Home » Berita Foto » Kepsek Akui Perut Syukur Ditendang saat Main

Kepsek Akui Perut Syukur Ditendang saat Main

Ilustrasi.
Ilustrasi.

MAKASSAR,Sidaknews.com – Kepala SD Negeri Tamalanrea V Makassar Hj Nurbaya Karim mengakui, Muhammad Syukur (7) ditendang di bagian lambung oleh salah seorang temannya saat bermain di halaman sekolah.

Namun Nurbaya membantah ada unsur kesengajaan dalam insiden itu. Ia juga menampik dugaan pengeroyokan yang dilakukan tiga teman sekolahnya.

“Tidak ada sama sekali pengeroyokan. Yang saya dengar mereka berkelahi main-main, sampai Syukur kena tendangan di perut dan waktu itu ia langsung pulang karena kesakitan,” ujar Nurbaya kepada Berita Kota, Selasa (1/4).

Muhammad Syukur, murid kelas satu SD Negeri Tamalanrea V, Makassar, meninggal dunia di Rumah Sakit Ibnu Sina, Senin (31/3) dini hari. Diduga ia meninggal usai pengeroyokan yang dilakukan oleh tiga teman sekelasnya pada Kamis (27/3) siang.

Ibu kandung korban, Nurdani kepada Berita Kota mengatakan, putranya dikeroyok oleh tiga rekannya pada hari Kamis siang sepulang sekolah. Sejak itu, ia merasakan sakit di bagian lambungnya.Karena sakitnya tak kunjung sembuh, Syukur dilarikan orangtuanya ke RS Ibnu Sina pada hari Sabtu dan meninggal dunia pada Senin subuh.

Penyidik Polsekta Tamalanrea hingga kemarin belum bisa mengonfirmasi kebenaran penyebab kematian Syukur akibat pengeroyokan oleh temannya. Penyelidikan masih dilakukan dengan memeriksa saksi-saksi.

Menurut Nurbaya, sebelum kejadian itu, korban pernah mengeluhkan sakit di perutnya saat mengikuti pelajaran di kelas. “Wali kelasnya sempat menanyakan kondisinya pada saat itu. Dia malah diminta pulang beristirahat,” katanya.

Sementara itu tiga teman kelasnya yang diduga teman bermain Syukur saat itu masing-masing berinisial Rs, Ra, dan Ar. Nurbaya mengatakan, ia sudah memanggil ketiga rekannya dan menanyakan yang sebenarnya terjadi.”Mereka bilang tidak ada pengeroyokan. Mereka cuma berkelahi main-main dan kebetulan saling tendang-tendang, mungkin tanpa sengaja perut Syukur terkena tendangan,” paparnya.

Namun, ia menampik kalau itu disebut pengeroyokan atau ada unsur kesengajaan.Ia juga tidak mengerti kalau itu disebut pengeroyokan karena pada hari Jumat, atau sehari setelah kejadian, nenek korban, Sitti (60) menemuinya di sekolah dan menyampaikan kabar tentang Syukur yang sakit.

Namun waktu itu, nenek Syukur tidak menyinggung soal pengeroyokan cucunya. “Dia hanya minta izin Syukur tidak masuk sekolah karena sakit. Makanya saya kaget waktu hari Senin dengar kabar dia meninggal karena dikeroyok,” kata Nurbaya.

Nurbaya sendiri tetap mendukung aparat kepolisian untuk melakukan hukum atas kasus ini. Ia juga sudah menyarankan keluarga melakukan visum guna memastikan apakah Muhammad Syukur memang dikeroyok atau tidak.”Kami kalau ditanya soal pengawasan kami terhadap siswa, ya kami sudah maksimal mengawasi. Bahkan kami selalu mengimbau orangtua siswa untuk menjemput anaknya saat pulang sekolah,” paparnya.

Terlepas dari semua itu, kata Nurbaya ia mengakui pihaknya lengah hingga insiden ini terjadi. Meskipun dalam tataran main-main, namun berkelahi di lingkungan sekolah adalag hal yang sangat terlarang bagi murid.”Kami mengaku lengah mengawasi aktivitas siswa yang ada di sekolah ini sampai terjadi kejadian seperti ini,” jelas Nurbaya.

Pihak sekolah juga akan mengupayakan memberikan bantuan ala kadarnya terhadap keluarga Muhammad Syukur.

Di tempat terpisah Wali Kelas Muhammad Syukur, A Samosir menuturkan, pada hari Rabu yang bersangkutan mengeluhkan sakit di perutnya saat mengikuti pelajaran. “Saya sempat menyuruh dia untuk pulang saja,” jelas Samosir. Tapi ia tidak melihat jelas apa yang terjadi antara Syukur dan tiga temannya pada hari Kamis. Ia hanya mendengar kabar kalau Syukur masuk rumah sakit pada hari Sabtu karena sakit di perut.

“Esoknya saya baru dikabari kalau Syukur meninggal. Saya kaget karena katanya meninggal setelah dikeroyok,” ujarnya.
Samosir mengaku sudah memanggil tiga teman sekelasnya itu dan menurut pengakuan mereka, tidak ada pengeroyokan.”Katanya mereka cuma main-main. Ya namanya juga anak-anak, mungkin tanpa sengaja terkena di perut. Tapi Syukur memang sebelum itu sudah ada sakit di perutnya,” jelas dia.

Kerabat Korban yang juga sempat hadir di SDN Tamalanrea V, Rahim yang mewakili pihak keluarga Muhammad Syukur, kemarin menyampaikan tidak akan memperpanjang persoalan ini. Apapun yang terjadi pada Syukur kata Rahim, kedua orangtuanya sudah ikhlas.”Kami juga tidak akan menuntut siapapun dalam persoalan ini, kami cuma meminta bantuan seikhlasnya kepada pihak sekolah untuk membantu pembayaran perawatan Muhammad Syukur saat sedang di rumah sakit,” jelas Rahim.

Rahim sangat berharap persoalan ini tidak diperpanjang lagi. Ia yakin, apa yang menimpa ponakannya bukan pengeroyokan atau unsur-unsur kesengajaan.”Tidak usah di besar-besarkan lagi cukup sampai di sini saja. Syukur sudah meninggal dan kami sekeluarga ikhlas,” jelas Rahim.

Harus Merujuk Hasil Visum

PRAKTISI anak dan pakar hukum, Syamsuddin Mukhtas berpendapat dalam kasus Muhammad Syukur, banyak pertimbangan hukum yang harus ditinjau untuk menentukan apakah kasus ini memang laik ditempatkan sebagai kasus pengeroyokan atau tidak. Semua kata dia, harus merujuk pada fakta.

“Faktanya itu ya tentu berupa hasil visum dari pihak dokter. Karena bisa saja ada faktor lain penyebab meninggalkanya korban,” jelas Syamsuddin.
Tidak bisa kata dia serta merta ada klaim bahwa ini pengeroyokan dan yang bersangkutan meninggal akibat pengeroyokan itu.

“Harus dicek secara medis apakah memang korban mempunyai riwayat menderita penyakit atau dari hasil visum ada bekas penganiayaan di tubuhnya. Itu semua harus dicermati karena terduga pelakunya juga anak-anak,” katanya.

Syamsuddin merespons langkah kepolisian yang menunggu hasil visum dokter sebelum dilakukan langkah penyelidikan lebih jauh.Jika nantinya dari hasil visum tergambar bahwa korban meninggal karena pengniayaan, maka sebagai pertimbangan ada Undang-undang Perlindungan Anak yakni Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002, di mana dalam undang-undang tersebut diatur tentang bagaimana cara memperlakukan anak yang melakukan tindak pidana.

“Bisa saja penyidik kemudian mengategorikan perbuatan pelaku pasal penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Tapi Karena pelakunya juga tergolong masih anak maka ada perlakuan khusus sesuai dalam penerapan pasal perlindungan anak,” ujarnya.

Berbicara mengenai status anak, maka perlu dilihat siapa yang dimaksud kategori anak. Menurut undang-undang peradilan anak, kata Syamsuddin, yang dimaksud kategori anak itu ialah mereka yang berusia 12 tahun.

“Mengenai proses hukumnya sendiri mereka yang bisa dibawa ke peradilan mereka yang sudah berusia 12 tahun hingga 18 tahun. Tapi karena kemungkinan dalam kasus ini pelaku umurnya tidak jauh berbeda dengan korban yang masih duduk di bangku kelas 1 SD maka mereka cukup diberikan pengarahan, nasihat serta pembinaan menurut undang-undang,” terangnya.

Pendapat yang sama dilontarkan Direktur Perhimpunan Bantuan dan Hak Asasi Manusia Indonesia (PBHI) Sulsel, Wahidin Kamase mengatakan, jika betul penyebab kematian korban karena adanya penganiayaan, maka pelaku yang masih tergolong anak ini harus mendapat perlakuan khusus.

“Jadi peradilan nantinya harus bisa melihat kalau anak ini adalah aset negara. Maka negara berkewajiban melindungi dia begitupun sebelumnya di saat masih berproses hukum maka psikologi anak ini harus tetap terjaga,” tandasnya.

Menurutnya, selain pertimbangan psikologis anak, masa depan sang anak juga harus diperhatikan. Kata wahidin Hal inilah yang membuat perbedaan perlakuan antara anak di bawah umur dengan orang dewasa di mata hukum.

Namun lanjut kata Wahidin, pada hakikatnya, segala bentuk penanganan terhadap anak yang melanggar hukum harus dilakukan dengan memprioritaskan kepentingan terbaik untuk si anak. Oleh karena itu, keputusan yang diambil hakim apabila kasus diteruskan sampai persidangan maka harus adil dan proporsional, serta tidak semata-mata dilakukan atas pertimbangan hukum.

“Keputusan hukum tersebut juga harus mempertimbangkan berbagai faktor lain, seperti kondisi lingkungan sekitar, status sosial anak, dan keadaan keluarga. Hal-hal ini dijamin serta diatur dalam UU Pengadilan Anak,” tutup Wahidin.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Pol Endi Sutendi, mengatakan pihak kepolisian tentunya akan memproses tanpa mengesampingkan Undang-undang Perlindungan Anak jika betul nantinya unsur pidana ada dalam kejadian ini.
“Kita menunggu hasil visum dulu. Sampai saat ini kami belum terima,” singkatnya.(BKM)

Check Also

Ilustrasi. Foto: Dok

Terbukti Edarkan Narkoba, Herman Dibui Delapan Tahun

Tanjungpinang, sidaknews.com – Terbukti bersalah memiliki dan mengedarkan narkoba, terdakwa Herman alias Babe (56) dihukum …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>