Rabu , 24 Mei 2017
Home » Berita Foto » Pedagang ‘Rombengan’ Tolak Larangan Impor Pakaian Bekas

Pedagang ‘Rombengan’ Tolak Larangan Impor Pakaian Bekas

Keterangan gambar: PAKAIAN BEKAS “Para pembeli pakaian bekas memadati Pasar Rombengan di Jalan Besi Kota Tebingtinggi. Para pedagang maupun masyarakat penggemar pakaian bekas mengaku keberatan dengan kebijakan larangan impor pakaian bekas yang dikeluarkan pemerintah”.
Keterangan gambar: PAKAIAN BEKAS “Para pembeli pakaian bekas memadati Pasar Rombengan di Jalan Besi Kota Tebingtinggi. Para pedagang maupun masyarakat penggemar pakaian bekas mengaku keberatan dengan kebijakan larangan impor pakaian bekas yang dikeluarkan pemerintah”.

Tebingtinggi,Sidaknews.com – Ratusan pedagang pakaian bekas (rombengan) yang mangkal di Jalan Besi Kelurahan Pasar Gambir Kota Tebingtinggi menolak kebijakan pemerintah melalui pihak Kementrian Perdagangan yang melarang menjual eks pakaian impor asal luar negeri.

Para pedagang Pasar Rombengan yang sudah berjualan turun temurun selama puluhan tahun di Jalan Besi tersebut mengaku akan gulung tikar (bangkrut) apabila pemerintah memberlakukan larangan impor pakaian bekas dari Korea, Jepang, Cina dan Amerika Serikat.

Salah seorang pedagang, Robinson Sinulingga (48) kepada wartawan, Jumat (6/2), mengaku menolak kebijakan tersebut karena akan mematikan penghasilan ratusan orang bahkan ribuan pedagang pakaian eks impor tersebut. “Jelas kami menolaknya, ini perkara perut. Kalau dilarang, kami mau makan apa dan apa buat biaya anak sekolah kami”, cetusnya.

Robinson mengungkapkan bahwa ratusan pedagang pakaian rombengan yang mangkal di Jalan Besi itu sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan pakaian bekas. Kalau dilarang, maka jumlah pengangguran akan semakin banyak. “Pokoknya kami menolak. Sudah puluhan tahun kami menggantungkan hidup disini”, cetus Robinson yang mengaku generasi ketiga menggantikan dari orang tuanya.

Selama berdagang, ujar Robinson, belum ada laporang atau komplain pembeli yang mengalami penyakit atau virus dari memakai pakaian bekas asal luar negeri. Malahan, pembeli mengaku terbantu dengan adanya pasar rombengan tersebut. “Selain harganya murah dan kualitasnya terjamin”, katanya.

Salah seorang pembeli, Bu Ema (45) mengaku sangat keberatan kalau pakaian rombengan (monza) tersebut tidak boleh diperjual belikan. “Justru dengan adanya pakaian bekas ini, kami warga biasa bisa membeli pakaian berkelas dari luar negeri”, paparnya.

Bukan itu saja, selain harganya murah serta terjangkau dengan isi kantong masyarakat, juga belum pernah ada kabar konsumen pakaian bekas yang terkena virus penyakit menular gara-gara memakai pakaian bekas. “Coba bayangkan, dengan uang Rp 100.000 kita bisa mendapatkan minimal 3 sampai 5 potong pakaian yang berkelas”, terangnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi ketakutan tertular penyakit kulit, Bu Ema mengaku masalah itu mudah untuk mengantisipasinya, hanya dengan merendam air panas menggunakan deterjen dan menjemurnya ke sinar matahari serta melakukan setrika, baru dipakai. “Untuk fashion, pakaian bekas tidak kalah gaya dengan pakaian di plaza-plaza”, ujarnya. (Wan)

Check Also

Bupati Soekirman: Dengan Xpansi Kita Tunjukkan Kepedulian Pada Dunia Pendidikan dan Kelestarian Alam

*Pemkab Sergai Gelar Kegiatan Xpansi, Sergai, sidaknews.com – Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir. H. Soekirman …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *