Selasa , 22 Januari 2019
Home » Berita Foto » Divonis 20 Tahun Penjara Karena Sabu, Dua Terdakwa Terima, Satu Mikir

Divonis 20 Tahun Penjara Karena Sabu, Dua Terdakwa Terima, Satu Mikir

Edy Chandra, terdakwa kasus narkoba saat jalani sidang. Foto: Rindu

Tanjungpinang, sidaknews.com – Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang memvonis tiga terdakwa kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu divonis masing-masing selama 20 tahun penjara.

Ketiga terdakwa tersebut yakni Arip alias A’ak, Edy Chandra, Awaludin alias Pora. Ketiga terdakwa menerima vonis dalam sidang yang dipimpin majelis hakim Monalisa Siagian ini, Kamis (10/1).

Tidak hanya hukuman badan, ketiganya juga dikenakan hukuman membayar denda senilai Rp 1 miliar subsider dua tahun penjara. Vonis tersebut sama dengan tuntutan yang diajukan jaksa sebelumnya.

Ketiga terdakwa dinilai hakim terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 114 ayat 2 jo pasal 132 UU Nomor 35 tahun 1999 tentang Narkotika.

Atas putusan tersebut, dua terdakwa yakni Awaludin dan Edi hanya bisa pasrah dan menyatakan menerima, sementara Arip mengatakan masih pikir-pikir.

Sedangkan jaksa Zaldi Akri dari Kejari Tanjungpinang mengatakan juga menerima untuk dua terdakwa, sedangkan untuk terdakwa Arip, ia mengatakan pikir-pikir.

Terdakwa Awaludin

Sebagaimana dakwaan jaksa, ketiga terdakwa ditangkap petugas dari Bareskrim Polri di sebuah komplek perumahan di Kota Tanjungpinang beberapa waktu lalu.

Kasus berawal saat terdakwa Arip ditelepon Sahrul dan Baron (DPO). Keduanya menyuruh Arip pergi ke Malaysia untuk melihat apakah sabu di Malaysia sudah tersedia (ready) atau belum.

Lalu, terdakwa disuruh Baron untuk mencari orang untuk membawa sabu dari Tanjungpinang ke Lampung.

Keesokan harinya, Arip berangkat ke Malaysia melalui Batam. Tiba di sana, ia ditelepon Sahrul untuk datang ke apartemennya di daerah Johor, Malaysia.

Terdakwa Arip

Sesampainya terdakwa di apartemen Sahrul yang saat itu ada Awaludi. Mereka kemudian membahas masalah pengambilan sabu yang rencananya satu tas yang berisi sabu akan dibawa Awaludin dari Malaysia ke Tanjungpinang dan akan diserahkan ke Arip.

Kemudian, esok harinya, Sahrul memberi kabar bahwa Awaludin akan berangkat menuju Tanjungpinang dengan membawa sabu. Sementara, Arip pulang ke Batam.

Sesampai Arip di Batam, ia kembali ditelepon Baron agar berangkat ke Tanjungpinang karena barang tidak turun di Batam dengan alasan Batam lagi “merah” dan yang aman turun di Tanjungpinang.

Lalu Arip berangkat lagi ke Tanjungpinang. Tiba di sana, ia menginap di salah satu hotel untuk menunggu barang yang rencananya akan dibawa ke Lampung.

Karena orang yang akan membawa barang ke Tanjungpinang tidak datang datang, lalu Arip balik lagi ke Batam. Pada saat perjalanan terdakwa menuju Batam, Awaludin menghubungi terdakwa melalui telepon dan meminta terdakwa untuk datang menemui di sebuah perumahan di Tanjungpinang.

Rupanya, sesampainya disana, Arip dan Awaludin ditangkap oleh petugas polisi dari Bareskrim. Sementara Edy diamankan petugas di lokasi lain, ia bertindak membawa mobil saat proses pengantaran sabu di Tanjungpinang dengan Arip.

Arip diketahui sudah dua kali disuruh Sahrul untuk mengatur orang untuk membawa sabu. Pertama, dari Batam ke Palembang, dan kedua tertangkap. Ia mendapat upah dari pekerjaan ilegal tersebut sebesar Rp 100 juta.

Adapun barang bukti sabu yang diamankan dalam kasus ini yakni sabu seberat 72.441 gram. Sabu disimpan pada satu bungkus amplop warna coklat. (Rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *