Sabtu , 20 Juli 2019
Home » Daerah » Aceh » Banda Aceh » Ketua Satgas PPA: Mobil Penyedot Lumpur PUPR Banda Aceh Jarang Dioperasikan?

Ketua Satgas PPA: Mobil Penyedot Lumpur PUPR Banda Aceh Jarang Dioperasikan?

Banda Aceh, sidaknews.com – Ketua Lembaga Satuan Pemantau Percepatan Pembangunan Aceh (SATGAS PPA), Mustafa Abdullah. SE, melalui Koordinator lapangan, (Koorlap) Razali menyoroti penggunaan sebuah mobil penyedot lumpur (Combi Jetter).

Pasalnya, sejak mobil bantuan Kementerian PUPR Pusat, melalui Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan dan Pemukiman (PPLP) Ditjen Cipta Karya, menyerahkan kepada Pemerintah Kota Banda Aceh pada tahun 2016 yang diperuntukan kepada PUPR Kota Banda Aceh tersebut dinilainya jarang dioperasikan.

Padahal, Mobil Combi Jetter ini sangat mendukung dan memudahkan PUPR Banda Aceh untuk penyedotan lumpur yang ada di drainase karena tidak lagi melakukan secara manual yang terkadang menyebabkan di sepanjang jalan kerap ditemui goni lumpur berserakan hingga menebar bau tak sedap dan dikeluhkan oleh pedagang selama ini.

“Oleh karena itu SATGAS PPA berharap kepada Pemko melalui Dinas PUPR Banda Aceh, agar mobil Combi Jetter tersebut untuk digunakan secara maksimal, sebab mobil bantuan tersebut jarang difungsikan,” kata Razali kepada sidaknews.com, Jum’at (12/07).

Dihubungi terpisah, Ir Gusmeri MT, Plt Kadis PUPR Kota Banda Aceh, melalui Fernanda, Kabid Sumber Daya Air membantah keras tudingan SATGAS PPA mengenai mobil Combi jetter yang dinilai mobil tersebut jarang dioperasikan.

Dia menyebutkan, jika hampir setiap hari mobil penyedot lumpur tersebut dioperasikan. “Memang tidak semua tempat kita lakukan penyedotan dengan mengunakan mobil Combi itu, terutama kawasan padat sampah, dan daerah berbatuan tidak bisa kita gunakan penyedotan.

Bila kita paksa di sembarang tempat, maka bisa terjadi kerusakan, dan bahan (sparepart-red), seperti selang lampu indicator mobil combi jetter tersebut tidak dijual di Indonesia, jika terjadi kerusakan maka bahannya harus kita pesan ke luar,” kata Fernanda membantah kritikan SATGAS PPA Aceh tersebut.

Lagipun mobil itu hanya satu, dan tidak mungkin bisa kita gunakan di seluruh gampong yang berada di kota Banda Aceh,” tambahnya.

Ia mencontohkan, mobil tersebut sudah dipergunakan seperti di Jalan Perdagangan Ujung, Jln Diponegoro, bahkan sebelumnya di Jalan Hasan Saleh, Neusu, Kota Banda Aceh, Rabu, 10 Juli 2019 lalu.

“Artinya hampir setiap hari mobil ini beroperasi. Jadi tidak benar kalau dikatakan kurang beroperasi,” terang Fernanda.

“Untuk kawasan yang tidak terjangkau, tidak mungkin kita gunakan mobil ini. Tentunya kita kerja secara manual untuk drainase yang berbatuan dan lumpur bercampur padat dengan benda-benda keras,  lebih maksimal kita gunakan secara manual,” cetus Fernada. (Dicky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *