Jumat , 26 Mei 2017
Home » Berita Foto » Wanita 66 Tahun Jadi Terdakwa Pemalsuan Surat Tanah

Wanita 66 Tahun Jadi Terdakwa Pemalsuan Surat Tanah

nenek
Sejumlah saksi memberikan keterangan  untuk terdakwa Kuang Hong (66) dalam persidangan di PN Tanjungpinang, Rabu (22/1). Foto: Rindu Sianipar 

Tanjungpinang, sidaknews.com – Miris sekaligus prihatin, mungkin kata yang tepat sebagai ungkapan perasaan ditujukan buat nasib Kuang Hong (66), seorang wanita tua yang tersandung kasus hukum.

Dalam dakwaan jaksa Zaldi Akri SH, Kuang Hong didakwa melakukan tindak pidana pemalsuan surat tanah seluas 2709 meter persegi yang berlokasi di sekitar Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjungpinang Kota Tanjungpinang. Wanita ini didakwa melanggar ketentuan pasal 262 jo pasal 263 KUHP tentang tindak pidana pemalsuan surat dan dokumen.

Di usianya yang sudah lanjut, ia terpaksa harus duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang sebagai terdakwa karena tersandung kasus tindak pidana pemalsuan surat tanah.

“Terdakwanya sudah tua ya, kasihan lihatnya!,” bisik salah satu pengunjung yang enggan disebut namanya ini, Kamis (22/1) di sela-sela persidangan kasus tersebut berlangsung.

Selain sudah berusia lanjut, wanita ini juga diketahui tidak bisa membaca dan menulis alias buta aksara.”Terdakwa ini tidak bisa baca,” ujar Dame Parulian Pandiangan, majelis hakim yang memimpin jalannya persidangan.

Proses jalannya persidangan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi ini berjalan cukup alot, apalagi jawaban terdakwa sering melenceng terutama ketika hakim meminta pendapatnya terkait keterangan para saksi.

“Bagaimana keterangan saksi ini?, ada yang keberatan?,” ujar hakim bertanya pada terdakwa. Mendapat pertanyaan seperti itu, bukan tanggapannya yang diutarakan, malah terdakwa menjawab dengan hal lain.

Melihat sikap terdakwa, beberapa kali majelis harus mengulang dan menegaskan pertanyaannya, sekaligus memberi pengertian pada terdakwa. Bukan hanya hakim, kuasa hukum terdakwa, Sri Ernawati SH juga mencoba memberi pengertian pada terdakwa.

Adapun, saksi yang dihadirkan dalam sidang ini yakni, suami terdakwa, Antonius Bale yang merupakan anak terdakwa, Adnan Ketua RT daerah setempat dan Ibrahim.

Selain keempat saksi, dalam sidang juga menghadirkan saksi korban, Jon Kerry yang mengklaim sebagai pemilik tanah yang sah.

“Saya yang melaporkan kasus ini ke polisi. Laporannya semula penyerobotan tanah,” kata Jon Kerry yang mengaku jika tanah yang dipermasalahkan tersebut adalah tanah milik orang tuanya.

Semula, kata saksi, ia tidak mengetahui adanya indikasi surat palsu atas tanah miliknya tersebut sebagaimana yang didakwakan pada terdakwa. Hal ini diketahuinya setelah polisi melakukan penyelidikan.

“Saya tahunya setelah di kantor polisi, jika ada surat yang lain. Kita memiliki surat yang sah atas kepemilikan lahan tersebut,” kata Jon. Usai mendengarkan seluruh keterangan saksi, majelis hakim menutup persidangan dan akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi lainnya. (Rindu Sianipar)

 

Check Also

MUI Tegaskan, Larang Warga “Asmara Subuh”

Padangsidimpuan, sidaknews.com – Dalam menjalan ibadah puasa masyarakat di Kota Padangsidimpuan, khususnya kalangan remaja yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *