Kamis , 25 Mei 2017
Home » Berita Foto » Perdebatan hisab dan rukyat yang tidak pernah selesai

Perdebatan hisab dan rukyat yang tidak pernah selesai

Teropong Hilal. (merdeka/istimewa)
Teropong Hilal. (merdeka/istimewa)

Tahun ini, pemerintah menetapkan awal puasa pada Rabu (10/7) besok. Penetapan itu diketok setelah melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama, Senin (8/7).

Pemerintah menetapkan awal puasa besok dengan alasan kuat. Dengan menggunakan metode rukyatul hilal, hasil pemantauan 36 ahli di 33 provinsi, hilal tidak tampak karena rata-rata posisi hilal berada di kisaran 0,65 derajat. Menurut Menteri Agama Suryadharma Ali, hilal baru bisa terlihat di kisaran dua derajat.

Keputusan pemerintah ini juga diikuti oleh organisasi-organisasi Islam lainnya, termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Sementara Muhammadiyah memilih berbeda dengan penetapan pemerintah. Muhammadiyah jauh-jauh hari sudah menetapkan awal puasa jatuh pada Selasa (9/7) hari ini.

Muhammadiyah juga mempunyai alasan kuat menetapkan puasa hari ini. Alasan Muhammadiyah, ijtima Ramadan 1434 H, terjadi pada hari Senin Pon, 8 Juli 2013 mulai pukul 14:15:55 WIB, sedangkan tinggi bulan pada saat matahari terbenam di Yogyakarta adalah +0® 44′ 59″, dan hilal akan wujud membelah dari kawasan Indonesia.

Dengan kriteria hisab wujudul hilal, maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Ramadan 1434H jatuh pada Selasa Wage, 9 Juli 2013.

“Ketika matahari tenggelam, bulan masih berada di atas ufuk atau cakrawala berapapun derajatnya, menurut Muhammadiyah itulah hilal,” kata Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin di Jakarta kemarin.

Perbedaan kriteria dan metode yang digunakan antara pemerintah, NU dan Muhammadiyah ini sudah lama. Pemerintah dan NU menggunakan metode rukyatul hilal atau rukyat, sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode wujudul hilal lewat hisab.

Mari diulas kedua metode di atas. Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriyah.

Sementara rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (magrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (magrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai magrib hari berikutnya.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriyah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) tergantung pada penampakan (visibilitas) bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriyah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Nah, untuk menentukan kriteria awal kalender Hijriah ada dua. Lewat rukyatul hilal dan wujudul hilal.

Rukyatul Hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan merukyat (mengamati) hilal secara langsung. Apabila hilal (bulan sabit) tidak terlihat (atau gagal terlihat), maka bulan (kalender) berjalan digenapkan (istikmal) menjadi 30 hari.

Kriteria ini berpegangan pada Hadits Nabi Muhammad: “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal) menjadi 30 hari”.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh NU, dengan dalih mencontoh sunah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab. Bagaimanapun, hisab tetap digunakan, meskipun hanya sebagai alat bantu dan bukan sebagai penentu masuknya awal bulan Hijriyah.

Sedangkan wujudul hilal adalah kriteria penentuan awal bulan (kalender) Hijriyah dengan menggunakan dua prinsip ijtimak (konjungsi) telah terjadi sebelum matahari terbenam (ijtima’ qablal ghurub), dan bulan terbenam setelah matahari terbenam, maka pada petang hari tersebut dinyatakan sebagai awal bulan (kalender) Hijriyah, tanpa melihat berapapun sudut ketinggian (altitude) bulan saat matahari terbenam.

Kriteria ini di Indonesia digunakan oleh Muhammadiyah dalam penentuan awal Ramadan, Idul Fitri dan Idul Adha. Hisab Wujudul hilal dapat dijadikan dasar sesuai perintah Al Qur’an pada QS. Yunus: 5, QS. Al Isra’: 12, QS. Al An-am: 96, dan QS. Ar Rahman: 5, serta penafsiran astronomis atas QS. Yasin: 36-40. (Sumber: Wikipedia/mdk)

Check Also

Kapolda Sumut Arahkan Kapolres Tingkatkan Kewaspadaan dan Keamanan Kota Medan Pasca Ledakan Bom di Jakarta

Medan, sidaknews.com – Untuk menjaga kondusifitas kota Medan pasca ledakan Bom bunuh diri yang terjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *