Sabtu , 25 Mei 2019
Home » Berita Foto » Bupati Soekirman Terima Cinderamata Pada Bedah Novel “Penari Dari Serdang” 

Bupati Soekirman Terima Cinderamata Pada Bedah Novel “Penari Dari Serdang” 

Penulis Yudhistira ANM Massardi memberikan cenderamata berupa sebuah buku kepada Bupati Sergai Ir H Soekirman, usai acara bedah novel ” Penari Dari Serdang” di Aula Sultan Serdang Komplek Kantor Bupati di Sei Rampah, Sabtu (16/3).

Sergai,  sidaknews.com – Jika saya berkunjung ke sebuah daerah, beragam tempat yang saya lihat dan datangi. Namun satu hal yang tidak akan saya lewatkan yaitu sebuah tempat yang banyak sekali dijumpai buku-buku. Harapan saya ada buku baru yang menarik untuk dibaca dan dinikmati.

Hal ini diungkapkan Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Ir H Soekirman pada kegiatan Bedah Novel “Penari Dari Serdang” Serampangan Cinta di Negeri Melayu Karya Yudhistira ANM Massardi yang berlangsung di aula Sultan Serdang Komplek Kantor Bupati di Sei Rampah, Sabtu (16/3).

Turut hadir pada kegiatan tersebut Penulis novel Yudhistira ANM Massardi, Kadis Pendidikan Sergai Drs. Joni Walker Manik, MM, Tokoh Pemuda Sergai Dimas Tri Adji, S.IKom, Sastrawan Juhendri Chaniago serta para guru se Kabupaten Sergai.

Disebutkan Bupati, dengan kebiasaanya membaca, dirinya menemukan Novel “Penari dari Serdang” dan ternyata sayalah orang pertama yang membaca Novel Karya Yudhistira ANM Massardi yang baru terbit itu. Selama ini, kita telah terbius oleh Novel Laskar Pelangi, hal inilah yang membuat  saya sendiri sempat berkunjung ke daerah seperti yang terdapat dalam Novel itu.

Ternyata setelah terkenalnya Novel Laskar pelangi, membuat sebuah daerah dalam cerita tersebut menjadi lebih maju dan berkembang, imbuh Soekirman.

Perkembangan daerah tersebut, lanjut Bupati, disebabkan oleh pengangkatan Novel Laskar Pelangi menjadi sebuah Film layar lebar.

Harapan kita selaku warga Kabupaten Sergai Tanah Bertuah Negeri Beradat serta selalu identik dengan budaya Melayu, setelah ditulisnya budaya Melayu oleh penulis terkenal Yudhistira ANM Massardi, akan membuat Kabupaten Sergai juga terkenal seperti daerah dalam kisah Novel Laskar Pelangi, terang Bupati.

Diakhir sambutannya, Bupati mengatakan bahwa dirinya telah menyelesaikan bacaan novel ini hanya dalam waktu singkat, akibatnya saya terbius dengan cerita dari budaya Melayu, yang telah dilupakan dan kisah cinta anak Melayu yang membuat saya ingin terus mengulangi membacanya.

Berbicara Budaya Melayu, sungguh luar biasa Budaya Melayu itu, terlihat dari bahasa-bahasa yang mendidik dan menyenangkan, seperti halnya pantun pantun yang jika diucapkan membuat kita menjadi gembira, pungkas Bupati Soekirman.

Sementara Kadis Pendidikan Drs Joni Walker Manik, MM dalam sambutannya menyampaikan Expo Inovasi Pendidikan  bahwa jajaran Dinas  Pendidikan Sergai memfokuskan pendidikan pada dua  sisi, yang pertama fokus pada padadidikan karakter  dengan menekankan Green, Clean dan Life (GCL) serta Gerakan Pelajar Peduli Sampah (Gerappah) dan yang ke dua merupakan  gerakan Literasi sekolah.

Dengan Gerakan GCL kami telah sukses membenahi lingkungan sekolah di Kabupaten Sergai menjadi lebih baik dan lebih hijau. Untuk itu Pendidikan Karakter, Gerakan Literasi Sekolah dan GCL dapat berhasil jika semua elemen masyarakat bersama pemerintah bekerja sama membangun pendidikan di Serdang Bedagai, katanya.

Dengan mengaplikasikan program Inovasi Dinas Pendidikan Sergai, kami telah berhasil menyabet berbagai Penghargaan mulai dari tingkat Nasional hingga Dunia, cetus Kadis Pendidikan.

Menanggapi paparan tersebut, Penulis Novel ” Penari dari Serdang ” Yudhistira ANM Massardi  memberikan apresiasinya  kepada  Pemkab  Sergai atas beragam prestasi yang telah diraih  khususnya  Inovasi Pendidikan Sergai.

Sudah sepantasnya para guru mendapatkan penghargaan, karena sesungguhnya merekalah yang menjadi jiwa bangsa Indonesia, sebutnya.

Kabupaten Sergai, lanjut Bupati, merupakan salah satu pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. Hal itu yang membuat saya datang ke Tanah Bertuah Negeri Beradat ini.

Bahasa Melayu menunjukan bahwa nenek moyang kita adalah orang yang cerdas, oleh sebab itu umat Melayu adalah umat yang sudah ditinggikan kecerdasan sejak awal. Telah ditinggalkannya budaya Melayu oleh bangsa ini, yang membuat saya menulis Novel ” Penari dari Serdang”, ungkap Yudistira.

Novel Penari dari Serdang ini adalah novel pertama saya setelah saya berhenti menulis selama puluhan tahun, dengan keinginan yang kuat, saya berhasil menyelesaikan novel ini, katanya.

Pada kesempatan yang sama, Tokoh Pemuda Sergai Dimas Tri Adji, S. IKom juga menyampaikan tanggapannya atas isi novel ” Penari dari Serdang” bahwa dirinya selesai  membaca ini selama dua malam.

Dalam novel ini kita di ajak menebak nebak ini fiksi atau nyata. Novel ini adalah novel milenial karena ditulis menggunakan smartphone. Kita sebagai generasi milenial jika tidak dapat membuat karya sehebat ini maka kita akan malu dengan sang penulis, sebutnya.

Bagi saya membaca novel ini membuka panca Indra kesadaran dan kualitas kita apakah kita sudah peka atau belum dengan keadaan lingkungan dan budaya kita, imbuh Dimas. (RH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *