Minggu , 19 November 2017
Home » Berita Foto » Bahaya Penggunaan Pewarna Tekstil pada Makanan

Bahaya Penggunaan Pewarna Tekstil pada Makanan

Oleh: Evlyn Laurenthia Program studi: Nutrion And Food Technology, Faculty Of Life Science, Surya University

Gambar 1. Makanan yang Positif Mengandung Rhodamin B.

-Salah satu aspek terpenting bagi suatu produk makanan adalah warna. Warna adalah faktor visual yang pertama kali dilihat oleh konsumen ketika membeli suatu produk makanan. Hal tersebut membuat banyak penjual makanan berlomba-lomba untuk menciptakan produk makanan dengan warna yang menarik. Warna yang menarik dapat dibuat dengan menambahkan zat warna ke dalam makanan.

Menarik belum tentu lebih baik. Nyatanya, ada sebagian pedagang yang nakal dan menggunakan pewarna tekstil pada produknya. Kenapa? Harga pewarna tekstil yang jauh lebih murah daripada pewarna makanan membuat mereka dapat meraup untung yang lebih banyak. Pewarna tekstil merupakan pewarna sintesis sehingga mampu memberikan warna yang lebih cerah dan tahan lama dibandingkan dengan pewarna alami. Makanan dengan warna cerah dan berwarna-warni cenderung akan lebih menarik mata masyarakat, terutama anak-anak.

Pewarna tekstil biasanya digunakan untuk industri dalam pewarnaan kain, kertas, tinta, plastik, kulit, sabun, maupun cat. Zat kimia terlarang yang sering disalahgunakan untuk mewarnai makanan adalah Rhodamin B dan Methanil Yellow. Menurut Peraturan Kepala BPOM RI No. 37 tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna, Rhodamin B dan Methanil Yellow merupakan pewarna tekstil yang dilarang untuk ditambahkan ke makanan bahkan dalam kadar yang kecil sekalipun. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 239/Men Kes/Per/V/85 juga menyatakan bahwa Rhodamin B dan Methanil Yellow termasuk ke dalam zat warna berbahaya.

Rhodamin B adalah pewarna sintetis berbentuk serbuk kristal, tidak berbau, berwarna merah keunguan pada konsentrasi tinggi dan berwarna merah terang pada konsetrasi rendah. Nama lain dari Rhodamin B adalah Tetra ethyl rhodamin, Rheonine B, D & C Red No. 19, C.I. Basic Violet 10, C.I. No 45179, Food Red 15, ADC Rhodamine B, Aizan Rhodamone dan Briliant Pink B. Rhodamin B biasanya digunakan oleh industri sebagai pewarna kain, produk pembersih mulut, dan sabun. Kerupuk, terasi, cabe merah giling, aromanis, manisan, sosis, permen, kue, atau sirup seringkali ditambahkan Rhodamin B oleh pedagang supaya memiliki warna merah yang cerah dan menarik.

Gambar 1. Makanan yang Positif Mengandung Rhodamin B

Methanil Yellow merupakan pewarna sintetis berbentuk bubuk, berwarna kuning kecoklatan, dan larut dalam air. Nama lain atau nama dagang methanil yellow meliputi sodium phenylaminobenzene, Metaniline Yellow, Cl Acid Yellow 36, dan Cl No. 13065. Pewarna ini umumnya digunakan oleh industri tekstil untuk mewarnai kain, kertas, tinta, plastik, kulit, lilin, dan cat untuk memberikan warna kuning yang cerah. Pada praktiknya, Methanil Yellow sering disalahgunakan untuk mewarnai pangan yang berwarna kuning seperti kerupuk, mi, tahu, manisan mangga dan gorengan.

Gambar 2. Tahu yang ditambahkan Metanil Yellow

Gambar 2. Tahu yang ditambahkan Metanil Yellow

Bahaya yang ditimbulkan Kedua pewarna tekstil tersebut memang lazim digunakan sebagai pewarna non pangan. Tapi, apa jadinya bila pewarna berbahaya tersebut dipakai sembarangan untuk mewarnai bahan pangan? Penggunaan pewarna tekstil dalam produk makanan sangat membahayakan kesehatan tubuh. Pewarna tekstil yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernafasan.

Iritasi pada kulit dan mata dapat terjadi jika pewarna tersebut mengenai kulit dan mata kita. Jika tertelan, ada kemungkinan terjadinya iritasi pada saluran pencernaanmual, muntah, sakit perut, diare, dan demam. Adapun risiko yang mungkin dialami jika konsumsi dilakukan dalam jangka panjang adalah gangguan fungsi hati, kandung kemih, bahkan kanker.

Ciri-ciri produk makanan dengan pewarna tekstil Rhodamin B dan Methanil Yellow

1.Memiliki warna merah, ungu, kuning, atau jingga yang cerah, lebih mencolok, dan mengkilap.
2.Ada titik-titik warna karena pewarna tidak mencampur secara merata
3.Rasanya sedikit lebih pahit
4.Terasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya
5.Produk pangan yang mengandung pewarna tekstil biasanya tidak tercantum merek, komposisi, atau label pada kemasannya.

Pencegahan

Banyaknya kasus penggunaan pewarna tekstil pada makanan semakin membuat resah masyarakat. Sehingga, peran BPOM sangatlah penting dalam mencegah dan mengurangi beredarnya makanan bepewarna tekstil. BPOM sebaiknya lebih peka dan cermat dalam mengawasi produk-produk makanan dengan warna mencolok, terutama yang dijual oleh pedagang kaki lima. Pemberian penyuluhan kepada para pedagang mengenai bahaya dari penggunaan pewarna tekstil maupun zat-zat berbahaya lainnya mungkin dapat membantu mereka paham dan sadar akan bahaya tersebut. Tidak dapat dipungkiri, banyak pedagang yag memang tidak tahu bahan-bahan apa yang diperbolehkan untuk ditambahkan ke dalam makanan.

Meskipun ada BPOM yang bertugas untuk mengontrol penggunaan pewarna berbahaya tersebut, kita sebagai konsumen yang cerdas sudah seharusnya tetap waspada dan jeli dalam membeli produk pangan yang diedarkan di pasaran. Untuk masyarakat agar dapat menghindari konsumsi pangan yang mengandung pewarna tekstil adalah:

1.Mengenali dan menghindari makanan yang mengandung pewarna tekstil. Ciri pertama yang dapat diamati adalah makanan atau minuman memiliki warna yang cerah, mengkilat, dan mencolok. Sebisa mungkin tahan untuk tidak membeli jajanan dengan warna terlalu mencolok, terutama yang dijajakan di pinggir jalan. Selain mengandung pewarna tekstil, jajanan tersebut pun sudah terkena polusi dari asap kendaraan.

2.Lebih selektif dan cermat dalam memilih makanan. Jangan mudah tergiur dengan produk pangan yang memiliki warna menarik tetapi mencolok.

3.Sebelum membeli, perhatikan dengan seksama dan baca label kemasan produk pangan tersebut. Produk pangan yang sudah aman dan memiliki izin edar, biasanya tertera nomor PIRT dari Dinas Kesehatan maupun nomor MD/ML dari BPOM.

4.Perhatikan komposisinya. Pewarna yang diizinkan dan boleh ditambahkan ke pangan memiliki nama jenis pewarna dan nomor indeks khusus (Nomor INS) yang dicantumkan di dalam komposisi. Apalagi jika produk pangan tidak mencantumkan komposisi bahan-bahan yang digunakan, sebaiknya jangan dibeli.

5.Seperti pesan bang napi, “Waspadalah! Waspadalah!”

 

Check Also

Buka MTQ XXXIII di Idi, Gubernur Puji Kinerja Bupati Aceh Timur

IDI, sidaknews.com – Gubernur Aceh, drh. H. Irwandi Yusuf, M.Sc, memuji kinerja dan kerja keras …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *