Sabtu , 27 Mei 2017
Home » Berita Foto » Ingkar Janji, Pengusaha Tambang Bauksit Digugat, Dua Bangunan dan Tiga Mobil Disita Pengadilan

Ingkar Janji, Pengusaha Tambang Bauksit Digugat, Dua Bangunan dan Tiga Mobil Disita Pengadilan

Ingkar Janji, Pengusaha Tambang Bauksit Digugat, Dua Bangunan dan Tiga Mobil Disita Pengadilan
Petugas Penyitaan PN Tanjungpinang Membacakan Deretan Harta Benda Yang Akan Disita, Dikediaman Bun Ami.

Tanjungpinang, sidaknews.com – Bun Ami, seorang pengusaha tambang bauksit digugat koleganya, Marjuki alias Toni, karena tak membayar pekerjaan sesuai perjanjian dengan nilai mencapai Rp.2.198.704.997. Pihak Pengadilan Negeri Tanjungpinang menyita dua tanah beserta bangunan di atasnya dan tiga mobil pada tanggal 16 Juli lalu.

Di kediaman Bun Ami di Jalan Anggrek Merah, petugas penyitaan PN Tanjungpinang membacakan deretan harta benda yang akan disita. Benda bergerak yang direncanakan disita itu berupa satu unit mobil Toyota Fortuner BP 4 MI, satu unit mobil Honda CRV BP 7 MI, satu unit mobil Honda Jazz BP 777 MI bergambar Hello Kitty, satu unit mobil Toyota Avanza BP 1987 YT, dan satu unit mobil CRV BP 1189 BY, dan satu unit mobil Toyota Avanza Veloz.

Sedangkan barang yang tidak bergerak berupa sebidang tanah beserta bangunan di atasnya di Komplek Palm Mas, sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Rawasari Club House, sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Gang Mawar Jalan Anggrek Merah, sebidang tanah beserta bangunannya di Jalan Baloi Permai, Batam.

Sempat terjadi perdebatan antara kedua belah pihak. Akhirnya, hanya dua benda bergerak yang berhasil disita yakni sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Rawasari Club House, sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Gang Mawar Jalan Anggrek Merah. Ada beberapa harta yang sudah dipindahtangankan ke adiknya, Ruslan.

Sementara itu, Kuasa Hukum Toni, dalam hal ini Herman, saat dihubungi, Jum’at (18/7), mengatakan, penyitaan tetap dilakukan hingga nilainya mencapai sesuai yang diajukan dalam berkas perdata. Masalah harta milik Bun Ami yang sudah dipindahtangankan itu urusan antar ia dan adiknya, Ruslan.

“Kami lebih duluan mengajukan gugatan ini ke pengadilan. Masalah ada harta yang sudah dipindahtangankan, itu urusan mereka bersaudara,” ujarnya.

Harta yang disita pengadilan yakni satu unit mobil Toyota Fortuner BP 4 MI, satu unit mobil Honda CRV BP 7 MI, satu unit mobil Honda Jazz BP 777 MI bergambar Hello Kitty, sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Rawasari Club House, sebidang tanah dan bangunan di atasnya di Gang Mawar Jalan Anggrek Merah.

Herman mengungkapkan isi gugatan yang diajukan kliennya tersebut. Berawal saat Toni dan Bun Ami membuat perjanjian kerjasama sub kontraktor untuk pekerjaan penambangan batu bauksit di Kampung Bebek, Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota pada tanggal 7 Mei 2013. Penambangan dilakukan di tanah milik Djodi Wirahadikusuma dengan luas 36 hektar.

Dalam perjanjian tersebut, Toni diberi pekerjaan untuk penggalian batu bauksit dari area tanah yang digali hingga masuk ke dalam tongkang di pelabuhan yang telah ditentukan. Setiap satu metrik ton dibayar US$.3,3 Dolar Amerika.
Semua pekerjaan mulai dari penyediaan truk, alat berat, serta teknis lapangan menjadi pekerjaan penggugat. Sementara itu, Bun Ami hanya menyediakan biaya operasional.

Setelah perjanjian dibuat, Toni langsung membuat rencana kerja dan mengerjakan lahan-lahan yang ditunjuk Bun Ami. Penambangan berlangsung selama dua bulan. Kemudian, penambangan dilanjutkan ke lahan Budi pada bulan November.
Pada tanggal 15 November, Toni meminta agar semua pekerjaan dan biaya-biaya yang telah dikeluarkan selama penambangan agar dihitung. Total biaya yang seharusnya diterima Toni sekitar Rp.2.198.704.997.

Sesuai perjanjian sebelumnya, tugas Toni hanya memasukkan batu bauksit sampai sampai ke atas tongkang. Rupanya, Bun Ami tak mampu membayar. Pada bulan itu juga, pemerintah pusat melarang ekspor bahan tambang mentah.
Ternyata ada sekitar 25 metrik ton yang belum sempat diekspor. Rupanya, Bun Ami tak mampu membayar. Masalah lain muncul. Pemilik tanah, Djodi Wirahadikusuma, menahan alat berat yang ada di lahannya.

Toni berupaya menjelaskan kepaa Djodi masalahnya dengan Bun Ami. Akhirnya, ketiga belah pihak bertemu di Hotel Garuda Indonesa, Batam. Karena tak ada itikad baik, Toni melalui kuasa hukumnya, Herman, melayangkan somasi pertama dan kedua kepada Bun Ami. Jawaban yang disampaikan Bu Ami melalui Kuasa Hukumnya, Eddy Martono, kerjasama kedua belah pihak memang ada.

Akan tetapi, Toni tidak dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Pekerjaan yang dimaksud tidak dijelaskan secara rinci.
Atas jabawan kasus hukumnya itu, Toni mengajukan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri Tanjungpinang pada tanggal 1 April lalu. (IK)

Check Also

Bah…!, Ternyata “SB” Mau Rebut Suami “SH”, Akhirnya Berujung di Kantor Polisi

Padangsidimpuan, sidaknews.com – Kasus penganiayaan yang dialami oleh SH (24) Warga Kelurahan Wek V Kecamatan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *