Home » Berita Foto » Tempat Hiburan Malam Sering Kena Kasus,PHRI Karawang Terkesan Cuek

Tempat Hiburan Malam Sering Kena Kasus,PHRI Karawang Terkesan Cuek

Ilustrasi.
Ilustrasi.

KARAWANG,Sidaknews.com – Persatuan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) Karawang yang dikomandoi oleh H.Diding mantan pengusaha restoran Soto Gempol dikecam oleh pengamat pariwisata, Adher Nafith Lubis.

Menurutnya PHRI tidak mampu melindungi dan menjaga para anggota, khususnya pengusaha karaoke yang saat ini tengah mendapat sorotan tajam terkait masalah terjadi di beberapa tempat hiburan tersebut.

Seperti diketahui sebelumnya, sudah ada beberapa nama tempat karaoke yang tersandung masalah. Mulai dari penjualan miras yang mengandung alkohol diatas 5%, berkedok karaoke keluarga namun menyediakan Pemandu Lagu (PL), dugaan tidak membayar pajak PPN 10%, hingga adanya praktek mesum dan penggunaan narkoba didalam ruangan karaoke oleh pengunjung.

Menurut Adher, seharusnya PHRI yang menaungi para pengusaha tersebut bisa mengambil sikap tegas apabila anggotanya melakukan kesalahan. Kalaupun tidak ada tindakan tegas, setidaknya ada pendekatan yang dilakukan H. Diding selaku ketua PHRI untuk membina para anggotanya.

“PHRI itu kan organisasi yang menaungi para pengusaha tempat hiburan itu, bukan hanya restoran dan hotel saja, setahu saya tempat karaoke pun termasuk. Nah lucunya, PHRI seperti lepas tangan terhadap anggota yang melakukan pelanggaran dan tersandung kasus.

Bila anggota melakukan kesalahan, apakah tidak ada sanksi atau tindakan lain? Bila anggota sedang terlilit masalah, apakah mereka tinggal diam saja? Jadi saya mempertanyakan, apa funsi PHRI? Benefitnya untuk para anggota itu apa? Sia-sia saja mereka membayr iuran keanggotaan secara rutin,” jelasnya.

Ditambahkannya, sekarang saja ada wacana tempat hiburan malam akan dibatasi sampai jam 12 malam. Itu semua diduga timbul akibat sering terjadinya permasalahan yang terjadi di tempat tersebut. Seandainya ada langkah-langkah yang tepat dilakukan PHRI terhadap anggotanya, mungkin akan lebih bagus.

“Semisal kejadian di Karaoke Keluarga Mr. Locus, yang terbukti menjual miras dan menyediakan PL padahal tidak mempunyai ijin sebagai karaoke keluarga untuk melakukan itu.

Lalu PHRI turun tangan menegur dan memberikan sanksi, mungkin efeknya tidak terlalu besar seperti sekarang ini. Bagaimana anggotanya bisa menjaga sikap ataup patuh, bila PHRI-nya saja cuek dan ga mau tau? ” tandasnya.

Terakhir Adher mengatakan, lebih baik PHRI dibubarkan saja atau ganti kepengurusan. Dia menilai organisasi tersebut tidak ada kinerja yang diperlihatkan, anggota punya masalah terkesan dibiarkan. “ Ya bubarin aja sekalian, toh ga keliatan ada gunanya.

Kalau gak mau dibubari, ganti kepengurusan biar lebih berkembang lagi. Saya denger kan Purwakarta aja studi banding ke PHRI Karawang, terus mereka mau belajar apa dari PHRI Karawang kalau di kita saja ga bener? Kasian para pengusaha, Cuma bayar iuran tanpa mendapatkan benefit yang jelas dari keanggotaannya tersebut,” pungkasnya tegas.(karla)

Check Also

Kepala Kantor Imigrasi kelas II Tanjunguban Suhendra, melalui Kasi Informasi dan Sarana Komunikasi, Oddy Permana, saat menunjukkan dukumen  pekerja asing.

Imigrasi Tangkap 41 Pekerja Asing di Club Med Lagoi

Tanjungpinang, sidaknews.com -Sebanyak 41 Tenaga Kerja Asing (TKA) yang bekerja di Club Med di Kawasan Wisata Lagoi, …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>