Selasa , 28 Maret 2017
Home » Berita Foto » Penjarahan Batu Karang Di Anambas Aparat Kecamatan Tutup Mata

Penjarahan Batu Karang Di Anambas Aparat Kecamatan Tutup Mata

penjarah Batu Karang Dipulau Jemaja Tauke Mata Sipit Pek Wat
Penjarahan Batu Karang Dipulau Jemaja. Diduga dimonopoli oleh salah satu Toke/Bos Pek Wat.

Anambas,Sidaknews.com – Penjarahan batu karang di pulau Anambas khususnya di Kecamatan Siantan dan Jemaja tampaknya marak, tidak ada tindakan dari dinas terkait untuk menegur para pelaku perusakan Trumbu Karang, seharusnya kepala Bupati Anambas melalui Badan Lingkungan Hidup harus cepat bertindak.

Hal ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap kerusakan trumbu karang. Warga yang melakukan hal ini digunakan untuk kepentingan penimbunan bangunan di atas laut, diduga dimotorin oleh orang-orang yang berduit.

Padahal, seharusnya para penjarah tersebut memahami dampak dari batu karang di laut, dan yang lebih utama, masyarakat pun harus menyadari betapa besar fungsi dari Batu Karang bagi kehidupan ekosistem laut, terlebih batu karang tersebut sangat berguna sebagai penetasan ikan juga bagi keindahan alam laut dan pemecah ombak. Dan ironisnya, aparat pemerintah Kabupaten dan Kecamatan seakan tutup mata dengan praktek penjarahan batu karang tersebut.

Hal tersebut juga di akui Kepala Desa Mampok Kecamatan Jemaja, Thamrin AZ. Menurutnya, penjarahan batu karang untuk bahan bangunan masih terjadi di seputar Kecamatan Jemaja, dan sayangnya penjarahan batu karang ini relatif sulit dihentikan. Padahal, dampak yang di timbulkan sangat membahayakan, salah satunya, seperti jika ombak besar bisa Langsung menghantam rumah pemukiman warga, pasalnya batu karang ini juga berfungsi sebagai pemecah ombak di lautan.

“Aksi penjarahan batu karang di sini (Jemaja-Red) relatif sulit dihentikan.Padahal berdampaknya sangat berakibat fatal.Dan ombak itu bisa langsung masuk ke pemukiman penduduk jika tidak ada pemecah ombak. Untuk memberantas penjarahan ini, seharusnya ada tindakan tegas dari pihak Pemerintah baik itu pemerintah kecamatan maupun pemerintah kabupaten,” kata Thamrin kepada Sidak News di rumah makan Siantan Nur kemaren.

Thamrin menambahkan, dalam upaya menghentikan aksi penjarahan dan juga menjurus ke pengrusakan ekosistem laut yang ada di wilayah Jemaja haruslah dilakukan langsung oleh aparat pemerintahan setempat dan juga di bantu dari Pemerintah Kabupaten.

“Memang upaya ini sangat sulit dilakukan. Dan apabila penjarahan ini berhasil di basmi, saya yakin, laut Anambas akan kembali indah. Dan bagi penjarah batu karang, saya hanya bisa menyarankan agar mencari pekerjaan yang lebih baik. Kan masih banyak pekerjaan yang bisa dilakukan, salah satunya profesi sebagai nelayan,” tuturnya .

Hal senada juga dikemukakan salah seorang warga Jemaja sekaligus pemerhati lingkungan laut, H.Syamsul Bakhri SP. Kepada Kabar Perbatasan, Syamsul mengatakan, makin maraknya penjarahan batu karang di perairan laut Anambas tidak luput dari peranan Pemerintah Daerah yang kurang tegas, sehingga seakan-akan pihak kecamatan terlihat tutup mata atas penjarahan batu karang tersebut.

“Kita sangat menyayangkan, Pemerintah yang ada di kecamatan jemaja seakan-akan menutup mata dan seharusnya ada tindakan tegas terhadap para penjarah tersebut. Dan kalau didiamkan, ini tentunya sangat membahayakan.Bagaimana jika misalnya nanti ombak pasang yang besar langsung masuk menghantam rumah pemukiman warga? Siapa yang mau bertanggung jawab? Apalagi ini sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya,” ungkap Syamsul terlihat antusias.

Sementara Camat Jemaja, Roby Sanjaya S.Stp saat di konfirmasi di ruang kerjanya beberapa waktu lalu mengaku, sudah memberikan teguran secara lisan kepada para penjarah batu karang yang tidak lain adalah warganya juga. Namun sayangnya, para penjarah itu tidak menggubris himbauan tersebut dengan alasan tidak ada pekerjaan lain selain melakukan penjarahan batu karang untuk selanjutnya dijual dengan harga yang cukup tinggi kepada para pengusaha maupun warga yang memiliki uang.

“Kita sudah memberikan teguran dan peringatan kepada mereka, namun mereka tidak menghiraukan peringatan dari kami jadi kita juga jadi serba salah,” ungkap Roby pesimis.

Saat di singgung masalah kurang tergasnya sikap pemerintah kabupaten dan kecamatan bahkan terkesan tutup mata dengan praktek penjarahan batu karang tersebut, Roby dengan nada datar beralasan, diperlukan kesadaran dari para penjarah batu karang tersebut.

“Yang pasti saya tegaskan, pihak kami tidak tutup mata dalam hal ini, dan sampai saat ini kami sudah kerap menegur serta memberikan peringatan keras secara lisan, namun lagi-lagi para penjarah itu tidak menghiraukan himbauan kami,” ujar Roby mengakhiri perbincangan.(Rohadi)

 

Check Also

Salah satu Sertifikat praktek kerja industri.

Siswa SMKN 1 Malili Lulusan 2016 Masih Ada Yang Belum Menerima Ijazah

Lutim, sidaknews.com – Beberapa siswa SMKN 1 Malili tahun ajaran 2016 lalu, tidak menerima ijazah …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>