Senin , 29 Mei 2017
Home » Berita Foto » Tifatul nilai investasi telekomunikasi Indonesia di ujung tanduk

Tifatul nilai investasi telekomunikasi Indonesia di ujung tanduk

tifatul-nilai-investasi-telekomunikasi-indonesia-di-ujung-tandukAsosiasi perangkat seluler global atau Global System for Mobile Communications Association (GSMA) telah melayangkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Surat tersebut sebagai bentuk kekhawatiran investor asing sektor telekomunikasi yang ingin menjalankan usahanya di Indonesia.

“Saya ingin kasus indosat ini jelas, tidak ada yang ditutup tutupi, karena menyangkut nasib investor dan kredibilitas pemerintah,” ujar Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Tifatul Sembiring dalam keterangan tertulisnya yang diterima merdeka.com di Jakarta, Rabu (14/8).

Tifatul menegaskan, surat tersebut menyangkut keluhan kepastian hukum berinvestasi. Oleh karena itu, pihak Kemenkominfo harus berkoordinasi dengan seluruh instansi terkait yang terlibat dalam pemeriksaan kasus Indosat-IM2.

Tifatul menegaskan pihak Indosat-IM2 merasa saat ini masih menggantung nasibnya akibat munculnya regulasi yang tidak jelas. Namun, lanjut dia, surat dari GSMA ini bukan tanggung jawab Kemenkominfo semata tetapi juga melibatkan pihak yudikatif.

“Saya perlu waktu membahasnya dengan institusi terkait, yakni Kejaksaan Agung atau Mahkamah Agung. Kalau yang ditanyakan itu, soal kepastian hukum, saya kan harus koordinasi dengan instansi yang bersangkutan,” tegas dia.

Sekedar informasi, GSMA pada akhir Juli lalu bersurat kepada Presiden SBY, Wakil Presiden Boediono, dan Menkominfo Tifatul Sembiring. GSMA menyatakan keprihatinan atas putusan bersalah oleh hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) terhadap PT Indosat dan PT IM2.

Surat ini disampaikan secara terbuka kepada publik melalui website resmi GSMA. Asosiasi tersebut meminta SBY melakukan intervensi dalam bentuk dialog konstruktif antara pihak penegak hukum di pengadilan dengan pelaku industri telekomunikasi.

Pasalnya, setelah putusan bersalah IM2, ada kebingungan para pengusaha di sektor telekomunikasi seluler dan ratusan penyelenggara jasa internet yang punya model bisnis sama dengan Indosat dan IM2. Kebingungan itu akan mempengaruhi investor untuk memberikan layanan internet di Indonesia.

“Akan menghalangi dan menunda pemodal untuk memberikan layanan internet yang cepat, handal, dan terjangkau. Ini beresiko terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, harus ada pedoman yang jelas tentang regulasi telekomunikasi di Indonesia untuk menghindari situasi tersebut,” kata Direktur Jenderal GSMA Anne Bouverot.

GSMA sendiri punya kewenangan menetapkan standarisasi seluler GSM di seluruh dunia. Asosiasi ini menaungi 219 negara dari 800 operator seluler dan 200 perusahaan bidang perangkat keras dan lunak telepon genggam. GSMA bermarkas di kota London, Atlanta, Hongkong, Shanghai, Barcelona, dan Brussel.(merdeka)

Check Also

Suasana Ramadhan di Kota Peureulak Spontan Berubah, Pedagang Musiman Penuh Disepanjang Jalan

Aceh Timur, sidaknews.com – Kebiasaannya setiap tahun penjualan jajanan atau bukaan puasa penuh di jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *