Sabtu , 27 Mei 2017
Home » Berita Foto » Lion Air delay bukti Indonesia darurat penerbangan

Lion Air delay bukti Indonesia darurat penerbangan

 

Penumpang Lion Air antre pengembalian tiket. Foto:Merdeka.com)
Penumpang Lion Air antre pengembalian tiket. Foto:Merdeka.com)

Jakarta – Masalah delay Lion Air menjadi perhatian banyak pihak. Mantan Kasau Marsekal (purn) Chappy Hakim yang sekarang menjadi pengamat penerbangan menilai, dunia penerbangan Indonesia semakin hari semakin suram. Di tahun 1960 sampai 1970-an, maskapai penerbangan tertata rapi seperti Garuda yang merupakan maskapai duta Indonesia, maupun Merpati yang saat itu digunakan untuk menjaga NKRI. Sehingga keutuhan negara terjadi.

Namun jika dikaitkan dengan saat ini, dengan maskapai atau pesawat yang terlalu banyak, menyebabkan jumlah penumpang semakin tinggi tetapi tidak diimbangi dengan SDM dan infrastruktur yang memadai.

“Itulah yang menjadikan penerbangan amburadul. Itu yang kita rasakan saat ini,” kata Chappy dalam diskusi ‘Ayo benahi transportasi negara’, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (21/2).

Menurutnya, delay Lion Air ini menyangkut harga diri bangsa, karena dilihat dunia. Ini dinilai menggambarkan manajemen yang tidak ada artinya.

“Apa yang harus dikerjakan, harus kita struktur terlebih dahulu,” tambahnya.

Ditambahkan Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Keterbukaan Informasi Publik Hadi Mustofa, dengan adanya kasus delay Lion Air beberapa hari lalu, itu menyebabkan regulasi terkait dengan perizinan harus dibenahi.

Menurutnya, beberapa hal yang perlu dibenahi adalah regulator harus memahami regulasi dengan baik, dan industri penerbangan harus menjadi terbuka ke masyarakat, sehingga pembenahan menjadi semakin cepat.

“Pengaturan Menteri No 77 tahun 2011 tentang mengatur tanggung jawab industri angkutan udara terhadap penumpang ini terlihat tidak efektif, karena tidak memberikan efek jera bagi pihak penerbangan,” tambahnya.

Di lokasi sama, anggota Komisi V DPR Fauzih Amroh juga menjelaskan bahwa harus ada hukuman untuk operator dan regulator yang terkait. Karena menurutnya, di sini ada hak-hak konsumen yang terzolimi.

“Kalau saya menjadi korban, saya akan menuntut,” ungkap Fauzih.

Menurutnya, penerbangan ini harus ditata ulang, karena ini merupakan darurat penerbangan. sehingga dengan adanya delay ini merupakan pintu masuk untuk membenahi penerbangan di Indonesia.

“Penerbangan per tahun sekitar 160 juta penumpang, berarti per hari diperkirakan 150 ribu orang terbang. Sedangkan fasilitas tidak memadai. Ini harus diperbaiki,” tambahnya.
(sumber:merdeka.com)

Check Also

Tarawih Perdana, Nasaruddin Sampaikan Ceramah di Mesjid Ruhama Takengon

Takengon, sidaknews.com – Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin menyampaikan ceramah pada Tarawih perdana di Mesjid Agung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *