang mengetahuinya seperti mantan Kepala desa ToaPaya Utara, seharusnya dalam bukti kematian sapi tersebut harus ada tanda tangan dari petugas lapangan atau Ppl dari dinas pertenakan BIntan.

Dari keterangan yang dikonfirmasi oleh Media ini, bahwa Sugiman kades lama tidak pernah merasa mengetahui adanya kematian sapi tersebut, apalagi menandatanganinya.”Ungkapnya”.Namun beliau menyampaikan, klo boleh saya sampaikan dulu masalah ini kepada Edi Subagio, sebab, jika hal terjadi, akan menjadi bahan ocehan, yang jelek desa kita sendiri. “Ungkapnya”.

Tim Investigasi Media ini mencoba menjumpai Supriyadi Kades Toapaya Utara sekarang, “Dia” mengatakan, bahwa ada 3 berkas surat yang saya tanda tangani pada tanggal 25 Nopember 2013, Namun didalam surat yang dibuatkan oleh Edi Subagio ada 5 lembar yang ditunjukkan kepada kita. Dan anggota kelompok lainnya juga tidak pernah merasa menandatangani surat kematian sapi.

“Ada apa ini, Ungkap salah seorang anggota kelompok tani, atau jangan-jangan ini ada rekayasa Edi Subagio, Jangan pula dia makan enaknya, kita yang dapat getahnya.KIta tidak bisa menerima hal ini, bagi saya, sebaiknya kasus ini dilaporkan ke pihak kepolisian, agar semua mengetahui duduk permasalahannya, siapa saja yang terlibat pada kasus penjual sapi tersebut. Apakah dia pemain tunggal atau ada pihak lain yang ikut bermain.

“Dan” kita akan melaporkan hal ini kepada Bupati Bintan, dengan tujuan Mosi tak percaya terhadap kinerja ketua kelompok Tani Agri bangun jaya, agar dia bisa mempertanggungjawabkan segala perbuatannya.tambahnya.

Dari penelusuran Tim Investigasi lembaga ini dengan pihak BPD Toapaya Utara, dijelaskan oleh Hartanto, bahwa pada Berita acara kematian ternak sapi tersebut, ada dua nama penggaduh yang salah penulisan “hari”, seperti pada Nama Jaimen, disitu tertulis pada hari Minggu tanggal 14 Oktober 2011.

seharusnya pada tanggal tersebut harus hari Jumat, dan yang kedua, pada Berita acara atas nama Supriatin, tertulis pada hari Minggu, seharusnya yang benar pada hari Rabu, dan mengenai stempel yang digunakan oleh Edy Subagio kita masih meragukannya, dari hal ini tampa dari hal tersebut, ada dugaan Edi Subagio merekayasa surat-surat tersebut.
Impormasi yang diterima oleh Lembaga ini, Dodi Sepka Camat Toapaya pernah memanggil Edy subagio dengan salah seorang mantan anggota kelompok di rumahnya, namun dalam pertemuan tersebut mengenai Sapi bantuan pemerintah, “Ketika dikomfirmasi media ini Dodi Sepka Camat Toapaya, mengatakan tanyakan aja langsung sama Edy Subagio.Ungkapnya.

Bahkan Hartanto ketua BPD Topaya Utara sudah menjelaskan permasalahan yang sebenarnya kepada camat, Hartanto juga menyampaikan kepada media agar kasus ini ditindaklanjuti secepatnya oleh pihak kepolisian Polres BIntan, kita tidak mau kampung kita mendapat sorotan fublik, karena ulah seseorang.”Tuturnya”.

Pupuk Buah Naga Raib, diduga dijual ke Kebun cengkeh

Selain penjualan Sapi bantuan pemerintah Pusat melalui kabupaten Bintan oleh Edi Subagio ketua kelompok Tani Argi bangun Jaya, Masih ada juga kasus yang diduga keterlibatannya, seperti penjualan Pupuk dari gudang Buah Naga di lome Toapaya Utara.

“Menurut keterangan TUkadi salah satu warga Toapaya, mengatakan kepada media ini, bahwa, dia pernah disuruh oleh Edi Subagio untuk mengangkut Pupuk dari gudang Buah Naga ke tempat kebun cengkeh di Singgiling Bintan Utara, Pupuk yang diangkut dengan memakai lori sendiri saat itu, besaran yang diangkut ada sekitar 15 lori.

Tukadi juga menambahkan, bahwa jenis pupuk yang dia angkut dari kebun buah naga tersebut, berupa jenis pupuk NPK klo tidak salah, yang jelas pupuk yang ada bentuk garam-garamnya. Saya Pernah memberikan Nota angkutan pupuk dari kebun cengkeh kepada salah seorang Oknum wartawan.

Namun sampai saat ini saya tidak mengetahui sampai dimana hasilnya. Nota tersebut dikeluarkan oleh Edy Subagio, dan Nota tersebut bervariasi, arti nota dalam satu trip angkutan ada yang nilainya Rp3.500.000 dan ada juga yang 4 juta lebih. dan nota tersebut memakai stempel Gapoktan Agri bangun jaya. jika kasus ini dilaporkan ke polisi, Saya sangat siap memberikan keterangan nantinya”Ungkapnya”.(Red/SN)

 

Check Also

Pemkab Sergai Survey Harga Sembako di Pasar Tradisional

–Persediaan Sembako Selama Ramadhan di Sergai Aman Sergai, sidaknews.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1438 …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *