Home » Daerah » Aceh » Petani Sawah Tadah Hujan 26 Desa Di Pedada Dua Kali Gagal Panen Namun Tak Dapat Jatah Bantuan

Petani Sawah Tadah Hujan 26 Desa Di Pedada Dua Kali Gagal Panen Namun Tak Dapat Jatah Bantuan

Anak petani bersama sepeda kesayangannya di Desa Alue Sijuek, Peudada, Bireuen, Aceh masih bisa tersenyum,(Foto-dok-Karsten Ekmann Denmark)
Anak petani bersama sepeda kesayangannya di Desa Alue Sijuek, Peudada, Bireuen, Aceh masih bisa tersenyum,(Foto-dok-Karsten Ekmann Denmark)

BIREUEN,ACEH,SIdaknews.com – Derita demi derita yang di alami para petani sawah tadah hujan 26 desa di kecamatan Peudada, kabupaten Bireuen di bawah pemerintahan Aceh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga kini belum berakhir.

Selain anggaran program ”Suplesi” (memasukkan air kewaduk) di hapus atas kesepakatan eksekutif dan legislatif Kabupaten Bireuen, tanaman padi sudah dua kali gagal panen, bantuan gagal panen tidak di sediakan, di tambah lagi yang terbaru program kedelai sedang bernasib buruk (gagal).

Kong kali kong atau persengkongkolan Eksekutif dan Legislatif telah berakibat fatal terhadap keberlangsungan hidup para petani di 26 desa yang berada di empat kemukiman di kecamatan Peudada tersebut.

Tak kuasa rasanya kepedihan dan kesedihan ini saya sebarkan buat pembaca, karena saya Tarmizi A. Gani adalah salah seorang petani yang berasal dari daerah tersebut, apa lagi dengan image saya pernah tinggal di Eropa sekitar sembilan (9) tahun, namun karena alasan kemanusiaan dan keprihatinan yang mendalam serta keluhan orang kampung saat mereka di hubungi, menjadikan saya tidak kuasa membiarkan penderitaan mereka berterusan tersembunyi, tersorok dari pengetahuan publik.

Jika saya menghubungi dan bertemu atau saya pulang ke Pucoek Alue Rheng, Peudada para petani sawah tadah hujan di sana di pastikan akan bertanya tentang irigasi dan bantuan gagal panen yang tidak di akomodir pemerintah setempat, sedih sekali kan.

Siapapun saya yakin sangat tersentuh bahka tak kuasa mempertahankan air mata jika kita bisa membayangkan sakitnya penindasan yang terjadi terhadap petani di daerah di mana saya pernah di besarkan.

Sebagai anak petani dari kampung yang terisolir dari pembangunan sarana dan prasarana, saya berharap kepada seluruh pejuang orang-orang tertindas untuk membantu meringankan beban petani di 26 desa tersebut dengan cara dan skil masing – masing, kebersamaan kalian akan membuat petani kecil di daerah kelahiranku mengucapkan terimakasih banyak dan keharuan yang luar biasa.

Saya sudah coba melakukan lobi dan pendekatan serta berkomunikasi dengan DPR-K Bireuen serta beberapa pejabat pemerintah di sana, namun belum ada solusi, yang ada hanya ungkapan dari para petinggi tersebut ”kita akan berusaha untuk memperjuangkan kedepan”, tapi saya ragu dengan semua itu karena sudah puluhan tahun kondisi seperti ini terus saja bergulir, persoalan mendasar para petani tetap belum terjawab, namun di sebalik semua itu kita berdoa pada Tuhan agar pemerintah peduli.

Akhirul kalam, jangan lupa karya kita di tunggu petani sawah tadah hujan di Peudada, mudah – mudahan penguasa dan pengambil kebijakan ikut andil mebantu kesengsaraan mereka, sehingga negeri ini tidak di anggap tak bertuan.Tarmizi A. Gani anak Petani dari Pucoek Alue Rheng, yang juga aktifis pertanian dan peternakan.(Hasbi)

Check Also

Abdullah Puteh ketika menyampaikan orasi politiknya dihadapkan masyarakat Asam Peutek.

Abdullah Puteh: Jangan Takut Dengan Intimidasi

Langsa, sidaknews.com – Menjelang pemilihan Gubernur/wakil Gubernur dan Walikota/wakil Walikota pada 15 Februari nantinya, diminta …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>