Senin , 22 April 2019
Home » Berita Foto » Panorama Alam Pantai Karona Mandailing Natal yang Tersembunyi Membuat Wisatawan Kagum

Panorama Alam Pantai Karona Mandailing Natal yang Tersembunyi Membuat Wisatawan Kagum

Keindahan Sunset di Pantai Karona yan berada desa Sundutan Tigo (Taluk Balai), Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut).

Madina, sidaknews.com – Keindahan Sunset di Pantai Karona, Bikin Wisatawan Kagum Bagi para penggila foto selfie yang hobby dan suka keindahan sunset di pantai, untuk melihat Ribuan keindahan Sunset di sebuah pantai ini, maka ada salah satu pantai yang sangat kami rekomendasikan untuk Anda kunjungi dan lokasinya berada di desa Sundutan Tigo (Taluk Balai), Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut).

Alam Panorama ini bagaikan Memiliki ribuwn keindahan yang tersembunyi dan minimnya pemkab madina membuka akses kesana untuk berkunjung ke lokasi wisata tersebut.

Bagi masyarakat yang sudah sampai ke tempat itu disarankan agar tidak lupa pulang. Pasalnya, keindahan pantai yang berdindingkan pulau-pulau kecil menambah keindahan panorama yang bisa langsung dirasakan oleh para pengunjung dan wisatawan domestik dan luar negeri . Pasir putih menjadikan para pecinta sunset untuk berlama-lama duduk di pinggir pantai sembari menghitung mundur waktu sunset.

Tak heran, berbagai kegiatan masyarakat menunggu matahari terbenam terlihat di tempat itu. Mulai dari menghitung mundur waktu terbenam matahari, mandi laut hingga selfie-selfie untuk mengabadikan matahari terbenam. Keceriaanpun bertambah, ketika matahari sudah terbenam. Berbagai cerita langsung terdengar dari para pengunjung.

Banyak pengunjung yang nekat menyeberang ke pulau-pulau terdekat untuk mengabadikan momen matahari terbenam. Untuk ke pulau, para pengunjung harus menaiki perahu yang sengaja disedikan oleh warga.

Perasaan lelah hilang seketika pada saat sampai ke tampat itu. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan Pantai Karona, membutuhkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama empat jam dari Kota Padangsidimpuan dan Panyabungan. Para pengunjung juga disarankan agar membawa kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor, karena mobil sewa terkesan masih jarang.

Apabila berangkat dari Kota Padangsidimpuan, alangkah lebih baiknya melewati jalur Pantai Barat. Para pengunjung terlebih dahulu harus melewati daerah Batangtoru, Simataniari, Rianiate, Danau Siais, Kabupaten Tapanuli Selatan. Perjalanan akan semakin dekat terasa ketika memasuki Desa Batumundom, yang menjadi perbatasan antara Kabupaten Mandailing Natal dan Tapsel.

Dari Batumundom, para pecinta sunset hanya membutuhkan 1 jam perjalanan. Sebelum sampai ke tampat itu, pengunjung akan melewati sejumlah desa seperti, Sikapas, Singkuang dan yang terakhir Tabuyung. Perjalanan menuju ke Pantai Karona dijamin tidak akan membosankan, karena ada berbagai lokasi yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi sebelum sampai.

Sebut saja Batu Baduan di Desa Sikapas dan Batu Rusa Indah di Desa Tabuyung. Kedua tempat itu juga layak dianggap menjadi ikon wisata di Kabupaten Mandailing Natal. Sayangnya, pemerintah setempat kurang peduli terhadap keindahan alam. Namun, penulis saat ini hanya mempunyai kesempatan untuk menulis tentang keindahan Pantai Korana.

Pantai Karona dipadati warga apabila hari-hari libur. Umunya, pengunjung banyak yang datang dari Kota Padangsidimpuan, Sibolga, Panyabungan bahkan dari Sumatera Barat. Hasan (47), salah seorang pengunjung asal Air Bangis, Sumatera Barat mengaku, untuk datang ke tempat tersebut, dia bersama istri dan tiga orang anaknya harus menempuh perjalanan 6-7 jam.

Pantai Korana menurutnya memiliki sesuatu yang unik dan tidak ditemukan di wilayah Sumatera. Bagaimana tidak, di bibir pantainya terdapat banyak pulau sea-akan-akan menjadi dinding pantai.”Air lautnya juga dangkal, jadi anak-anak bisa bermain,”imbuhnya.
desa Sundutan Tigo (Taluk Balai), Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut).
Ketika ditanya tentang darimana dia dan keluarganya tau tempat itu, laki-laki berwana kulit sawu matang itu mengaku mendapat cerita dari keluarganya yang pernah berkunjung ke tempat itu. Sayangnya, sampai saat ini belum ada hotel atau jasa penginapan yang tersedia di tempat itu.”Kami menginap di Natal, karena di tempat itu ada hotel,”tandasnya. (efendi jambak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *