Rabu , 26 Juni 2019
Home » Berita Foto » Gelapkan Uang Milik Perusahaan, Awen Dihukum 1,4 Tahun Bui

Gelapkan Uang Milik Perusahaan, Awen Dihukum 1,4 Tahun Bui

Agus Sugianto alias Awen, terdakwa kasus penggelapan saat menjalani sidang di PN Tanjungpinang, Senin (10/6). Foto: Rindu Sianipar

Tanjungpinang, sidaknews.com – Terdakwa Agus Sugianto alias Awen dihukum selama satu tahun dan empat bulan penjara karena terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan uang milik perusahaan tempat terdakwa bekerja.

Vonis tersebut dibacakan majelis hakim yang dipimpin Jhonson Sirait pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Senin (10/6).

Terdakwa sendiri merupakan karyawan PT Starmara Pratama dan PT PAN Baruna sebagai seorang kasir, kedua perusahaan tersebut bergerak dibidang distribusi produk makanan.

“Atas perbuatannya, terdakwa dijatuhi hukuman selama satu tahun dan empat bulan penjara,” terang Jhonson membacakan amar putusannya.

Hakim menilai terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 374 KUHP tentang tindak pidana penggelapan.

Vonis tersebut lebih berat dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan hukuman selama satu tahun penjara. Atas putusan tersebut, terdakwa mengatakan masih pikir-pikir, begitu juga dengan jaksa mengutarakan hal yang sama.

Sebagaimana dalam dakwaan jaksa, kasus ini sendiri terjadi berawal usai terdakwa menerima uang dari hasil penjualan barang berupa produk makanan yang dijualkan oleh salesman kedua perusahaan tersebut. Terdakwa sendiri mempunyai tugas dan tanggung jawab mengatur keluar masuknya uang perusahaan.

Setelah terdakwa menerima uang, kemudian terdakwa menghitung dengan mesin penghitung uang dan setelah uang tersebut dihitung sesuai dengan jumlah setoran, kemudian terdakwa menandatangani realisasi penjualan barang.

Dan pada esok harinya terdakwa membuatkan bukti penerimaan atau kas tanda terima bahwa terdakwa telah menerima uang dari salesman dengan kesesuaian jumlah yang telah dihitung dan dibubuhi tandatangan terdakwa dan tandatangan supervisor perusahaan.

Selanjutnya uang tersebut disimpan terdakwa ke dalam brangkas tempat penyimpanan uang yang berada di dalam ruangan kasir, kemudian dalam setiap satu minggu sekali perusahaan melakukan pengecekan/pemeriksaan keuangan baik secara administrasi maupun secara fisik keuangan dengan tujuan untuk menghindari perselisihan antara fisik uang dengan administrasi keuangan.

Pada hari Sabtu (5/1/2019) dilakukan pemeriksaan keuangan dan administrasi keuangan oleh manajemen, dimana saat itu jumlah uang dan jumlah fisik uang perusahaan tidak terdapat perselisihan atau kekurangan atau masih konsisten.

Setelah selesai dilakukan pemeriksaan, kemudian uang perusahaan tersebut diletakkan kembali ke dalam brangkas penyimpanan uang yang kode dan kunci brangkas tersebut hanya diketahui oleh terdakwa.

Selanjutnya, keesokan harinya petugas keamanan perusahaan melihat terdakwa datang ke kantor perusahaan dan terdakwa berjalan ke ruang kasir menuju ke ruang brangkas penyimpanan uang yang mana terdakwa beralasan kepada petugas keamanan hanya mau memperbaiki data perusahaan yang hilang dan merapikan uang yang telah terdakwa simpan di dalam brangkas penyimpanan.

Sekira lebih kurang empat puluh menit berada di dalam ruangan tersebut, kemudian terdakwa keluar dan pulang. Selanjutnya pada hari Selasa (8/1), supervisor perusahaan melakukan pengecekan ataupun pemeriksaan pembukuan administrasi keuangan dan fisik uang.

Dalam pengecekan atau pemeriksaan administrasi dan keuangan tersebut didapat jumlah saldo kas akhir perusahaan sesuai dengan pembukuan administrasi keuangan adalah sebesar Rp. 364 juta yang dihitung berdasarkan realisasi penagihan piutang dan pengeluaran perusahaan sejak tanggal 12 Desember 2018 sampai dengan 8 Januari 2019.

Kemudian dilakukan penghitungan fisik uang yang ada di dalam brangkas penyimpanan uang yang mana kunci dan brangkas penyimpanan uang tersebut hanya dipegang oleh terdakwa selaku kasir.

Dan sampai pada tanggal 8 Januari 2019 terdakwa tidak pernah memberikan kunci ataupun kode kunci pembuka brangkas penyimpanan kepada orang lain.

Dan saat itu fisik uang dilakukan pencocokan dengan jumlah penghitungan secara administrasi lalu didapati bahwa jumlah uang yang ada di dalam brangkas penyimpanan uang berjumlah Rp. 314.28.200.

Dengan demikian terdapat selisih atau kekurangan dari fisik uang tersebut sebesar Rp. 50.058.783. Melihat angka kekurangan tersebut, kemudian supervisor melaporkan hal tersebut.

Lalu dilakukan penghitungan kembali untuk mengetahui apakah terdapat kekeliruan dalam penghitungan uang atau tidak sehingga hasil akhir penghitungan ternyata jumlah uang dalam administrasi dengan jumlah uang secara fisik tidak sesuai dan masih terdapat kekurangan sebesar Rp. 50.058.783.

Bahwa akibat perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, PT Startmara Pratama dan PT PAN Baruna mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 50.058.783. (Rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *