Minggu , 26 Maret 2017
Home » Daerah » Aceh » Warga Aceh tuntut Belanda cabut maklumat perang dan minta maaf

Warga Aceh tuntut Belanda cabut maklumat perang dan minta maaf

Demo tuntut Belanda di Aceh. ©2015 (Foto: merdeka.com)
Demo tuntut Belanda di Aceh. ©2015 (Foto: merdeka.com)

Banda Aceh – Belasan masyarakat sipil peduli dengan sejarah Aceh tergabung dalam Koalisi Bersama Rakyat Aceh (KBRA) menggelar aksi di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Kamis (26/3). Kegiatan ini dilakukan buat memperingati 142 tahun perang antara Kesultanan Aceh dengan Kerajaan Belanda.

Selain berorasi, peserta aksi juga membawa sejumlah poster dan spanduk serta bendera Alam Pedang, yakni bendera Kesultanan Aceh. Sambil menyanyikan lagu hikayat Prang Sabi (syair penyemangat rakyat Aceh saat berperang), mereka juga membacakan puisi. Pesan puisi ini buat menghentikan kekerasan di tanah rencong dan tidak lupa dengan sejarah Aceh. Mereka juga membacakan sumpah perang Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh seorang peserta aksi.

Koordinator KBRA, Haekal Afifa mengatakan, rakyat Aceh tidak boleh lupa dengan sejarah penyerbuan militer Kerajaan Belanda 142 tahun lalu, tepatnya pada 26 Maret 1873. Pada saat itu, lanjut dia, Pemerintah Belanda mengeluarkan maklumat perang resmi dengan Kesultanan Aceh.

“Sampai saat ini Belanda belum mencabut maklumat ini, jadi kami meminta kepada Pemerintah Belanda untuk segera mencabut maklumat itu,” kata Haekal Afifa di Banda Aceh, Kamis (26/3).

Selain itu, Haekal meminta kepada Pemerintah Belanda meminta maaf atas peristiwa penyerbuan terhadap Kesultanan Aceh. Menurut dia, permintaan maaf itu bisa diwakilkan oleh Duta Besar Belanda di Indonesia memberikan pernyataan resmi kepada seluruh rakyat Aceh dan bangsa Indonesia.

“Belanda belum pernah minta maaf. Jadi pihak Belanda harus minta maaf pada rakyat Aceh melalui media nasional dan internasional,” ujar Haekal.

Haekal juga meminta kepada Pemerintah Aceh supaya memasukkan sejarah perang Aceh ke dalam kurikulum sekolah. Baik sejak tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

“Karena selama ini ada banyak sejarah Aceh yang tidak sesuai diajarkan di sekolah-sekolah. Dan untuk mengenang perang Aceh dulu, Pemerintah Aceh sebaiknya mendirikan satu tugu untuk mengenangnya seperti tugu mengenang tsunami,” ucap Haekal.
(Sumber:merdeka.com)

Check Also

Presiden RI, Ir. Joko Widodo saat memberikan pidato dalam penutupan Silatnas di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru, sabtu (25/3).

Presiden Tutup Silatnas di Pesantren Musthafawiyah Purba Baru

Mandailing Natal, sidaknews.com – Usai melakukan peresmian pembangunan asrama haji Mandailing Natal (Madina). Presiden RI, Ir …

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>