Kamis , 25 Mei 2017
Home » Berita Foto » Pemred merdeka.com bagikan kiat meliput Pemilu

Pemred merdeka.com bagikan kiat meliput Pemilu

Didik Supriyanto. ©2013 Merdeka.com/sapto anggoro
Didik Supriyanto. ©2013 Merdeka.com/sapto anggoro

Sekitar 25 orang peserta pelatihan jurnalistik di Galeri Nasional, Jakarta (depan Stasiun Gambir) tiba-tiba tersentak diam ketika mendapat pertanyaan soal Pemilu: “Berapa jumlah pemilih kita?”

Sang penanya adalah Didik Supriyanto, pemimpin redaksi merdeka.com. Ya, dia sedang memberikan pelatihan peliputan Pemiluyang digelar AJI Jakarta, Sabtu (24/6). Pelatihan ini penting menjelang Pemilu 2014 yang sudah tahun depan.

Rupanya, tak ada yang tahu jawabnya.Lantas, Didik pun menjelaskan, “Jumlah penduduk kita 230-an juta. Secara umum pemilih itu 70 persen dari total penduduk, berarti 170-an juta orang. Secara manajemen pemilu kita itu kompleks banget,” ujar Didik. Karena kompleknya itulah, perlu strategi bagaimana meliput pemilu yang semestinya.

Mengapa Didik dipilih untuk menjadi pemateri pelatihan Pemilu? Bukan sekadar karena bekas Sekjen AJI, tapi dia memang pakar di masalah Pemilu. Tesis yang ditulis Pemred kami untuk meraih gelar master dari Universitas Indonesia itu menyoal masalah Pemilu. Kecuali itu Didik pernah jadi komisioner untuk Panitia Pengawas Pemilu (sekarang Bawaslu). Selain itu, Didik sudah malang melintang sebagai wartawan Adil, Detik Tabloid, detikcom online sebelum akhirnya sebagai Pemred media yang Anda simak ini.

Sidang pembaca merdeka.com yang selalu smart, peristiwa itu bukanlah sosialisasi dari Komisi Pemilihan Umum kepada masyarakat. Sebaliknya, mayoritas dari peserta berprofesi sebagai jurnalis. Jadi, dia sudah ngelotok dan layak untuk berbagi pada jurnalis muda di acara AJI agar tak terjerembab dalam melaksanakan tugas jurnalistiknya. Dan, adalah kehormatan bagi merdeka.com, karena orang nomor satu dari redaksi berbagi pengalaman.

Didik memberi kiat-kiat para peserta untuk bisa memetakan hajatan politik terbesar lima tahunan tersebut. Jika tak bisa memetakan situasi, pemberitaan akan sangat bias dan merugikan pembaca, karena media yang seharusnya independen malah dimanfaatkan salah satu peserta pemilu. “Bahkan penyelanggara yang seharusnya enggak punya kepentingan, dia bisa saja ternyata menyimpan ambisi politik tertentu,” kata Didik mewanti-wanti.

“Meliput pemilu, apalagi wartawan yang belum berpengalaman, pasti bingung. Ada sekian istilah, dan banyak kepentingan. Untuk membuat berita tentang pemilu yang kompleks, cara memahaminya harus dipermudah. Oleh karena itu jika disederhanakan, Pemilu terdiri dari empat sisi saja, yaitu aktor, sistem, hukum, dan manajemen,” bebernya.

Dengan panduan itu, Didik menjelaskan apa saja sisi yang bisa dikulik dari sebuah pemilu sehingga jadi berita yang enak dibaca, dan tidak terlalu mudah terseret arus partisan. Dari sisi aktor, wartawan dapat mencari angle-angle untuk meliput calon, strategi kampanye, dan daerah pemilihannya (Dapil).

Dari sisi sistem, jurnalis bisa memperdalam cara penentuan pemenang pemilu, khususnya karena proses penghitungan suara Indonesia menerapkan sistem yang berbeda dari kebanyakan negara lain.

Begitu juga dengan sisi hukum, sengketa apa saja yang biasanya muncul selepas pemilihan. Hingga manajemen, khususnya terkait pencetakan surat suara untuk ratusan juta pemilih serta pendataan penduduk yang rumit dan sarat manipulasi.

Pembaca merdeka.com yang smart, pemred kami tidak pernah pelit berbagi pengetahuan. Terbukti, peserta yang mengikuti workshop-nya di “Pesta Media” AJI Jakarta ini, datang dari berbagai macam media dan organisasi.

Kami di redaksi pun, sudah sering mendapat materi dari beliau soal cara memahami pemilu, bahkan sejak awal media ini berdiri.Itu sebabnya, pilihan angle kami dalam peliputan pemilu dan pemilukada kaya warna. Bukan cuma melansir hasil hitung cepat, tapi sisi unik para aktor khususnya kandidat yang saling bersaing.

Bisa sidang pembaca buktikan dengan memeriksa kembali arsip berita pemilukada DKI, Sumatera Utara, atau pemilukada Jawa Tengah yang baru saja lewat. Ambil contoh, kami menulis Gubernur Jateng terpilih Ganjar Pranowo rupanya masih percaya klenik dan melakukan ritual di kuburan Raden Patah sebelum hari-H pemungutan suara. Berita Pemilu ternyata tidak kering, bisa memunculkan feature yang menarik, dan tentu saja humanis, tanpa melupakan akurasi.

Beruntung kami memiliki Pemred Didik, yang selama dua dekade menjadi wartawan, dan punya spesialisasi dengan seluk beluk pemilu. Pembaca boleh berharap pada hajatan besar tahun depan, pemilu legislatif dan presiden, merdeka.com bakal menghadirkan rangkaian berita yang tak cuma mendalam, tapi menyajikan fakta-fakta baru sehingga anda tidak salah menentukan sikap.

Merdeka.com percaya berbagi apapun, khususnya ilmu, tak bakal merugikan. Justru, manfaat akan kami dapatkan, karena kualitas jurnalisme pemilu di Tanah Air semakin meningkat dan menguntungkan masyarakat, sesuai slogan kami, “Let’s Be Smart!”

Semua hal itu harus kami lakukan agar pembaca sekalian semakin tercerahkan. Khususnya menghadapi momen pemilu 2014 mendatang yang sarat kepentingan, sehingga kita semua dapat berpikir bebas dan merdeka.Sumber Merdeka.com

Check Also

Pisah Sambut Walikota Tebingtinggi

Tebingtinggi, sidaknews.com – Dengan hormat dan rasa terima kasih, kami berdua sampaikan kepada bapak H. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *