Sabtu , 25 Mei 2019
Home » Berita Foto » Polda Jabar Amankan Seorang Pria Terkait Kasus Ujaran Kebencian

Polda Jabar Amankan Seorang Pria Terkait Kasus Ujaran Kebencian

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko saat merilis sebuah kasus dugaan ujaran kebencian, Selasa (14/5). Foto: Humas Polda Jabar

Bandung, sidaknews.com – Jajaran Polda Jawa Barat mengamankan seorang pria berinisial IAS (49) yang menjadi tersangka kasus dugaan ujaran kebencian melalui sebuah postingan di media sosial.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, IAS diamankan berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/165/A/V/2019/JABAR/RES CRB, tanggal 12 Mei 2019.

“Waktu kejadian, Minggu 12 Mei 2019, TKP yakni Kota Cirebon,” terang Truno dalam rilis yang diterima sidaknews.com, Selasa (14/5).

Truno menjelaskan kronologi singkat kejadian kasus dugaan ujaran kebencian tersebut, berawal sekira Hari Minggu, 12 Mei 2019 jam 18.00 Wib didapati adanya unggahan sebuah video berdurasi 1:53 detik di media sosial facebook dengan sebuah akun dengan isi konten yang diduga berisi ujaran kebencian.

Selain itu, lanjut Truno, dalam video tersebut disertai adanya kalimat-kalimat yang diduga memprovokasi untuk membenturkan institusi TNI dengan Polri.

“Adapun unggahan diposting berulang sebanyak 3 kali di akun yang sama dan telah mendapat 4 komentar serta 21 kali dibagikan kembali oleh pemilik akun lainnya serta didapati foto penyerta dari video berupa capture surat dengan dibuat judul,” kata Truno.

“Video diproduksi sendiri dengan menggunakan handphone milik pribadi, selanjutnya diposting di media sosial facebook dengan akses terbuka sehingga postingan status tersebut dapat dilihat oleh seluruh pengguna akun media sosial facebook,” tambah Truno.

Truno menambahkan, tersangka akan dijerat dengan Pasal 45a Ayat (2) Jo Pasal 28 Ayat (22) UU No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan terhadap UU No. 11 tahun 2008 tentang ITE dan/atau Pasal 14 Ayat (1) dan Pasal 15 UU No.1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

“Dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda paling banyak dua milyar rupiah,” ujar Truno. (Rudi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *