Selasa , 28 Maret 2017
Home » Berita Foto » Terdakwa Baharuddin Disidangkan Pada Pelanggaran Pidana Pemilu

Terdakwa Baharuddin Disidangkan Pada Pelanggaran Pidana Pemilu

Baharuddin
Baharuddin Ketua Devisi Hukum Panwaslu Tanjungpinang.

Tanjungpinang,Sidaknews.com – Terdakwa Baharuddin Ketua Devisi Hukum Panwaslu Tanjungpinang pada sidang pelanggaran pidana Pemilu yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang (14/5) semakin terang benderang siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Selain terdakwa mengakui perbuatannya mengendapkan berkas perkara laporan Reni dengan resiko hanya akan di pecat dari anggota Panwaslu kota Tanjungpinang, dalam persidangan juga terungkap siapa orang yang harus bertangungjawab atas manipulasi data perolehan suara Reni di Kelurahan Tanjung Ayun Sakti.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim R. Aji Suryo SH, Fatul Muzib SH dan Bambang Trikoro, diawali dengan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wenharnold SH, dibantu Sugeng SH dari Kajati Kepri, serta Rabuli Sanjaya dan Ekhard Phalevia SH dari Kejaksaan Negeri Tanjungpinang, Rabu (14/05) kemaren.

Pada sidang perdana terdakwa, JPU langsung menghadirkan 12 orang saksi masing-masing dari Panwaslu, Panwascam, Bawaslu, penyidik Polres Tanjungpinang, sopir terdakwa, anggota KPPS Tanjung Ayun Sakti M Sukron yang seharusnya menjadi tersangka, dua orang karyawan hotel Hermers di Bintan dan Reni selaku pelapor.

Dalam dakwaa JPU, terlebih dahulu menceritakan kronologis dugaan pidana Pemilu yang ditangani Baharuddin selaku Divisi Hukum dan Pelaporan Pidana Pemilu, hingga terdakwa kabur dan membawa berkas perkara pidana Pemilu yang dilaporkan caleg Partai Hanura Reni, hingga sampai masa waktu laporan kadaluwarsa dan tidak dapat diproses.

Terdakwa didakwa melanggar pasal 320 UU nomor 8 tahun 2012 tentang Pemilihan DPR-RI, DPD, DPRD atas pengendapan dan tidak meneruskan laporan dugaan pidana Pemilu yang dilakukan penyelenggara PPS Tanjung Ayun Sakti ke Penyidik Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu).

Reni, Caleg Hanura
Reni, Caleg Hanura

Dalam persidangan, terungkap fakta-fakta baru dalam pelanggaran pemilu yang dilakukan terdakwa. Dihadapan majelis hakim, terdakwa mengakui tidak melaporkan dugaan tindak pidana pemilu yang sudah diprosesnya ke polisi karena adanya intimidasi dan teror, serta adanya permintaan tolong dari salah seorang terlapor.

Dalam hal ini anggota PPS Tanjungayun Sakti, M Sukron. Selain itu, ia juga mengakui sudah merencanakan tidak melimpahkan berkas perkara laporan Reni dengan resiko hanya akan dipecat dari anggota Panwaslu.

Pada saat ditanya majelis hakim apakah terdakwa mendapatkan imbalan dari seseorang dalam membawa kabur berkas laporan Reni,dengan tegas terdakwa mengatakan tidak ada mendapatkan apa-apa. Namun dalam Berita Acara Penyidikan (BAP) yang diajukan JPU kehadapan majelis hakim.

Terdakwa tidak hanya bersama anak dan istrinya saat ditemukan disalah satu hotel di Bintan.Ternyata terdakwa ditemukan bersama Agus Irpan yang berstatus sebagai staf Devisi hukum di Pemprov Kepri.Selain itu, kamar hotel yang sewa terdawa tercatat atas nama Abdul Muis.

Terungkap dalam persidangan, ternyata terdakwa menyewa dua kamar hotel. Kamar hotel yang ditempati terdakwa bersama anak dan istrinya yakni kamar 2422 seharga Rp 1,2 juta, kamar yang sama atas nama Abdul Muis yakni kamar 306 seharga Rp 400 ribu. Bahkan pada saat terdakwa datang ke hotel tersebut, ternyata terdakwa didampingi oleh sejumlah orang dengan menggunakan mobil Nisan Juke dan mobil toyota Avanza.

Dalam kasus pelanggaran pemilu yang dilakukan terdakwa (Baharuddin-red), M Sukron yang seharusnya menjadi terdakwa menjadi saksi kunci dipersidangan.Dalam fakta persidangan, M Sukron secara gamblang menceritakan manipulasi perolehan suara Reni dari partai Hanura yang dipindahkan kepada caleg nomor urut 1 atas nama M Rona Andaka Setiawan.

“Saksi mengatakan, ia diminta Rona memindahkan perolehan suara Reni di Kelurahan Tanjung Ayun Sakti ke caleg nomor urut 1.Pemindahan suara Reni tersebut, cerita Sukron, dilakukannya karena Rona mengatakan pemindahan tersebut sudah persetujuan Partainya”.

“Benar saya yang memindahkan perolehan suara Reni ke Rona, perubahan perolehan suara itu saya lakukan di form D1.Pemindahan itu saya lakukan karena ada permintaan dari Rona, katanya pemindahan suara Reni itu sudah persetujuan Partai nya. Kata Rona, dia ketua partai nya. Makanya saya percaya.Katanya lagi, seluruh perolehan suara caleg partai Hanura dilarikan ke caleg nomor urut 1.

Saya percaya saja, karena saya punya hubungan dekat secara emosional dengan Rona. Tapi pak hakim, saya tidak ada menerima apa-apa.Bahkan saya tidak juga dijanjikan lulus PNS oleh Rona,”ungkap M Sukron keceplosan menjawab pertanyaan majelis hakim.

Setelah mendengarkan semua keterangan saksi, majelis hakim mempertanyakan keberadaan Rona tidak dijadikan saksi oleh JPU. Bahkan JPU juga meminta JPU untuk bisa menghadirkan Rona sebagai saksi.”Dari BAP yang JPU limpahkan ke PN, kenapa Rona tidak dijadikan saksi? Seharunya Rona menjadi saksi kunci dalam permasalahan ini.

Dalam kasus ini, seharusnya saksi (Sukron-red) yang menjadi terdakwa. Tapi dalam prosesnya, terdakwa Baharuddin ini membuat kesalahan sendiri. Baharuddin ini tidak saja membuat dirinya sengsara, tapi juga membuat anak dan istrinya susah. Terdakwa jangan beranggapan hukuman yang terdakwa terima buka saja pemecatan saja, sesuai pelanggaran pasal yang terdakwa lakukan ini ancamannya 2 tahun penjara,”ungkap Aji selaku ketua majelis hakim.

Untuk sidang selanjutnya dengan agenda tuntutan JPU terhadap terdakwa, majelis hakim menunda persidangan, Senin depan (19/05)  Terdakwa diwajibkan datang mengikuti persidangan selanjutnya.(Red)

Check Also

Kammi Medan ISI milad ke19 dengan galang Dana sidempuan.

Sambut Milad ke-19, KAMMI Medan Gelar Galang Dana Sidempuan

Medan, sidaknews.com – tepat 28 maret Kesatuan aksi Mahasiswa Islam Indonesia (KAMMI) merayakan hari lahirnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>