Kamis , 25 Mei 2017
Home » Berita Foto » Petani Karet di Kundur Keluhkan Kenaikan BBM

Petani Karet di Kundur Keluhkan Kenaikan BBM

Foto: Petani karet lagi menimbang hasil getahnya.
Foto: Petani karet lagi menimbang hasil getahnya.

KUNDUR,Sidaknews.com – Pasca kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang ditetapkan oleh pemerintah sebesar Rp.2.000,- sejumlah masyarakat di Kundur Barat yang sebagian besar berprofesi sebagai petani karet, mulai merasakan dampaknya.

Kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang menaikkan harga bahan bakar minyak jenis bensin dari Rp.6.500,- menjadi Rp.8.500,- dan jenis solar dari Rp.5.500,- menjadi Rp.7.500,- ini dirasakan mulai memberatkan mereka.

Para petani tersebut menilai kebijakan tersebut membuat kebutuhan hidup mereka menjadi makin sulit terpenuhi, karena harga-harga kebutuhan pokok juga turut melonjak naik seiring naiknya harga BBM.

”Musim hujan begini untuk menyadap karet saja Kami susah, harga jual saja kadang-kadang naik turun, jadi untuk kendaraan, bahan-bahan, dan transportasi hasil karet Kami juga naik semua”, ujar Taufik salah satu penyadap karet di Kundur Barat.

Poto petani karet2Berdasarkan informasi, harga jual karet per-kilonya hanya Rp.6.500,-. Dengan musim penghujan yang saat ini sudah tiba di wilayah pulau Kundur, belum ditambah lagi dengan harga kebutuhan pokok yang melonjak naik seiring naiknya harga BBM, menjadikan para petani karet mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hariannya.

Para petani ini berharap agar pemerintah mempertimbangkan kembali dampak kenaikan BBM yang semakin menjerat masyarakat kalangan bawah. Mereka juga mengharapkan apabila kebijakan ini tetap,akan ada program-program pemerintah yang benar-benar bisa membantu dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

”Karena BBM naik,pasti harga obat karet juga naik,belum lagi yang lain. Kami petani karet tambah susah bang. Semoga Pak Jokowi menepati janjinya untuk pro rakyat”, ujar Taufik.

“masih menurut taufik karena harga karet sekarang murah (anjlok)makanya banyak para petani beru.bah profesi, ada yang menjadi tenaga kerja Indonesia(tki) dan juga ada yang menebang pohon karetnya untuk diganti degan tanaman yang lain, karena degan naiknya harga bbm udah jelas sembako ikut naik juga berarti pengeluaran makin besar.

Kasian para petani karet seperti kami ini ya bang,dari rumah kami cukup jauh bang jarak untuk menyadap karet jaraknya hampir enam kilo ,kami mengunakan motor untuk sampai kekebun kalaulah harga karet masih anjlok seperti ini alamat bisa tak berasapla tungku kami dirumah,makanya banyak para petani karet berubah profesi. (al,s)

 

 

 

 

 

Check Also

Kapolda Sumut Arahkan Kapolres Tingkatkan Kewaspadaan dan Keamanan Kota Medan Pasca Ledakan Bom di Jakarta

Medan, sidaknews.com – Untuk menjaga kondusifitas kota Medan pasca ledakan Bom bunuh diri yang terjadi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *