Sabtu , 25 Maret 2017
Home » Berita Foto » NCW audensi dengan Kejari Natuna terkait perkembangan kasus padat karya

NCW audensi dengan Kejari Natuna terkait perkembangan kasus padat karya

Ilustrasi: tikus- tikus koruptor.
Ilustrasi: tikus- tikus koruptor.

Tanjungpinang,Sidaknews.com – Menindaklanjuti laporan kasus dugaan korupsi Padat Karya tahun 2009 senilai Rp19 miliar yang dilaporkan oleh Lsm Gebuki (Gerakan Berantas Korupsi) Tanjungpinang pada tahun 2011 kepada pihak kejaksaan Tinggi Kepri dan dilimpahkan kepada pihak Kajari Ranai, dengan nomor laporan 312/Geb/Tpi-III/11 tertanggal 28 Maret 2011.

Natuna Coruption Watch (NCW) Natuna dalam audensinya kepada pihak kejaksaan negeri Natuna mempertanyakan perkembangan penyidikan kasus korupsi “Padat Karya” Padahal kasus ini, pihak kejaksaan sudah menetapkan Pttknya Djoko Putro sebagai tersangka.

NCW menilai perkembangan penanganan kasus ini belum signifikan dan tuntas, ketua NCW Natuna Wan Sanusi sudah berkoordinasi sebelum mengadakan audensi kepada Kejari Ranai dengan saudara kuncus ketua lsm Gebuki saat itu sebagai pihak pelapor kasus ini.

NCW terus mengejar perkembangan kasus ini, sebab sudah ada dua alat bukti untuk memenjarakan para pelaku, kenapa dan ada apa dengan pihak Kejari Natuna?. “dalam hal kami mencoba untuk menyurati secara resmi mantan Kadis Nakertransos Natuna selaku pengguna anggaran (PA) untuk menanyakan keberadaan tersangka dan mencari fakta baru.

Meski tidak mendapat surat jawaban tertulis tetapi minggu akhir November lalu saat kami bertemu kami mendapat pengakuan lisan yang kami anggap sebagai temuan baru, dimana Kepala Dinas Tenaga Kerja saat itu selaku pengguna anggaran mengakui secara lisan di hadapan kami.

“maksudnya saya dan anggota NCW Natuna bahwa dialah yang berjasa menyelamatkan dana Rp. 40 Miliar untuk pembayaran upah kerja kelompok di 27 Desa dan Kelurahan Se-Kabupaten Natuna,” terang Wan Sanusi.

Pernyataan Wan Sanusi ini juga di benarkan oleh anggota NCW lainnya Isa Busri yang saat itu ikut menemui Wan Sanusi mendengar pernyataan mantan Kadis Nakertransos selaku PA Proyek Padat Karya tahun 2009.

“Ya saya ikut mendengarkan bahwa yang bersangkutan menyatakan justru menyelamatkan dana Rp. 40 Miliar untuk membayar kelompok Padat Karya di 72 Desa dan Kelurahan Se-Natuna, saya juga sempat kaget, karena selama ini tidak tahu kalau dana upahnya Rp. 40 Miliar,” jelas Isa Busri.

Mendapat pernyataan terbaru ini NCW Natuna langsung bergerak meminta audiensi dengan Kejaksaan Ranai di Natuna untuk memberitahu pernyataan terbaru yang di dengarnya.

Permohonan audiensi NCW akhirnya diterima Kasipidsus Kejaksaan Ranai di Natuna Bambang Widianto, Senin (8/12) di ruang kerjanya.

“Saat audiensi dengan NCW kasipidsus menyatakan bahwa selama ini fokus untuk mengungkap penyimpangan proyek Padat Karya tahun 2009, ada 3 hal yang menjadi perhatian yakni dana sosialisasi, dana pengadaan peralatan dan dana upah kerja,

Untuk dana sosialisasi dan dana pengadaan alat kerja pihak Kejaksaan Ranai sudah menetapkan Joko sebagai tersangka dan dinyatakan sebagai DPO Kejaksaan.

Ketua NCW Natuna telah membeberkan kepada pihak pinyidik Kejari Ranai terkait dengan apa yang disampaikan oleh agus Supardi sebagai pengguna anggaran saat kami berkoodinasi dengan beliau.

Menurutnya, bahwa dia (PA-red) yang menyelamatkan dan melakukan pembayaran upah kerja senilai Rp. 40 Miliar, untuk itu kami meminta Kejaksaan Ranai untuk menindaklanjuti pernyataan ini,” tambah Wan Sanusi saat menggelar jumpa pers di Happy Bakery Ranai dengan sejumlah wartawan di Natuna.

Kasipidsus Kejakssan Ranai, Bambang Widiantoyang dikonfirmsi wartawan di terpisah, mengakui bahwa NCW sudah bertemu dengan dirinya dan berkomunikasi terkait perkembangan kasus Padat Karya yang disidik Kejaksaan Ranai.

“Kita masih terus melakukan pengembangan penyidikan kasus Padat Karya, kami sudah melakukan upaya semaksimal mungkin untuk menangkap tersangka, tetapi Joko selaku tersangka sejak tahun 2012 ditetapkan sebagai tersangka hingga saat ini tidak diketahui keberadaanya.

Kita sudah coba mencari ke daerah asal tersangka (kampung halamannya-red) tetapi belum membuahkan hasil, kita juga sudah minta bantuan Kejaksaan Agung untuk memonitor dan melacak sejumlah nomornya, guna mengetahui keberadaan tersangka.

Dalam hal ini kami juga sangat berharap kepada siapa saja yang mengetahui keberadaan tersangka DJoko untuk memberitahu kami, agar kasus ini bisa segera di tuntaskan.” Terang Bambang Widianto menjawab Gardanusantara Online.

Bambang Widianto menjelaskan bahwa DJoko merupakan tersangka kunci guna membuka kotak pandora aliran dana Miliaran rupiah proyek Padat Karya.

“Hingga saat ini hasil penyidikan mengarah dan berhenti ke Joko, kita belum temukan bukti dan saksi lain yang bisa mengaitkan aliran dana Padat Karya ke orang lain untuk itu jika masyarakat mengetahui, mendengar atau bahkan mempunyai bukti otentik pihak Kejaksaan Ranai berharap bisa diberitahu agar Kejaksaan Ranai bisa menuntaskan kasus ini,” tambah Bambang Widianto.

Sementara Agus Supardi, SH, mantan Kadis Nakertransos dan PA yang dikonfirmasi wartawan via sms menjelaskan terkait pengakuan di hadapan NCW bahwa dirinya yang menyelamatkan dan membayarkan upah kerja Padat Karya senilai Rp. 40 Miliar.

“Saya minta maaf….krn sdh lama jd lupa…dana upah seluruhnya lebih kurang 12 Milyar….” Inilah bunyi balasan sms yang dikirim dari nomor pribadinya.

Wan Sanusi berharap, agar pihak kejaksaan negeri Ranai benar-benar bekerja secara profesional dalam mengungkap kasus padat karya ini.(GN) 

Check Also

KETUA Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Ir. Teuku Alaidinsyah M. Eng saat membuka secara resmi Orientasi Kepalangmerahan dan Musyawarah Kerja Kabupaten (Mukerkab) PMI Bireuen. FOTO/TARMIZI A. GANI.

Musyawarah Kerja PMI Kabupaten Bireuen Dibuka Teuku Alaidinsyah

Bireuen, sidaknews.com – Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Ir. Teuku Alaidinsyah M. Eng membuka …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>