Home » Berita Foto » Polisi Tertembus Anak Panah

Polisi Tertembus Anak Panah

Polisi terkena Panah
Aiptu Laode Indri anggota Samapta Polsekta Tallo Makasar terkena anak Panah.

MAKASSAR,Sidaknews.com – AIPTU Laode Indri, anggota Samapta Polsekta Tallo tertembus anak panah di bagian leher saat berusaha mengamankan bentrokan dua kelompok pemuda di Jalan Kandea, Makassar, Kamis (27/3) dini hari. Bentrokan ini melibatkan ratusan orang dari dua gang bersebelahan. Tak ada korban jiwa, namun puluhan orang dilaporkan luka.

Sehari sebelumnya, seorang anggota polisi lalu lintas Polrestabes Makassar, Bripka Yosep juga menjadi korban pembusuran seorang penjambret di Jalan Pongtiku. Yosef yang berusaha mengejar pelaku, dipanah dari jarak dekat.

Hingga sore kemarin, Laode Indri masih menjalani perawatan di RS Awal Bros setelah tim dokter berhasil mengangkat panah yang menembus lehernya. Kondisi Laode dilaporkan mulai membaik.

Perang kelompok di Kandea melibatkan tiga gang bersebelahan, yakni warga Lorong 7 berhadapan dengan warga Lorong 142 yang bergabung dengan Lorong 148.

Dilaporkan, anggota tiba di TKP saat bentrokan sedang berlangsung. Kedua kubu saling serang dengan busur dan panah. Sejumlah warga juga membawa senjata tajam berupa parang dan badik.

Saat berusaha membubarkan massa, tiba-tiba seseorang dengan sengaja melepaskan anak panah ke arah Laode hingga menembus lehernya. Laode langsung dilarikan ke RS Awal Bros, Jalan Urip Sumoharjo.

Bentrokan ini diamankan tim gabungan dari Polsekta Tallo dan Polsekta Bontoala. Setelah mengendalikan situasi, petugas melakukan penyisiran di sejumlah lorong tempat persembunyian para pelaku bentrokan. Sayang, tak satupun yang berhasil diamankan.

Kapolsekta Tallo Kompol Woro Susilo, mengatakan, perang kelompok kali ini diduga masih terkait dengan peristiwa yang sama pada tiga malam sebelumnya.
“Motifnya belum diketahui karena saat polisi turun di TKP menanyakan dari kelompok mana yang memulai menyerang semua pada bungkam. Ini sudah yang kesekian kali terjadi,” ujarnya.

Pada 2013 lalu, Kapolda Sulsel Irjen Polisi Burhanuddin Andi dan Walikota Ilham Arief Sirajuddin memediasi pertemuan antartokoh masyarakat yang bertikai. Kedua kubu kemudian menandatangani perjanjian untuk hidup berdampingan dengan damai dan tidak lagi terlibat bentrokan.

Dalam kesempatan itu, Kapolda melontarkan pernyataan keras kepada kedua belah pihak. Ia mengatakan, tidak segan-segan menembak jika di kemudian hari masih terjadi bentrokan.

Namun tak sampai setahun perjanjian itu diingkari kedua belah pihak. Awal pekan lalu, perang kelompok kembali pecah. Masyarakat pun mempertanyakan komitmen Kapolda.

“Dulu Kapolda bilang kalau ada yang bentrok lagi langsung ditembak. Sekarang sudah tiga hari terjadi bentrokan, yang ditembak tidak ada. Malah polisi yang dipanah,” ujar salah seorang warga Kandea yang mengaku prihatin dengan kembali pecahnya bentrokan klasik ini.

Menurutnya, Kapolda harus tegas dan membuktikan janjinya menembak siapapun yang terlibat. “Kalau ini terus dibiarkan, ini akan meluas. Kasihan kami yang tinggal di sana, setiap malam diliputi ketakutan,” ujarnya.

Andi Fadli, pemerhati sosial mengungkapkan, prilaku perang kelompok adalah tradisi yang membudaya dan tumbuh karena tidak adanya sikap tegas dari aparat. Menurutnya, ini persoalan klasik di Kandea yang tidak pernah ada titik penyelesaiannya.

“Perjanjian damai yang mereka sepakati tidak ada artinya. Kenapa demikian? Karena aparat tidak bertindak dengan tegas,” tandas Fadli.

Akibatnya, tidak ada efek jerah terhadap para pelaku. Sebaliknya, mereka kian membabi buta. Polisi dinilai Fadli gagal memberi rasa aman.

Seharusnya kata dia, petugas sudah dalam posisi harus bertindak represif karena pelaku perang kelompok sudah mengincar polisi sebagai korbannya.

“Mereka tidak segan-segan lagi melukai petugas. Ini mengkhawatirkan, petugas saja bisa mereka lukai, apalagi warga,” ketus Fadli.

Karena itu Fadli meminta Kapolda menginstruksikan aparatnya untuk menembak pelaku-pelaku bentrokan yang sudah meresahkan itu.
Ia menilai, banyak pekerjaan rumah dari Kapolda Sulsel yang belum tuntas. Kejahatan jalanan seperti geng motor juga gagal dihentikan. Belum lagi penjambretan yang kian merajalela, curanmor hingga kasus peredaran narkoba yang sudah begitu masif.

“Kalau tidak ada langkah-langkah ekstrem dari polisi, kejahatan-kejahatan ini akan terus berkembang dan kita akan berada dalam lingkaran setan yang menakutkan. Rasa aman akan menjadi barang mahal,” ujarnya.

Kapolrestabes Makassar Kombes Polisi Wisnu Sandjadja, mengaku prihatin dengan kembali maraknya bentrokan antarwarga di Kandea. Ia menegaskan, polisi akan memantau perkembangan di daerah itu.

“Kita akan bertindak tegas terhadap para pelaku. Saya sudah tempatkan anggota untuk berjaga di sana,” katanya.(BKM)

Check Also

Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang pinjaman dana tunai, seperti PT  Bess Finance yang beralamat di Ruko senawanggi Batu Aji, Batam.

Tagih Nasabah, Debt Kolektor Diduga Tidak Memiliki Dasar Hukum Fidusia

Batam , sidaknews.com – Perusahaan pembiayaan sudah menjabur di Kota batam, bahkan banyak perusahaan Pembiayaan …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>