Sabtu , 27 Mei 2017
Home » Berita Foto » Purwakarta Krisis Air bersih, Warga Mulai Kelimpungan

Purwakarta Krisis Air bersih, Warga Mulai Kelimpungan

Krisis Air bersih, Warga Mulai Kelimpungan. warga di Kampung Blok Lio, Desa Gurudug, Kecamatan Pasawahan. Mereka, mulai kelimpungan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari.
Krisis Air bersih, Warga Mulai Kelimpungan. warga di Kampung Blok Lio, Desa Gurudug, Kecamatan Pasawahan. Mereka, mulai kelimpungan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari.

PURWAKARTA,sidaknews.com – Dampak musim kemarau tahun ini telah dirasakan oleh warga di Kampung Blok Lio, Desa Gurudug, Kecamatan Pasawahan. Mereka, mulai kelimpungan mencari air bersih untuk keperluan sehari-hari.

Pasalnya, sejak dua bulan terkahir sumber mata air di rumah mereka telah mengering. Bahkan, untuk sekedar mandi dan cuci pakaian, warga terpaksa memanfaatkan air kotor di kubangan bekas galian pasir dan sungai kecil yang ada di wilayah tersebut.

Berdasarkan keterangan, di kampung tersebut ada dua RT yang kesulitan mendapat air bersih. Yakni, RT 7 dan 11 RW 04. Mereka bergiliran memanfaatkan air kotor kubangan yang diketahui bekas pengambilan pasir untuk kiriman ke luar daerah itu.

Sugih (46), warga setempat mengatakan, kondisi seperti ini tak aneh lagi mereka yang ada di dua RT tersebut. Dengan kata lain, penderitaan warga di sekitar kampung itu, setiap musim kemarau datang pasti kesulitan air bersih.

“Kondisi seperti ini pasti terjadi setiap musim kemarau. Warga terpaksa memanfaatkan air di kubangan itu, karena sudah tidak ada lagi mata air yang bisa dipakai lagi,” kata Sugih kepada sidaknews.com.Senin(22/9).

Sugih mengaku, kampungnya itu termasuk daerah gersang. Karena, meskipun berbagai upaya warga untuk mendapatkan air bersih sudah dilakukan. Semisal, dengan menggali sumur sedalam belasan meter, tetap saja air tidak didapat.

Jadi, sambung dia, tak heran meskipun hanya tiga minggu saja hujan tidak turun warga disini sudah kesulitan mencari air bersih apalagi sekarang hujan sudah tak turun hampir dua bulan ini.

“Kalaupun ada air dalam sumur yang digali di daerah kami ini tidak lah banyak. Lantaran, setiap kali kemarau datang, air bersih dalam sumur cepat kering,” cetus dia.

Untuk itu, terang dia, adanya beberapa kubangan bekas galian pasir ini yang sangat membantu warga. Meskipun, jika dilihat dari kondisinya air tersebut tak layak untuk dikonsumsi. “Airnya memang sedikit kotor. Tapi, saya kira tidak akan menyebabkan penyakit,” katanya.

Selain ke lokasi mata air itu, tambah dia, warga pun ada yang mencarinya hingga ke tempat lain seperti datang ke desa tetangga dengan jarak kurang lebih satu kilometer.

Dia berharap, pemerintah memperhatikan penderitaan yang dialami warga di desanya itu. Karena, kondisi seperti ini bukan kali ini saja di alami warga. Menurut dia, jika pun nanti pemerintah memberikan bantuan. Semisal, dengan memfasilitasi melalui program pompanisasi.

Sementara itu, Kepala Desa Gurudug, Kecamatan Pondoksalam, Kabupaten Purwakarta, Dedi Supriatna membenarkan soal kekeringan mata air bersih di wilayah kerjanya. Menurutnya, kondisi seperti ini kerap terjadi setiap musim kemarau tiba.

“Di desa kami ada tujuh kampung. Dua kampung diantarannya, merupakan daerah yang sering dilanda krisis air bersih,” ujar Dedi.

Adapun dua kampung tersebut, terang dia, antara lain Blok Lio dan Babakan Sempur. Yang paling parah mengalami krisis air, yakni di Blok Lio. Saat musim kemarau seperti sekarang ini, sedikitnya 146 kepala keluarga (KK) di kampung itu memanfaatkan air kotor di kubangan bekas galian pasir dan sungai kecil yang ada di wilayah tersebut.

“Sumber-sumber mata air pada kering. Makanya, warga di sana memanfaatkan air kubangan eks galian pasir dan sungai yang ada,” jelas dia.

Dedi mengaku, pemerintah desa pun sudah berupaya membuat sebuah bak penampungan di lokasi tersebut. Tapi, cara ini kurang efektif. Mengingat, penampungan air yang dibuat secara swadaya itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan ratusan warga tersebut.

Selain itu, sambung dia, pihaknya pun sudah melaporkan kondisi yang dialami warga itu ke pemkab setempat sejak setahun lalu. Tapi, sampai saat ini solusi yang ditawarkan pemerintah belum juga terealisasi. Adapun, solusi dari dinas terkait, yakni pembuatan bak penampungan besar yang luasnya 10×10 meter persegi.

“Rencanya sih mau dibuat penampungan yang menyerupai embung. Dari dinas terkait pun sudah sering ngecek ke lokasi untuk proyek itu. Tapi, sampai saat ini belum juga terealisasi,” ujarnya seraya berharap pemkab secepatnya mengeluarkan solusi untuk masalah tersebut. Supaya, penderitaan yang dialami ratusan warga itu tak berlarut-larut. (ega)

Check Also

Tarawih Perdana, Nasaruddin Sampaikan Ceramah di Mesjid Ruhama Takengon

Takengon, sidaknews.com – Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin menyampaikan ceramah pada Tarawih perdana di Mesjid Agung …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *