Selasa , 30 Mei 2017
Home » Berita Foto » Sidang Gugatan Perdata PT Kemayan Bintan Hadirkan Saksi Tergugat

Sidang Gugatan Perdata PT Kemayan Bintan Hadirkan Saksi Tergugat

Jefrianto SH Kuasa hukum Nguan Seng
Jefrianto SH Kuasa hukum Nguan Seng

Tanjungpinang,sidaknews.com – Sidang gugatan perdata antara seorang pengusaha Tanjungpinang, Nguan Seng alias Henky (Penggugat) dan PT Kemayan Bintan (KB) sebagai tergugat yang saat ini bergulir di Tanjungpinang menghadirkan saksi dari tergugat (PT KB).

Sidang yang digelar tanggal 12 Agustus 2014 lalu ini menghadirkan Totok Supriyanto selaku karyawan PT KB. Dalam kesaksiannya, ia mengaku telah bekerja di perusahaan tersebut sejak tahun 1995 dan bertugas sebagai petugas lapangan.

Saksi mengutarakan, beberapa waktu lalu dirinya pernah melihat ada aktivitas pertambangan di lahan PT KB yang berada di Dompak Tanjungpinang. Ia juga membenarkan membuat laporan ke polisi terkait dugaan penyerobotan lahan karena disuruh atasannya.

“Saya juga melaporkan hal ini ke atasan saya, Hengki Laderson,” katanya. Selanjutnya, lanjut saksi, setelah membuat laporan polisi tentang penyerobotan tanah. Ketika itu aktivitas pertambangan langsung berhenti. Dalam laporannya, Totok melaporkan perusahaan pertambangan yang beraktivitas di sana.

Setahu dirinya, perusahaan tambang tersebut adalah PT Tri Karya Abadi (TKA) milik Aseng Baruna. Namun, apakah melibatkan pemilik PT TKA seperti dalam laporannya ke polisi, dirinya tidak mengetahui.

Dalam sidang, saksi juga diperlihatkan bukti tambahan dari penggugat, Nguang Seng melalui kuasa hukumnya, Jefry Simanjuntak SH tentang laporan polisi yg dibuat saksi sebelumnya sudah dicabut karena adanya perdamaian. Namun, saksi membantah jika dirinya sudah pernah mencabut laporan.

Saksi juga menjelaskan jika aktivitas pertambangan yang masuk ke dalam HGB PT KB hanyalah pelabuhan. Saksi juga menjelaskan banyak alat berat di lokasi pertambangan ketika itu.

Sidang akan kembali dilanjutkan pada tanggal 19 Agustus 2014 dengan agenda mendengarkan keterangan saksi dan tanggal 26 agustus 2014 sidang direncanakan agenda pengajuan kesimpulan.

Seperti diberitakan, pada sidang sebelumnya, Nguan Seng melalui Kuasa Hukumnya, Jefrianto Simanjutak, SH memperlihatkan sebanyak 12 bukti tambahan tentang dokumen asli tentang kepemilikan alat berat untuk lebih menguatkan dari 7 bukti yang telah diajukan pada persidangan sebelumnya di hadapan majelis hakim yang dipimpin oleh Hakim ketua Parulian Lumbantoruan,SH. MH, didampingi Bambang,SH dan Fathul Mujib, SH. MH.

Sementara dari pihak tergugat, PT KB melalui kuasa hukumnnya, Rusmadi,SH juga menunjukan sebanyak 14 bukti tambahan tentang dokumen yang mereka miliki. Namun, dari sejumlah bukti dokumen tersebut, pihak tergugat belum bisa menunjukan salinan bukti asli, terutama menyangkut tentang Sertifkat Hak Guna Bangunan (HGB) Nomor 00871/Dompak, atas nama PT KB, termasuk gambar situasi tertanggal 19 Januari 1995 Nomor 05/PGSK/1995 seluas 2.966.500 meter persegi.

Terhadap hal tersebut, majelis hakim meminta kepada pihak tergugat untuk dapat segera menunjukan bukti sertifikat tersebut aslinya itu pada sidang akan datang, dengan agenda untuk mendengarkan keterangan saksi.

“Kita minta agar pihak tergugat untuk dapat menunjukan bukti dokumen aslinya pada sidang akan datang,”ucap ketua majelis hakim.

Dalam perkara perdata tersebut, Nguan Seng melalui kuasa hukumnya, Jefrianto Simanjutak,SH menyangkut lanjutan sidang gugatan perdata, dengan menggugat para tergugat PT KB sebesar Rp1,1 Triliun, atas pencemaran nama baik dan kerusakan alat berat miliknya pada Gugatan nomor 30/PDT.G/2014 di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang saat ini.

Nguan menggugat PT KB dan TPD, karena alat berat miliknya yang disewakan kepada CV Tri Karya Abadi (TKA) untuk usaha pertambangan bauksit, telah disita dan dijadikan sebagai barang bukti dalam perkara pidana Nomor 82/PID.B/2010/PN.TPI.

“Dalam perkara pidana tersebut, seluruh alat berat milik klien kita selaku penggugat, telah dirampas untuk negara, kecuali dua unit alat berat lainnya yang dikembalikan kepada penggugat,” ungkap Jefri usai sidang kepada media ini.

Penyitaan seluruh alat berat milik Nguan Seng didasari laporan polisi yang diajukan oleh para tergugat melalui karyawannya bernama Totok Suprianto dengan dasar laporan pencurian dan penyerobotan tanah yang dilakukan Agus Sutanto dengan laporan Polisi Nomor Pol, LP/B.81/IV/2009 tertanggal 21 April 2009.

Sementara dalam perkara perdata Nomor 82/PID.B/2010/PN.TPI yang diputuskan tanggal 19 Agustus 2010, Suban Hartono selaku pemilik PT KB mengatakan sertifikat HGB Nomor 00871 yang asli ada pada dirinya dan merupakan rahasia perusahaan dan tidak dapat diperlihatkan kepada orang lain.

Namun pada saat perkara perdata yang diajukan oleh para tergugat tanggal 12 Oktober 2010, kuasa hukum tergugat telah menjelaskan bahwa sertifikat HGB Nomor 00871 ada di bank sebagai agunan, namun pada kenyataannya tidak ada sedikitpun surat keterangan dari bank yang menjelaskan kalau benar sertifkat HGB itu diagunkan.(SN)

Check Also

Berantas Pekat, Polrestabes Medan Musnahkan Ribuan Botol Miras

Medan, sidaknews.com – Dalam memberantas pekat atau penyakit masyarakat pihak kepolisian Polrestabes Medan memusnahkan kurang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *