Minggu , 18 November 2018
Home » Berita Foto » Pagelaran Wayang di Purwakarta Tampilkan Kisah “Perang Bubat”

Pagelaran Wayang di Purwakarta Tampilkan Kisah “Perang Bubat”

Bupati
Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi bersama para dalang pada pagelaran wayang golek di alun-alun Maya Datar Purwakarta, Sabtu (11/4) malam. Foto: Ist 

Purwakarta, sidaknews.com – Pagelaran wayang golek biasanya mengangkat cerita Babad Yang diadopsi dari India seperti mahabrata atau Ramayana, di dalamnya ada kisah perseteruan antara kerajaan Alengkadirja dan Astina.

Sosok wayang yang diperankannya pun nampak populer, ada Pandawa lima, Punakawan keluarga Semar dan lainnya. Namun, Sabtu malam kemarin (11/04) di alun-alun Maya Datar Purwakarta, pagelaran wayang golek nampak berbeda.

Selain cerita yang diangkat adalah sejarah masa lalu Sunda pada saat perang bubat, kemasannyapun dikolaborasi dengan sastra dan tarian kolosal yang juga menceritakan perang bubat.

Tak tanggung, tiga dalang sohor dari tanah Sunda dihadirkan, mereka adalah Dadan Sunandar Sunarya, Yogaswara Sunandar Sunarya dan Awan Dede Amung Sutarya. Dalang wayang kulit sekelas Sudjiwo Tedjo pun ikut meramaikan pagelaran ini, termasuk sastrawan Iman Soleh, pelawak Sunda Si Ohang, Seniman tari dari Purnayudha dan musik pengiring Emka 9.

IMG_5053Tentu saja, tak ketinggalan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi yang langsung menyutradarai pagelaran ini. Dedi sengaja mengangkat kisah perang Bubat yang menurutnya bukan bermaksud membuka kembali aib perseteruan antara Sunda (Galuh) dan Majapahit.

Tapi, sejarah menurut Dedi tidak boleh ada yang ditutupi, karena dari sejarah menurutnya bisa belajar memahami kekurangan dan kelebihan kita. Ia mengatakan, tidak ada kesempurnaan dalam setiap perjalanan generasi peradaban. Karenanya, setiap hal yang terjadi harus diambil hikmahnya.

“Malam ini, kita coba mengungkap sejarah tabu untuk dibicarakan. Perang bubat, perang yang melahirkan kebencian. Tapi, kebencian itu adalah cerita masa lalu dan perangnya jadi ungkapan cinta pada kepemimpinan masa itu,” ungkap Dedi memulai pagelaran.

Dedi pun sempat mengungkapkan empat tokoh yang berperan besar dalam tragedi perang bubat. Diantaranya Raja Galuh Prabu Linggabuana, putrinya Diah Pitaloka Citra Resmi, Mahapatih Majapahit Gajah Mada dan Maharaja Majapahit Hayam Wuruk.

IMG_5054Keempatnya, menurut Dedi memiliki warna karakter kepribadian yang bisa diambil hikmah positifnya dalam tragedi perang bubat ini. “Linggabuana dengan cinta kasihnya bersedia menjalin silaturahim Sunda dan Majapahit melalui pernikahan putrinya dengan Hayam Wuruk, walau harus pihak mempelai wanita yang datang ke majapahit.

Begitupun, Citraresmi berani mengorbankan dirinya dengan bunuh diri demi kehormatan bangsanya, daripada harus jadi upeti tanda takluk Galuh oleh majapahit. Gajah Mada tumbuh perkasa menjaga keutuhan Majapahit sebagai bingkai nusantara melalui sumpah Palapa dan cikal bakal bangsa kita.

Lalu Hayam Wuruk adalah ekpresi cinta seorang raja yang tetap mencintai puteri Sunda Diah Pitaloka, sekalipun Diah Pitaloka bunuh diri. Dari keempat tokoh ini maka pagelaran malam ini kita beri judul Bubat Dalam ‘Mabuk’ Empat Warna”,” ungkap Dedi.

Dalang wayang kulit yang juga budayawan Mbah Sudjiwo Tedjo menyebut Bupati Dedi cukup berani mengambil tema pagelaran ini, karenanya memang sangat sensitif bagi dua suku besar di Indonesia.

Namun, menurutnya masa lalu bukan untuk dibesar-besarkan nilai negatifnya, tapi sisi positif menjadi penting agar kita bisa bercermin untuk kemudian hari. “Masa lalu adalah masa lalu yang suram karena Perang Bubat. Semoga alam ini semuanya selesai bahwa dalam perang itu tak ada yang salah dan tak ada yang benar,” ujar Sudjiwo Tedjo dalam syair puisinya.

Pagelaran ini cukup menyedot perhatian ribuan pengunjung yang hadir menyaksikan. Selain warga Purwakarta, ada juga yang datang dari luar daerah Purwakarta. Termasuk beberapa selebritis tanah air seperti Dicky Candra yang nampak datang bersama keluarganya.

Adapula Anggota DPR RI yang juga artis Krisna Mukti. Pagelaran juga diakhiri dengan penampilan Charly Van Houten, penyanyi sekaligus pencipta lagu ini membawakan 2 hits nya yang menjadi klimaks dari pagelaran malam itu.(Ega Nugraha/hum)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *