Rabu , 24 Mei 2017
Home » Berita Foto » Undur dan harga diri Abimanyu

Undur dan harga diri Abimanyu

undur-dan-harga-diri-abimanyu2Sidaknews.com – Dua kali sudah keputusan mengundurkan diri Anggito Abimanyu menghebohkan publik. Pertama adalah saat Anggito mundur sebagai Kepala Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan pada Mei 2010 silam, dan kedua ketika dia melepaskan status sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), kemarin.

 

Mundurnya Anggito dari Kepala Kebijakan Fiskal tak lain karena Presiden Susilo Bambang Yudhoyono lebih memilih Anny sebagai Wamenkeu ketimbang Anggito, yang pernah dijanjikan jabatan yang sama. Ketika itu Anggito mengaku harga dirinya terusik oleh keputusan tersebut.

 

“Saya tidak mencari jabatan, ini soal pertaruhan harga diri profesional saya yang terusik dan saya tidak bermaksud untuk mendapatkan jabatan lain,” ujar Abimayu 21 Mei 2010 silam.

 

Anggito sedianya akan dilantik sebagai Wamenkeu pada 6 Januari 2010. Namun, karena alasan belum memenuhi syarat, pelantikannya bersama Fahmi Idris, yang akan dilantik sebagai wakil menteri kesehatan, terpaksa batal.

 

Pembatalan itu pun konon sangat mendadak. Istana baru mengabarkan Anggito dan Fahmi soal pembatalan pada pagi harinya sebelum dilantik.

 

Saat itu, Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, mengungkapkan alasan penundaan pelantikan Anggito dan Fahmi karena keduanya belum memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Kementerian Negara dan?Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Organisasi Kementerian Negara. Isinya, bahwa untuk menjadi wakil menteri seseorang haruslah pernah menjabat eselon I-A.

 

Berjalannya waktu Anggito pun mengurus kenaikan pangkatnya dari eselon IB menjadi IA. Syarat kepangkatan itu pun akhirnya ia raih. Tidak hanya itu, pria yang pandai bermain flute itu pun sudah menandatangani pakta integritas dan kontrak kinerja soal penunjukannya sebagai Wamenkeu.

 

Namun sayang, setelah Anggito menyiapkan semua persyaratan, jabatan wamenkeu yang sudah di depan mata itu pun harus terbang ke pundak Anny Rahmawati. Meski demikian, Anggito mengaku tidak mempermasalahkan penunjukan Anny karena itu adalah hak prerogatif presiden.

 

Ia hanya ingin mengikuti hati nuraninya untuk mundur sebagai pejabat negara dan kembali ke kampus yang membesarkannya, UGM.

 

“Saya enggak mempertanyakan (penunjukan Anny), saya ikuti hati nurani saja, dan saya harapkan bisa menjadi proses pembelajaran bahwa seseorang yang punya integritas, apa yang sudah dianggap mampu dan ditetapkan itu punya harga diri, dan harga diri itu yang saya pertaruhkan di sini,” kata Anggito.

 

Kembali ke kampus UGM dan mengajar kurang lebih dua tahun, Anggito kemudian ditawari jabatan Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umroh Kementerian Agama. Dia pun menyanggupinya.

 

Menjadi orang pertama yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan haji, Anggito pernah beberapa kali ke KPK untuk diperiksa terkait penyelidikan pengelolaan dana ibadah tahunan ke tahan suci itu. Semua kesibukan itu dia jalani tanpa melepas statusnya sebagai dosen UGM.

 

Baru kemarin status pengajar di universitas tertua itu dilepas Anggito. Pria 50 tahun itu terpaksa mundur sebagai dosen karena tersandung kasus plagiarisme. Tulisannya ‘Gagasan Asuransi Bencana’ di kolom Opini Kompas pada 10 Januari 2014 hampir sama persis dengan tulisan Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasa di koran yang sama pada 2006.

 

“Demi mempertahankan kredibilitas UGM sebagai universitas dengan komitmen pada nilai-nilai kejujuran, integritas dan tanggung jawab akademik, saya, Anggito Abimanyu , telah menyampaikan permohonan pengunduran diri sebagai dosen UGM kepada Rektor UGM,” kata Anggito dalam pernyataan persnya di Kampus UGM, kemarin.

 

Anggito tidak secara langsung mengakui berbuat plagiat. Namun, dia mengatakan, “Telah terjadi kesalahan pengutipan referensi dalam sebuah folder di komputer pribadi yang belakangan diketahui merupakan kertas kerja yang ditulis oleh Hotbonar Sinaga dan Munawar Kasan.”

 

Berbeda dengan pengunduran diri yang pertama, dalam kasus yang kedua Anggito tak menyinggung soal harga diri. Dia hanya menyatakan menyesal dan meminta maaf peristiwa itu.

 

Dalam cerita pewayangan, Abimanyu memang dikenal dengan sikap kepahlawanan, berani dan keras mempertahankan harga diri, namun halus dalam tutur dan tingkah lakunya. Karena sikapnya yang kesatria itu, putra Arjuna tersebut mati dalam perang Bharatayuddha pada usia yang sangat muda, 16 tahun.

 

Dia mati tertancap banyak anak panah setelah maju sendirian melawan pasukan Kurawa. Konon tragedi itu merupakan risiko pengucapan sumpah ketika melamar Dewi Utari. Saat mengucapkan janji setia kepada Utari, Abimanyu mengaku belum punya istri, dan apabila telah beristri maka dia siap mati tertusuk berbagai senjata ketika perang Bharatayuddha. Padahal, Abimanyu berbohong, karena ketika itu sudah beristrikan Dewi Siti Sundari.(merdeka.com)

 

 

 

 

Check Also

A.Aziz Dilantik Sebagai Sekda Aceh Utara Difinitif

Lhoksukon, sidaknews.com – Di Aula kantor Bupati Aceh Utara di Lhokseumawe, Selasa (23/05/2017) sore dipenuhi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *