Sabtu , 27 Mei 2017
Home » Berita Foto » Ferdianto Dinilai Berlebit-belit,Hakim Ancam Dengan Sumpah Palsu

Ferdianto Dinilai Berlebit-belit,Hakim Ancam Dengan Sumpah Palsu

-Terkait Sidang Korupsi Proyek Pengadaan di Disdik Natuna tahun 2011.

Tampak dipersidangan Ferdianto alias Sidang korupsi alat tulis dan peraga sekolah di diknas kabupaten Natuna
Tampak dipersidangan Terdakwa Ferdianto alias Kim Tjhiun Pada Sidang korupsi alat tulis dan peraga sekolah di diknas kabupaten Natuna 2011.

Tanjungpinang,Sidaknews.com – Dalam keterangan Ferdianto alias Kim Tjhium didepan Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang (24/9) dianggap berbelit-belit dalam memberikan keterangan. Ferdianto sebagai penyedia barang dan pemilik Toko Suara Gembera juga sebagai terdakwa pada kasus korupsi pengadaan alat praktik dan peraga olahraga siswa pada APBD Kabupaten Natuna Tahun 2011 senilai Rp5 miliar.

Ferdianto diancam oleh mejelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Tanjungpinang, tentang tindak pidana sumpah palsu dalam sidang. Ucapan itu disampaikan oleh Ketua Mejelis Hakim Parulian Lumbantoruan SH MH, atas sikap Ferdianto dalam memberikan keteranganya dalam sidang sebagai saksi terhadap lima orang terdakwa lainnya dalam perkara yang sama, dengan keterangan berbelit-belit serta dinilai tidak sesuai dengan berita acara dakwaan jaksa Penuntut Umum (JPU) sebelumnya.

Kelima terdakwa tersebut, termasuk mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Natuna, Jasman Harun, bersama empat terdakwa lainnya, Agus Ferdinan, Asmadi, Indra Wadi dan Tasimun

“Saya ingatkan anda sebagai saksi, bahwa anda sudah disumpah, dan tolong ceritakan dan sampaikan keterangan yang sebenarnya. Jangan anda mengambil resiko sendiri, dengan “memasang badan” melindungi para terdakwa tersebut. Jika tidak, anda bisa dijerat dengan ancaman tindak pidana lain berupa sumpah palsu,” kata majelis hakim Parulian Lumbantoruan SH MH kepada Ferdianto.

Pernyataan majelis hakim tersebut, berkaitan dengan ketarangan saksi Ferdianto (terdakwa sidang terpisah-red), yang menyebutkan sejak awal dugaan perkara tersebut, ketika dirinya ditemui oleh terdakwa Asmadi ditempat usahanya, toko Suara Gembira yang menjual berbagai peralatan elektronik, perabotan, termasuk sarana olah raga lainya.

Kedatangan Asmadi tersebut untuk menanyakan sejumlah dan harga berbagai jenis peralatan olah raga yang dijual Ferdianto ditokonya. Usai itu, ia kemudian diminta oleh terdakwa Asmadi untuk menyediakan sejumlah peralatan oleh raga sebanyak 26 item, dengan bahan dan harga serendahnya. Hal itu guna pelaksanaan proyek pendaan sarana olah raga yang akan dibagikan kesejumlah sekolah di Natuna.

“Sejumlah barang sarana olah raga tersebut semuanya sudah tersedia di toko saya, hanya meja pimpong (tenis meja) saja yang masih kurang jumlahnya, sehingga terpaksa saya pesan ke jakarta,” ucap Ferdianto.

Ferdianto juga mengakui, harga jual barang yang disediakanya untuk pelaksanaan proyek tersebut hanya mengambil sedikit keuntangan sebesar 20 persen, ditambah biaya ongkos kirim barang dari Jakarta menggunakan kapal yang sudah menjadi langganannya selama ini.

“Saya hanya mengambil untuk sekitar 15 hingga 20 persen saja dari harga barang yang saya beli sebelumnya di Jakarta,” kata Ferdianto.

Ucapan saksi Ferdianto tersebut, ternyata bertolak belakang dengan berita acara dakwaan hasil penyidikan yang dilakukan jaksa, bahwa harga jual barang yang dilakukannya saat itu, jauh melibihi ketentuan, bahkan beberapa kali lipat dari harga yang sebenarnya.

Disamping itu, antara Ferdianto sebelumnya juga sudah ada pembicaraan dengan pihak pelaksanaan proyek pengadaan tersebut, dengan menentukan harga sesuai permintaan pihak panitia pelaksana jauh dari harga sebenarnya.

Sebagai contoh, harga satu buah bola kaki yang dibeli dan dimodali saksi Ferdianto awalnya hanya seharga Rp55.000, dengan kualitas terendah, namun kenyataan dalam anggaran tersebut dinaikan menjadi Rp350,000, termasuk jenis peralatan oleh raga lainnya dengan total anggaran Rp3,150 miliar lebih

“Saya ingatkan saudara kembali, agar memberi keterangan yang jujur dan berterus terang. jika tidak, anda bisa saya jerat dengan tindak pidana lain beri keterangan dan sumpah palsu,” ucap majelis hakim.

Dalam sidang sebelumnya terungkap, bahwa para terdakwa diduga secara bersama-sama telah memanipulasi spesifikasi barang. Hampir 80 persen barang yang diserahkan ke sekolah-sekolah tidak sesuai spesifikasi teknis dalam kontrak.

Sejumlah alat-alat yang sudah diserahkan kepada pihak sekolah tidak sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Hal ini juga berdasarkan penelitian yang dilakukan Kementerian Perindustrian.

Sejumlah alat peraga olahraga seperti bolavoli, net, meja tenismeja dan lainnya juga tidak bisa digunakan oleh sekolah yang menerima barang tersebut.

Pihak sekolah juga melapor jika sejumlah alat-alat yang sudah didistribusikan tidak bisa digunakan sebagaimana layaknya.

Jaksa menilai tindakan para terdakwa tersebut diperkirakan kerugian negara yang timbul, sesuai hasil audit resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan hasil penelitian Kementerian Perindustrian, berkisar Rp2,4 miliar.

Terdakwa Jasman Harun adalah Kepala Dinas selaku Pengguna Anggaran (PA) saat dugaan kasus tersebut terjadi. Sedangkan Agus Ferdinan, Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Asmadi selaku Direktur PT Segi Lima Grup, Indra Wadi selaku Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP), Tasimun selaku sekretaris PPHP dan Ferdi Perdianto alias Kim Tjhiu, pemilik toko penyedia barang.

Proyek pengadaan sarana olahraga dan sarana praktek siswa Tahun Anggaran 2011 telah didistribusikan ke 100 sekolah, mulai dari tingkat SD, SMP dan SMU se-Kabupaten Natuna, dengan pagu dana Rp5 miliar dengan penawaran Rp4,5 miliar. Sementara kontraktor pelaksana alias pemenang tender adalah PT Segi Lima.

Perbuatan ke-6 terdakwa dinilai telah merugikan keuangan negara sebagaimana diatur pasal 2 dan pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31/1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU 21/2001 tentang perubahan terhadap UU Nomor 31/1999, dengan ancaman hukuman minimal empat tahun maksimal 20 tahun penjara.(Sn)

Check Also

MUI Tegaskan, Larang Warga “Asmara Subuh”

Padangsidimpuan, sidaknews.com – Dalam menjalan ibadah puasa masyarakat di Kota Padangsidimpuan, khususnya kalangan remaja yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *