Kamis , 23 Maret 2017
Home » Daerah » Aceh » Aceh Timur » Pelayanan RSUD IDI Dinilai Buruk

Pelayanan RSUD IDI Dinilai Buruk

-Direktur di Tuding Sebagai Orang yang Diktator.

Keterangan Gambar: RSUD IDI Aceh Timur.
Keterangan Gambar: RSUD IDI Aceh Timur.

Aceh Timur,Sidaknews.com – Direktur RSUD IDI dijabat oleh dr.Munawwir,SpB,seiring bergantinya status RSUD tersebut dari tipe C ke tipe B, seharusnya aturan yang di berlakukan di RSUD IDI semakin baik sehingga bermanfaat bagi pasien yang berobat dan juga bagi tenaga medis itu sendiri.

Namun anehnya malah yang terjadi adalah aturan yang berlaku milik Direktur itu sendiri meskipun dapat merugikan orang banyak.

Beberapa sumber BKI mengatakan Direktur RSUD IDI sudah menjadi Diktator dalam menjalankan amanah yang di berikan.

“RSUD idi adalah salah satu tempat pelayan kesehatan yang dibanggakan oleh masyarakat Aceh Timur untuk penanganan kesehatan setingkat Dokter spesialis. Untuk mendapatkan pelayanan yang maksimal tentu saja para tenaga medis harus fresh (segar bugar-red) dalam melayani pasiennya.

Bila tenaga medis mengalami depresi dan tertekan tentu saja hasil yang diperoleh dari sebuah pelayanan rawatan pasien tidak memuaskan bagi si pesakit. Alhasil yang diperoleh komplin dari para pasien dan keluarga si pasien,” ungkap sumber yang sangat mengerti betul kondisi didalam RSU Idi, Aceh Timur, Kamis 15 jan 2015 kepada media ini

Untuk mengejar ketinggalan di bidang pelayanan kesehatan dengan RSUS (Rumah Sakit Umum Swasta)yang ada di Aceh Timur seperti RSUS Graha Bunda, RSUD Idi sebagai pelayanan kesehatan plat merah tentu saja tidak mau ketinggalan,untuk mengejar semua itu RSUD Idi meningkatkan status nya dari tipe C Ke B, maka Bupati Aceh Timur Hasballah bin M.Tahyeb mempercayakan dr.Munawwir.SpB menjadi Direktur RSUD Idi.

“Ditangan dr.Munawwir.SpB,RSUD Idi mulai membenah diri dengan dukungan anggaran APBK Kabupaten Aceh Timur, niat Bupati Aceh Timur dalam mensejahterakan masyarakat Kabupaten Aceh Timur di sektor kesehatan sudah sangat membaik, bukan saja di RSUD Idi saja tapi di seluruh Kabupaten Aceh Timur.

Bukti perhatiannya,pengadaan Mobil Ambulance untuk setiap puskesmas, polindes,serta peningkatan program imunisasi untuk menekan angka kematian bayi dan ibu hamil dengan memantapkan program posyandu.

Namun semua itu pelaksanaannya di lapangan oleh petugas yang dipercayakan tidak memuaskan masyarakat dan kepala daerah yang telah memperjuangkan program-program kesehatan untuk masyarakat Kabupaten Aceh Timur,” ujar sumber itu sambil menunggu perawatan saudaranya di RSUD Idi.

Memang ada beberapa hal dalam pembuatan kebijakan yang harus dilakukan secara top down, tapi itu tidak semua. Untuk urusan yang juga menyangkut kepentingan masyarakat, sudah sepatutnya jika pembuatan kebijakan dilakukan secara bottom up.

“Termasuk untuk pelayanan kesehatan ini, maka tidak heran jika di intansi-intasi pemerintah masih banyak terjadi kerancuan sistem penyelenggaraan pelayanan. Kebanyakan dari intansi-intansi masih sibuk dengan pembentukan sistem, tata aturan, beserta seluruh perangkatnya,contoh nya saja Direktur RSUD Idi, dr.Munawwir.Sp telah membuat kebijakan diluar batas kemampuan tenaga medis yang ada di bawah kendali direktur.

Kebijakannya hanya untuk mencari popularitas dan sensasi saja, bukan kebijakan untuk kemajuan RSUD Idi dalam melayani masyarakat Kabupaten Aceh Timur.

“Seharusnya Direktur RSUD Idi tidak membuat kebijakan yang menguntungkan dia saja hanya untuk mencari popularitas di mata bupati Aceh Timur,sementara pegawai RSUD baik tenaga honor dan PNS merasa tertekan dalam kebijakan gila direktur RSUD Idi,” beber sumber SN yang tidak mau disebutkan namanya.

Kata sumber tadi merincikan,setiap jum“t kami harus apel ke Pusat Pemerintahan Aceh Timur di Titi Baroe, sedangkan kami tenaga fungsional yang sangat erat hubungannya dengan pelayanan publik apalagi pelayanan masyarakat di bidang kesehatan yang sangat sensitif terhadap kritikan dan komplain masyarakat yang berobat.

Sementara apel yang diwajibkan oleh direktur menurut pantauan kami di pusat pemerintahan tidak disediakan tempat apel untuk pegawai RSUD Idi. Ini terbukti dari palang nama dinas-dinas yang diwajibkan apel jum`at, yang ada tertulis untuk Dinas Kesehatan Aceh Timur.

“Disini kita dapat menilai bahwa direktur RSUD Idi mencari popularitas dan sensasi dari kepala daerah Kabupaten aceh Timur. Anehnya, kenapa tenaga medis di puskesmas Idi tidak mengikuti apel jum`at, mereka jugakan tenaga fungsional juga sama dengan kami,” jelas sumber SN lagi.

Sementara itu menurut sumber yang lainnya, beban kerja yang dibebankan kepada para staf sudah kelewatan.

“Kami kalau hari jum`at itu sangat banyak kegiatan yang di bebankan kepada kami sebagai tenaga medis. Kami harus bekerja dibawah kebijakan direktur yang tidak professional dalam membuat kebijakan terhadap pegawainya, sudah apel di pusat pemerintahan, kami juga diwajibkan gotong royong bersama di RSUD Idi.

Bagi kami itu tak masalah karena untuk menjaga kebersihan di lingkungan tempat kami bekerja, artinya kami membersihkan dan merapikan ruangan masing-masing,tapi yang di lakukan oleh direktur RSUD idi sudah kelewatan sekali,kami pernah disuruh untuk mengecat pagar RSUD Idi,inikan sudah tak pantas lagi, selain menyiksa para pegawai disamping itu juga direktur sudah mengambil keuntungan dari gotong royong bersama,” kata sumber internal itu.

Menurut sumber itu, anggaran perawatan dan operasional RSUD telah di sediakan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur. “Itu semua dikemanakan kenapa perawatan fisik RSUD Idi harus di bebankan kepada kami.

Selain itu kami para pegawai juga sering kali keterlambatan menerima pembayaran upah jasa dari BPJS, bila dipertanyakan,kami hanya mengikuti aturan dari bupati,” ujar sumber SN.

Setelah upah jasa petugas medis telat dibayar, kebutuhan pun sangat mendesak yang dibebankan kepada para staf, salah satu contohnya saja cetak nama pegawai untuk atribut pelengkap baju kedinasan. “Memang itu tidak mahal tapi dari mana kami memperoleh uang sementara jasa kami sering terlambat di bayar.

Kalau kita melihat kehidupan staf RSUD Idi salah satunya bendahara RSUD Idi sangat Lux (mewah) kalau di bandingkan dengan pangkatnya yang baru golongan IID. Makanya bila kami tidak tersenyum masyarakat bilang kami sombong-sombong.

Bila kami tersenyum itu pun anda sebagai media harus tau bahwa hati kami sedih, kenapa kami diperlakukan tidak adil didalam tugas,menerima upah jasa kerja dan beban yang diwajibkan kepada kami,jadi pemimpin seharusnya jangan jadi Diktator, diktator itukan cantik wajahnya saja tapi tidak cantik hatinya,” jelas sumber dengan nada sedih.

Sementara itu SN menghubungi Direktur RSUD Idi dr.Munawwir.SpB melaui hand phone (telon seluler) untuk mengkonfirmasi kebenaran yang di peroleh dari sumber SN. namun Direktur RSUD Idi berada di lapangan sepak bola.

“Nanti hari Senin kita jumpa saat jam dinas,” begitulah jawaban yang di peroleh SN dari Direktur RSUD Idi.(Hasbi/herman)

Check Also

Baliho bakal calon Gubernur Sulsel, Prof. HM. Nurdin Abdullah dan H. Rusdi Masse warnai ruas-ruas jalan di Ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulsel.

Prof. HM. Nurdin Abdullah & Rusdi Masse ‘Masuk’ di Kabupaten Kepulauan Selayar

Kep. selayar, sidaknews.com – Bursa pemilihan balon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi-Selatan masih sangat jauh. …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>