Sabtu , 20 Juli 2019
Home » Berita Foto » Kasus Pembunuhan Pensiunan TNI AL di Tanjungpinang Mulai Disidangkan

Kasus Pembunuhan Pensiunan TNI AL di Tanjungpinang Mulai Disidangkan

Abdul alias Adul, terdakwa kasus pembunuhan pada seorang pensiunan TNI AL, Arnold Tambunan saat menjalani sidang perdana di PN Tanjungpinang, Selasa (9/7). Foto: Rindu Sianipar

Tanjungpinang, sidaknews.com – Kasus pembunuhan terhadap Arnold Tambunan, seorang pensiunan anggota TNI AL mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (9/7).

Sidang perdana dengan agenda pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini dipimpin majelis hakim Acep Sopian Sauri. Abdul alias Adul yang menjadi terdakwa dalam kasus ini juga dihadirkan di sidang.

Dalam dakwaan JPU yang dibacakan Nolly Wijaya dari Kejari Tanjungpinang ini mengatakan, jika kasus pembunuhan ini bermula saat M Rasyid (Almarhum) memiliki utang kepada korban senilai Rp 30 juta.

“Lalu, korban menagih hutang tersebut pada M Rasyid. Namun, saat menagih, korban dinilai menggunakan kata-kata kasar hingga menimbulkan sakit hati dan kesal pada saudara M Rasyid,” papar Nolly.

Pada tanggal 17 Agustus 2018 lalu, sambung JPU, korban menghubungi M Rasyid untuk menagih hutang hingga direncanakan pagi hari keesokan harinya keduanya bertemu di rumah toko (ruko) milik M Rasyid di Jalan Menur, Gang Menur No.15 RT 005 RW 009 Kelurahan Sei Jang, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang.

Pada malam harinya, M Rasyid menyusun rencana menghabisi nyawa Arnold. M Rasyid meminta bantuan terdakwa Abdul yang merupakan anak buahnya di usaha jasa penyewaan tenda.

Rencana M Rasyid tersebut sempat ditolak Abdul karena beralasan beresiko karena menghilangkan nyawa orang. Namun, M Rasyid membujuk Abdul dengan mengimingi terdakwa uang senilai Rp 20 juta. Ditawari seperti itu, akhirnya Abdul bersedia.

“Ok Chip (panggilan Abdul ke M Rasyid),” ujar Abdul saat itu. Setelah itu, M Rasyid meminta Abdul menginap di ruko miliknya.

Keesokan harinya, Sabtu tanggal 18 Agustus 2018 sekira pukul 06.00 Wib, terdakwa sudah menunggu di atas sambil berpindah-pindah dari arah belakang dan kedepan ruko sambil melihat kedatangan dari  korban untuk melaksanakan sesuai dengan yang direncanakan pada malam tanggal 17 Agustus 2018.

Sekira pukul 07.30 Wib, ketika terdakwa berada di depan ruko lantai II, terdakwa melihat kedatangan korban dengan menggunakan sepeda motor, lalu memakirkannya.

Kemudian korban berjalan menuju ke arah belakang ruko tepatnya di bawah tempat duduk yang mempunyai atap parabola. “Ketika korban berjalan ke arah belakang ruko tersebut, terdakwa secara diam-diam menyusul dan mengikuti arah dari korban,” papar JPU.

Sekira pukul 07.35 Wib, korban bertemu dengan Rasyid, keduanya terlibat perbincangan di bawah atap tersebut. Perbincangan seputar hutang tersebut didengarkan Abdul.

Saat tengah berbincang, saat itu M Rasyid memukul korban dengan menggunakan sebatang besi hingga korban terjatuh dari bangku yang didudukinya saat itu.

Beberapa kali M Rasyid memukul korban hingga terjatuh. Korban saat itu berusaha menghalangi pukulan dengan menggunakan kedua tangannya dan berusaha lari.

Karena berusaha lari, M Rasyid mengejar korban. Bersamaan dengan itu, terdakwa Abdul turun dari lantai II ruko dan ikut serta mengejar  korban sambil membawa sebatang besi dengan ukuran ¾ cm tersebut.

Setelah itu, keduanya secara bersama-sama memukul badan korban beberapa kali dengan menggunakan sebatang besi hingga akhirnya korban meninggal dunia.

Setelah memastikan korban meninggal, lalu jenazah korban dimasukkan keduanya ke sebuah septic tank yang berada di sekitar ruko milik M Rasyid tersebut.

Jenazah korban baru ditemukan anggota Polres Tanjungpinang setelah sekitar enam bulan pasca kejadian yakni tanggal 14 Februari 2019 lalu.

Dalam dakwaan JPU, terdakwa Abdul didakwa dengan Pasal 340 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP tentang pembunuhan berencana dalam dakwaan primer. Dan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan jo Pasal 170 Ayat 2 ke- 3 KUHP tentang penganiayaan dalam dakwaan subsidair.

Atas dakwaan tersebut, terdakwa Abdul yang didampingi kuasa hukumnya tidak keberatan dan mengatakan agar persidangan dilanjutkan.

Usai JPU membacakan seluruh isi dakwaannya, sidang kemudian ditutup dan akan dilanjutkan minggu depan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. (Rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *