Kamis , 30 Maret 2017
Home » Berita Foto » Sindikat pembuat surat tanah palsu dibongkar

Sindikat pembuat surat tanah palsu dibongkar

sindikat-pembuat-surat-tanah-palsu-dibongkar2Sidaknews.com – Unit Harda Sat Reskrim Polresta Palembang berhasil membongkar sindikat pembuat surat tanah asli tapi palsu (aspal) di wilayah Palembang. Sindikat ini sudah beroperasi sejak 2009 silam.

Aksi sindikat ini terbilang rapi, hingga penyidik Unit Harda membutuhkan waktu hingga satu bulan untuk menciduk dua orang otak pemalsuan surat tanah.

Kedua tersangka dimaksud, Nursahid (47), warga Jalan Pipa/RA Abusamah, Lorong Melati, depan SMA Xaverius RT 08 RW 02, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang dan rekannya Sukirin alias Lek Keren, warga Jalan Letkol Adrian SZ, Komplek Polantas No 08, RT 02 RW 06, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang.

Dua pria paru baya ini diamankan petugas dari kediaman masing-masing, Kamis (30/1) lalu, berawal dari laporan Syarul Yahya kepada Polresta Palembang terkait penyerobotan tanah miliknya di Jalan Kopral Amin RT 12 Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami seluas 300 meter persegi dengan nomor LP/B-3382/XII/2013/Sumsel/Resta tanggal 2 Desember 2013.

Kapolresta Palembang Kombes Pol Sabaruddin Ginting menjelaskan, modus dilakukan kedua tersangka dalam beroperasi dengan mengamati objek tanah bernilai tinggi, tetapi tidak lagi diurus atau ditinggal pemilik aslinya.

Kebanyakan tanah dicaplok berada di kawasan tempat tinggal kedua tersangka, kawasan Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami Palembang.

“Surat tanah berupa SPH (Surat Pengakuan Hak) palsu ini dibuat di atas segel lama yang dibeli dari penjual kaki lima depan Kantor Pos Jalan Merdeka. Semuanya berada di Kelurahan Sukajaya Palembang,” ungkap Ginting saat gelar kasus di Mapolresta Palembang, Selasa (4/2).

Dikatakan, pihaknya menyita barang bukti berupa beberapa surat tanah asli tapi palsu yang dibuat di atas segel tahun 1956, 1958, 1960 hingga 1983 sebanyak 30 lembar surat tanah diduga palsu.

Polisi juga mengamankan 37 cap stempel palsu, pena, mesin ketik, CPU serta monitor komputer milik tersangka dari kediamannya sebagai barang bukti.

“Kasus ini masih kita dalami, karena kemungkinan masih ada pelaku lain,” ujarnya.
Sementara tersangka Nursahid saat diwawancarai tampak emosi. Dengan nada tinggi ia menyebut surat dibuatnya bukan sertifikat, tetapi hanya SPH.

“Tiap satu SPH kami diberi upah Rp 900 ribu. Saya dapat Rp 200 ribu dan Sakirin sisanya,” ungkapnya.

Mantan Ketua RT ini menyebut, dirinya bertugas mencarikan konsumen yang ingin minta dibuatkan surat tanah palsu. Setelah mengcross check sejarah tanah tersebut ke berbagai pihak dan mengecek batas-batas tanah yang bakal dicaplok, tersangka Nursahid menelusuri contoh surat tanah lama di kelurahan hingga tingkat kecamatan.

“Dari contoh surat inilah dibuatkan surat tanah palsu, menyerupai surat tanah asli,” tukasnya.sumber.merdeka.com

 

 

Check Also

Peran Apoteker penting bagi masyarakat didalam Pelayanan

Pangkalpinang, sidaknews.com – Banyak Apotek yang ada hampir merata di Bangka Belitung sangat kurang memperhatikan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *