Sabtu , 25 Maret 2017
Home » Daerah » Aceh » Kantor Dinas Pendidikan Aceh Bagaikan Istana Merdeka

Kantor Dinas Pendidikan Aceh Bagaikan Istana Merdeka

Keterangan Foto: Gedung A Dinas Pendidikan Aceh.
Keterangan Foto: Gedung A Dinas Pendidikan Aceh.

Banda Aceh,Sidaknews.com – Gaya Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Anas M Adam dalam bertugas menarik untuk diamati. Sebelumnya Anas terkenal sederhana dan dekat dengan siapa saja. Namun kini semua berubah, usai Gubernur Zaini Abdullah mengangkatnya kembali sebagai orang nomor satu di Dinas Pendidikan Aceh.

Nama Anas M Adam, dalam satu dekade terakhir seperti tak mampu dipisahkan dari Dinas Pendidikan Aceh. Perannya begitu sakral, dan tak sedikit keputusannya telah mempengaruhi wajah pendidikan di Aceh.

Dan juga tak terhitung berapa ratus miliar bahkan triliunan uang APBA telah di alokasikan kepada hal-hal yang menurutnya mampu mengangkat harkat dan martabat Pendidikan Aceh. Meskipun akhirnya mendapat cacian disana sini.

Namun hal tersebut tak perlu dibahas sekarang, biarlah audit pihak berwenang saja yang bicara terkait penggunaan anggaran selama dia berkuasa di dinas basah itu, baik pada periode pertama maupun kedua.

Ada hal kecil dan menarik untuk diungkit, yakni penjagaan super ketat, menjadi cara Anas menjaga ketenangan diri dan stafnya dari tamu yang datang apalagi tamu yang perlu diwaspadai. Padahal dimasa konflik, pengamanan di dinas tersebut tak seketat sekarang. Apa yang perlu dijaga?

Proyek dan anggaran yang dikelola Anas M Adam Cs mencapai puluhan ribu paket dan menghabiskan anggaran triliunan rupiah. Kemungkinannya Anas terpaksa menjaga ketat dirinya atau juga `pura-pura` ketat biar terkesan hebat. Maklum, sebelumnya Anas lama menganggur dan hari-hari mirip pengangguran yang lalu lalang mencari pekerjaaan.

Berkat rasa iba Gubernur Zaini Abdullah, Anas pun kini kembali hebat. Sebelumnya terpaksa ber `kemah` di MPD Aceh, karena Gubernur Aceh kala itu, Irwandi Yusuf, tahu Anas tak mampu membenahi sektor pendidikan Aceh.

Berkat gerakan beberapa kelompok yang berhutang jasa padanya, Anas kembali diorbitkan melalui jalur `peublo mi lam umpang`. Nama Anas ditiup-tiup kemana-kemana sebagai tokoh hebat di dunia pendidikan di negeri berjulukan serambi mekkah. Meskipun kini terbukti, wajah pendidikan Aceh mirip seperti judul sebuah lagu sendu,”aku masih seperti yang dulu”.

Kemungkinan Anas telah menyadari, bahwa dirinya gagal membuktikan kehebataanya seperti `angin wewangian` yang bertiup kencang sebelum dia diberi jabatan. Langkah yang harus dia tempuh pertama kali mungkin memperketat penjagaan `markas`. Tujuan jelas, supaya `rahasia dapur` nya selama ini tidak mudah di akses terutama oleh pihak media massa.
“Orang media dipantau habis, kemana melangkah dan apa kelakuan,” beber sumber.

Makanya, bila anda berstatus jurnalis jangan coba-coba bertamu ke Gedung A Dinas Pendidikan Aceh. Apalagi tamu biasa, yang hanya cuma membicarakan persoalan sekolah rusak gara-gara banjir, Anas tak rela. Kenapa? dari gayanya, dia hanya menerima tamu-tamu `hebat` untuk `membantu` meludeskan anggaran berstatus jumbo biar `prinsip` saling membantu dapat diterapkan.

Bila tetap kesana, penjagaan ketat pasti akan anda terima. Bila juga ngotot ingin menunggu supaya bertemu sang kadis,?. Para petugas pasti bersikap `kasar` kepada anda sejak awal anda melihat wajah `manusia` disana, karena mereka telah dilatih mengenal mana tamu `hebat` dan mana tamu `kere`.

Bila tamu atau masyarakat biasa yang datang, pasti terdengar suara tegas dan meyakinkan; “Mana KTP, mau kemana? isi ini blangko, apa tujuannya?”. Begitulah pertanyaan dan perintah yang akan anda dengar dan memang wajib anda lalui bila masih ber `mimpi` bertemu dengan `kanda` Anas.

Parahnya, walau ID tamu telah anda kuasai, dan blangko berada ditangan, belum jaminan anda akan bertemu Anas, karena dia kini orang penting dan super sibuk, melebihi gubernur sekalipun.

“Nanti saja, habis jum`at, saya mau ke Lambaro, sholat jum`at,” itulah jawaban Anas ketika menerima laporan ajudannya bahwa ada tamu yang ingin bertemu. Padahal, hanya sekitar 300 meter melangkah, pak kadis sudah bisa sholat jum`at di mesjid kebanggaan Aceh, yaitu Mesjid Raya baiturrahman. Kenapa harus ke Lambaro, Aceh Besar? yang jauhnya hampir 10 KM.

Namun berbeda kalau yang bertamu itu anggota DPRA bersama pemborong [maaf! moga bukan pembohong] yang datang. Petugas dan Anas M Adam tak akan menanyakan ID apalagi menghentikan langkah mereka. Karena Anas akan keluar dari `persembunyiannya` untuk melayani tamu yang dianggap `setia` dan sama-sama hebat serta tujuan.

“Silahkan masuk!,” arah ajudan Anas kepada anggota dewan dari DPRA dan pemborong, gandengan si dewan ketika bertemu Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Kamis ( 5/2? 2015).

Entah apa yang dibicarakan mereka? hanya Allah yang tahu. Kita hanya berdoa, semoga mereka membicarakan kemajuan Aceh terutama sektor pendidikan, bukan ajang bagi-bagi proyek kepada pemborong titipan oknum dewan yang penampilannya selalu sok suci dan kritis didepan rakyat. (Herman-Mariyana)

Check Also

Presiden RI Ir Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi Sumatra Utara pada tanggal 24-25 Maret 2017.

Ini Menteri Yang Ikut Rombongan Presiden RI Ke Madina

Mandailing Natal, sidaknews.com – Kehadiran Presiden RI Ir Joko Widodo ke Kabupaten Mandailing Natal, Provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>