Senin , 27 Maret 2017
Home » Berita Foto » Repdem : Waspadai Kecurangan Pilpres Ditingkat Panitia

Repdem : Waspadai Kecurangan Pilpres Ditingkat Panitia

Ketua Dewan Pertimbangan Cabang Relawan Demokrasi Perjuangan (Depercab Repdem) Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, Asep Yadi Rudiana
Ketua Dewan Pertimbangan Cabang Relawan Demokrasi Perjuangan (Depercab Repdem) Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, Asep Yadi Rudiana.

PURWAKARTA,sidaknews.com – Memasuki masa penghitungan real count hasil pemungutan suara Pilpres 2014 oleh penyelenggara. Ketua Dewan Pertimbangan Cabang Relawan Demokrasi Perjuangan (Depercab Repdem) Kabupaten Purwakarta Jawa Barat, Asep Yadi Rudiana mengingatkan agar para kader mewaspadai kecurangan Pilpres 2014 ditingkat panitia penyelenggara.

Menurutnya, simpang-siur hasil hitung cepat dari beberapa lembaga survey tertentu, terkait dengan perolehan suara dari kubu capres tertentu serta, diduga adanya indikasi dari beberapa media yang melakukan pembenaran untuk kecurangan ditingkat panitia.

Para kader dari semua partai pendukung hendaknya melakukan langkah-langkah strategis.

“Sebaiknya, seluruh elemen dari Jokowi-JK disemua tingkatan bisa menguasai formulir C1 ukuran kecil dan C1 plano. Pasalnya bisa saja kasus Pileg lalu terulang kembali, dimana KPU tidak menggunakan C1 kecil tapi C1 plano,” kata Pria yang biasa disapa Asep Bentar in.

Selain itu, kewaspadaan para kader juga perlu ditujukan kepada panitia disemua tingkatan. “Setelah selesai ditingkat KPPS, kewaspadaan kini hendaknya kita tujukan ditingkat berikutnya, baik itu, PPS, PPK bahkan KPUD sekalipun,” tegasnya ditemui di Kantor PDIP Jalan Ahmad Yani.

Kemudian, kader senior salah satu sayap PDIP itu juga menambahkan, dengan mensikapi potensi Pilpres dua putaran menjadi satu putaran, pihaknya menenggarai lembaga tinggi setingkat Mahkamah Konstitusi (MK) juga sudah dikuasai pihak tertentu.

“Dalam konteks demokrasi hal ini cenderung terdengar sangat tidak demokratis, dan berlogika kapitalis karena sangat menematkan efektivitas dana dan waktu. Ini menimbulkan pertanyaan selanjutnya, dimana tempatnya suara rakyat, apakah tidak penting dibanding hal tersebut,” tanya Asep Bentar.

Dikatakan Asep Bentar selanjutnya, apabila logika pemaksaan Pilpres satu putaran lebih berharga dari dialektika demokrasi yang apapun hasilnya, siapapun yang menang, itu dari hasil keputusan rakyat. Ia menambahkan ini sebuah kemunduran demokrasi di negara kita.
“Ini keterlaluan, karena dalam masa pasca reformasi, demokrasi harus ditegakkan, keputusan MK tersebut bagi saya terdengar seperti ketakutan pihak tertentu jika Pilpres dua putaran,” cetusnya.

Satu lagi, terkait lembaga survey seyogyanya bisa jadi alat politik untuk mengerek atau menjatuhkan pamor kandidat dalam Pilpres. Statistik yang bercita rasa ilmiah ini hanya digunakan untuk membungkus siasat pemenangan. Menurutnya, strategi semacam ini sejatinya lebih licik ketimbang caci maki yang banyak muncul di media sosial berkait persaingan menjelang Pilpres.

“Jika seperti itu, lembaga ilmiah tersebut, bagi saya ini jadi semata soal perut dan pragmatisme. Kalo rakyat dikasih duit sepuluh ribuan untuk nyoblos namanya money politic, tapi kalo ilmuwan-ilmuwan lembaga survey dikasih milyaran, entah apa namanya?” ujar Asep Bentar menutup.(ega)

Check Also

Wabup Sergai Darma Wijaya didampingi Ketua GOPTKI Ny. Hj. Rosmaida Darma Wijaya, Ka Kwarcab Pramuka Sergai Drs. Jhoni Walker Manik, MM tengah menyematkan tanda peserta pada pembukaan LT III Kwarcab Sergai Tahun 2017 yang berlokasi di Objek Wisata Pantai Cemara Kembar Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan, Sabtu, (25/3).

Pembukaan Lomba Tingkat III Kwarcab Pramuka Sergai Tahun 2017

-Pramuka Harus Miliki Prinsip Dasar Kemampuan dan Kepemimpinan Sergai, sidaknews.com – Wakil Bupati Serdang Bedagai …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>