Rabu , 24 Mei 2017
Home » Daerah » Aceh » Menghadapi AEC- 2015 Dan Pasar Bebas Asia Pasifik Kesiapan Petania Aceh Masih Ketinggalan

Menghadapi AEC- 2015 Dan Pasar Bebas Asia Pasifik Kesiapan Petania Aceh Masih Ketinggalan

Penulis, A.Rakhman,SP.MP (Penyuluh Pertanian BKP-LUH Aceh)
Penulis, A.Rakhman,SP.MP (Penyuluh Pertanian BKP-LUH Aceh)

ACEH,Sidaknews.com – Sumberdaya petani Aceh masih ketinggalan dalam hal kesiapan menghadapai pasar bebas,hal ini karena belum maksimal Pemerintah Aceh menyiapkannya.

Selama ini diberbagai pelosok daerah di Aceh, para petani masih seperti yang dulu. Berkeringat, penuh lumpur, tinggal dipedalaman – terkadang tidak menikmati fasilitas listrik, berpenghasilan rendah, selalu terjebak oleh permintaan pasar, dan lemah dalam mengakses informasi.

Kini pasar bebas bagaikan datang menyergap. Praktis dampaknya terasa disegala sendi kehidupan (ekonomi), dari hari kehari. Untuk menghadapai itu perlu kesiapan petani dalam diberlakukannya ASEAN Ekonomic Commonity (AEC)2015 dan pasar bebas Asia Pasifik. Lalu sudah siapkah petani Aceh menghadapi hal itu?

Ada indikasi Aceh belum siap menghadapi pasar bebas. Hal itu bisa dilihat dari masih kuatnya nilai impor. Sebaliknya nilai ekspor sangat lemah,“Jujur penulis melihat selama ini berbagai kebijakan pemerintah kurang mengantisipasi dan belum siap menghadapi globalisasi.”

PERAN KELOMPOK TANI:

Sebagai organisasi profesi berdasarkan PERMENTAN No.82/PERMENTAN/OT.140/8/2013 tertanggal 19 Agustus 2013, yang mewadahi ribuan “motor penggerak agribisnis” di Aceh, tentunya KTNA memiliki peranan penting.

Untuk itu, memang pendekatan paradigma harus bergeser dari pendekatan produksi kearah kreatifitas pemasaran. Petani harus diberdayakan untuk menghadapi persaingan pasar.

Namun selama ini keterbatasan kualitas SDM petani/ nelayan menjadi muara mengapa pemberdayaan petani menjadi penting untuk dilakukan dan keragaan kualitas SDM petani nelayan ini pula yang harus mnjadi pijakan awal manakala program/kebijakan pemberdayaan dirumuskan dan diimplementasikan.

Program pemberdayaan petani nelayan lebih dititikberatkan pada peningkatan kualitas SDM petani nelayan dan metode penyuluhan pertanian sebagai suatu proses belajar yang dilakukan secara non formal, fleksibel diyakini merupakan media pembelajaran yang tepat dalam rangka meningkatkan kualitas SDM pertanian.

TEKNOLOGI DAN KEBIJAKAN:

Arus globalisasi semakin gencar. Penemuan teknologi masa kini semakin marak. Berbagai macam peralatan elektronik tersebar diseluruh penjuru dunia. Hal-hal yang pada zaman dahulu dikatakan sebuah mimpi, sekarang menjadi sebuah realita. Penerapan teknologi-teknologi modern disemua sector kehidupan, memberikan kemudahan dan kebermanfaatan bagi manusia dalam menjalankan aktifitasnya.

Sekarang sudah banyak teknologi-teknologi pertanian yang sudah diterapkan oleh beberapa Negara maju, dari mulai alat-alat pertanian, varietas-varietas unggul, bibit pertanian, hingga budidaya pertanian dengan cara modern. Terbukti dengan adanya teknologi pertanian dapat meningkatkan produktifitas pangan suatu Negara. Contoh nyatanya adalah Negara Amirika.

Teknologi pertanian Amirika semakin maju sejak abad ke 19, banyak mesin dan teknologi pertanian yang ditemukan. Kemajuan teknologi yang semakin pesat, tidak membuat orang Amerika meninggalkan pertanian, namun justru pertanian disana semakin berkembang. Mesin dan teknologi yang ditemukan digunakan untuk meningkatkan hasil dan mutu pertanian.

Penerapan teknologi merupakan salah satu trobosan untuk mengejar ketertinggalan dalam berpacu ditengah persaingan pasar global. Dengan teknologi pekerjaan petani dapat dipermudah, dan pada akhirnya meningkatkan minat/daya tarik generasi muda untuk terjun ke agribisnis.

Disamping teknologi, jika dibandingkan dengan beberapa Negara modern, ada “benang merah” yang membuat mareka maju dan terdepan dalam teknologi pertanian, diantaranya dukungan pemerintahnya melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak terhadap petani , mengatur dan menata pengelolaan pertanian menjadi teratur, efision, tertata dan mensejahtrakan.

PEMBINAAN SECARA TERPADU DAN TERPUSAT:

Untuk melahirkan sebuah kegiatan yang berstandar,perlu dilaksanakan pembinaan kelompok tani secara terpadu dan terpusat di setiap sentra produksi, paling tidak setiap satu sentra produsi tertentu adanya satu “kelompok tani percontohan” yang dikelola dan dibina secara professional dan menjadi sentra pembelajaran bagi petani lain di sekitarnya.

Baik dalam bentuk cara budidaya yang baik dan benar berdasarkan Good Agricature Practic (GAP), Penanganan Pasca Panen Goood Manufacture Practic (GMP) maupun dalam penanganan pemasaran hasil yang yang terjami, yang kesemuanya bermuara supaya hasil produksi petani kita diharapkan mampu berdaya saing dipasar global, tentu saja hal ini butuh tenaga tenaga Pembina yang betul- betul professional,yang mampu mengkaji porsoalan-persoalan yang ada dalam kelompok tani.(Hasbi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Check Also

Pertahanan Semesta Membangun Kemanunggalan TNI-RAKYAT

Lhokseumawe, sidaknews.com – TNI merupakan alat pertahanan Negara untuk mempertahankan keutuhan wilayah NKRI yang berdasarkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *