Kamis , 25 Mei 2017
Home » Berita Foto » Korupsi Alkes Dinkes Anambas, Direktur CV. Intan Diagnostika Dituntut 18 Bulan Penjara

Korupsi Alkes Dinkes Anambas, Direktur CV. Intan Diagnostika Dituntut 18 Bulan Penjara

Korupsi Alkes Dinkes Anambas, Direktur CV. Intan Diagnostika Dituntut 18 Bulan Penjara
Terdakwah Yuni Widiyanti, Direktur CV. Intan Diagnostika Dituntut 18 Bulan Penjara.

Tanjungpinang, Sidaknews.com – Yuni Widiyanti, Direktur CV. Intan Diagnostika dituntut hukuman satu tahun dan enam bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum, Selasa (8/7).

Tuntutan yang diajukan JPU ini jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan dua mantan pejabat Dinas Kesehatan Anambas sebelumnya, Dr. Tajri dan Sofyan.

Ketua Majelis Hakim Jarihat Simarmata mengatakan, terdakwa Yuni Widyanti dituntut jaksa penuntut umum dengan hukuman satu tahun dan enam bulan penjara.

Terdakwa juga didenda Rp 50 juta. Bila uang denda tak sanggup dibayar, maka terdakwa harus dihukum kurungan selama empat bulan.

“Terdakwa tidak dikenai uang pengganti. Pasalnya, uang kerugian negara sudah dikembalikan sekitar Rp 3,5 miliar,” ujarnya.

Untuk diketahui, Kasus dugaan korupsi alkes ini ditangani Kejati Kepri pada Juni 2012 lalu. Mantan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Anambas Sofyan dan mantan Kepala Bidang di Dinas Kesehatan Dr. Tajri ditetapkan sebagai tersangka.

Ketika itu, pihak kontraktor, dalam hal ini CV. Intan Diagnostika Yuni Widiyanti belum memenuhi panggilan pihak kejaksaan. Yuni ditangkap tim Kejaksaan Agung bersama tim Kejati Kepri di kediamannya di Bekasi pada 1 April lalu. Yuni ditahan di Rumah Tahanan Negara Kelas I Tanjungpinang pada 14 Mei lalu.

Hal yang sama juga terjadi pada Sofyan. Ia melarikan diri usai dijatuhi hukuman oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor pada 24 September 2013 lalu.
Sofyan dan Dr. Tajri dihukum selama tiga tahun penjara. Namun, Sofyan dan Tajri enggan menerima hukuman tersebut dan langsung menyatakan banding.

Pada 23 November, Sofyan ditangkap tim Kejagung dan tim Kejati Kepri. Sofyan berdalih melarikan diri.
Usai persidangan pada 24 September lalu ia merasa masih bebas karena melakukan upaya hukum yakni banding. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Bandung. Sampai saat ini, keduanya terus melakukan upaya hukum. (IK)

Check Also

Indonesia Perlu Belajar Toleransi Dari Keberagaman di Sipirok

Sipirok, sidaknews.com – Keberagaman merupakan sesuatu yang tidak terpisahkan dari sebuah wilayah dalam suatu negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *